Anime Diteliti sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 21:29 WIB 2
Anime Diteliti sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini dikenal sebagai hiburan populer kini diuji untuk peran yang lebih serius di Jepang, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari Francesco Panto, psikiater asal Italia yang lama tinggal di Jepang, melalui penelitian tentang konseling berbasis karakter anime. Studi tersebut menyoroti potensi anime untuk mendampingi orang yang mengalami stres, burnout, hingga depresi. Pendekatan ini juga muncul di tengah tingginya stigma masyarakat Jepang terhadap pencarian bantuan psikologis.

Dalam proyek yang dijalankan di Yokohama City University, Francesco dan timnya menguji model konseling online dengan avatar anime. Sebanyak 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun yang menunjukkan gejala depresi dilibatkan dalam studi percontohan selama enam bulan. Peserta berinteraksi dengan psikolog yang tampil sebagai karakter bergaya anime, lengkap dengan suara digital yang dimodifikasi. Hasil awal penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan apakah pendekatan tersebut lebih nyaman diterima oleh generasi muda.

Anime dan Kesehatan Mental

Francesco mengaku ketertarikannya pada anime berawal dari pengalaman pribadi saat remaja di pedesaan Sisilia, Italia. Ia menyebut manga dan anime sebagai tempat berlindung ketika kesulitan menemukan jati diri. Pengalaman itu membuatnya melihat bahwa karakter fiksi dapat memberi dukungan emosional yang nyata bagi sebagian orang. Dari sana, ia mulai memikirkan kemungkinan penggunaan anime dalam konteks terapi.

Menurut Francesco, lingkungan tempat ia tumbuh sarat stereotip soal gender dan ekspresi diri. Situasi itu berubah ketika ia mengenal video game Final Fantasy saat berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Karakter protagonis pria dalam gim tersebut terasa dekat dengannya karena tampil maskulin, tetapi tetap memiliki sisi yang khas. Kesan itu kemudian memperkuat keyakinannya bahwa karakter fiksi dapat menjadi medium yang relevan untuk pendekatan kesehatan mental.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Francesco menyusun penelitian eksperimental mengenai terapi berbasis karakter anime. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak sekadar memanfaatkan estetika visual, tetapi juga membangun rasa aman melalui figur yang terasa akrab. Dalam pandangannya, lapisan fantasi dapat membantu peserta lebih terbuka saat membahas masalah psikologis. Dengan cara itu, sesi konseling berpeluang terasa lebih ringan tanpa mengurangi substansi terapi.

Metode Konseling Berbasis Karakter

Proyek bertajuk character-based counselling ini memakai format konseling online yang berbeda dari terapi konvensional. Peserta tidak bertemu psikolog dalam tampilan biasa, melainkan melalui avatar anime dengan suara yang telah dimodifikasi secara digital. Tim peneliti menilai pendekatan ini dapat mengurangi hambatan awal ketika seseorang merasa canggung membuka diri. Dengan demikian, interaksi awal diharapkan lebih mudah diterima oleh responden muda.

Dalam penelitian tersebut, tim menciptakan enam karakter khusus dengan latar dan kepribadian yang berbeda. Ada figur dengan aura keibuan yang tenang namun membawa senjata, hingga karakter pria bergaya pangeran berjubah yang sangat peka secara emosional. Semua tokoh itu terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang agar terasa familiar bagi peserta. Responden juga diberi kebebasan memilih karakter yang paling mereka rasa sesuai dengan diri mereka.

Francesco menegaskan bahwa setiap karakter dirancang memiliki perjuangan mental tertentu. Salah satunya adalah Kuroto Nagi yang digambarkan memiliki ciri-ciri bipolar. Karakter lain membawa isu gangguan kecemasan, trauma pascakejadian traumatis, hingga masalah konsumsi alkohol. Meski mengangkat tema berat, para karakter tetap dibuat menyenangkan dan menarik agar tidak terasa mengintimidasi.

Harapan dari Penelitian Anime

Dalam tahap awal, para peneliti tidak hanya menilai percakapan antara peserta dan psikolog. Mereka juga memantau detak jantung serta pola tidur peserta untuk melihat dampak terapi terhadap kondisi fisik dan psikologis. Pengukuran itu digunakan untuk menilai apakah pendekatan ala anime benar-benar layak diterapkan. Tim berharap data yang terkumpul dapat menunjukkan potensi pengurangan gejala depresi secara lebih objektif.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek ini, mengatakan penelitian tersebut sejalan dengan upaya Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental. Ia menyoroti istilah ikizurasa, yakni kondisi ketika seseorang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan di masyarakat. Menurutnya, banyak anak muda di Jepang yang kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Karena itu, diperlukan pilihan baru yang bisa membantu mereka pulih dari tekanan hidup.

Penelitian ini juga menempatkan isu kesehatan mental dalam konteks sosial yang lebih luas di Jepang. Mio menilai stigma masih menjadi penghalang besar bagi masyarakat untuk mencari bantuan profesional. Data World Economic Forum yang ia kutip menunjukkan bahwa hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang pernah menggunakan layanan konseling psikologis. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Stigma dan Peluang Baru

Rendahnya pemanfaatan layanan konseling menunjukkan masih ada jarak antara kebutuhan dan keberanian untuk mencari bantuan. Dalam situasi seperti itu, pendekatan yang terasa lebih ramah dan familiar dapat membuka pintu baru. Anime, yang sudah akrab di kalangan masyarakat Jepang, dinilai memiliki daya tarik emosional yang kuat. Hal ini membuatnya berpotensi menjadi jembatan menuju layanan kesehatan mental yang lebih formal.

Meski demikian, para peneliti tetap berhati-hati agar karakter anime tidak menggantikan peran psikolog secara penuh. Fokus penelitian ini adalah menciptakan suasana yang lebih nyaman untuk memulai percakapan tentang masalah mental. Jika terbukti efektif, model tersebut dapat menjadi pelengkap terapi konvensional, bukan pengganti. Pendekatan itu juga diharapkan membantu orang yang semula enggan berkonsultasi secara langsung.

Francesco berharap hasil penelitian ini dapat mengonfirmasi bahwa terapi berbasis karakter memiliki nilai praktis. Ia menilai, ketika pasien merasa lebih aman, proses mengenali persoalan mental bisa berjalan lebih mudah. Dari sisi inovasi, pendekatan ini menunjukkan bagaimana budaya populer dapat dipakai untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat. Jepang kini menjadi salah satu negara yang mencoba membaca ulang peran anime, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat pemulihan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!