Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 21:31 WIB 3
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga dapat memicu keluhan fisik seperti perut kembung dan begah. Menurut para ahli, kondisi ini bisa terjadi meski pola makan seseorang tidak berubah. Hubungan antara otak dan usus membuat sistem pencernaan sangat sensitif terhadap tekanan emosional.

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menjelaskan bahwa usus sering disebut sebagai otak kedua manusia karena dipengaruhi sistem saraf. Ia menilai, kondisi emosional dapat tercermin langsung pada kerja pencernaan. Saat stres meningkat, tubuh dapat bereaksi dengan mengubah cara makanan diproses.

Stres dan Kembung

Sistem saraf enterik berperan besar dalam mengatur saluran pencernaan dan menjadi penghubung antara kondisi saraf serta fungsi pencernaan. Ketika tubuh menerima sinyal bahaya, sistem ini dapat mengubah ritme kerja organ pencernaan. Akibatnya, proses cerna yang biasanya berjalan normal menjadi terganggu.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menyebut tubuh manusia umumnya berada dalam dua kondisi sistem saraf, yaitu fight-or-flight dan rest-and-digest. Pada saat stres, tubuh menganggap ada ancaman dan melepaskan hormon seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin. Respons ini membuat tubuh bersiap menghadapi bahaya, bukan memprioritaskan pencernaan.

Dalam kondisi tersebut, aliran darah dialihkan dari sistem pencernaan ke otot-otot agar tubuh siap bergerak. Kontraksi otot pencernaan menurun, begitu pula produksi sekresi pencernaan. Makanan akhirnya lebih lama berada di perut dan lebih mudah menimbulkan penumpukan gas.

Penyebab Tubuh Bereaksi

Secara fisiologis, stres membuat sistem pencernaan bekerja tidak optimal karena tubuh fokus pada mekanisme perlindungan diri. Saat itu, makanan tidak dipecah dengan baik dan proses pengosongan lambung bisa melambat. Kondisi ini membuat perut terasa penuh, tidak nyaman, dan tampak membesar.

Ditkoff menjelaskan bahwa gas lebih mudah terperangkap ketika makanan bertahan terlalu lama di saluran cerna. Situasi inilah yang kemudian memicu sensasi kembung dan begah. Pada sebagian orang, keluhan dapat disertai rasa mual, kram perut, atau bahkan diare.

Respons tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang, karena ada yang lebih sensitif terhadap perubahan emosi. Sebagian orang justru kehilangan nafsu makan, sementara lainnya makan lebih banyak sebagai respons terhadap tekanan. Perbedaan reaksi ini menunjukkan bahwa stres memengaruhi tubuh secara individual.

Cara Meredakan Kembung

Salah satu langkah utama untuk mengurangi kembung akibat stres adalah mengembalikan tubuh ke fase rest-and-digest. Pada fase ini, hormon stres tidak melonjak, aliran darah kembali lancar, dan kerja otot pencernaan lebih seimbang. Tubuh pun lebih siap mencerna makanan dengan baik.

Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam kondisi tenang, karena suasana hati sangat memengaruhi proses cerna. Meski demikian, tidak makan sama sekali saat stres juga bukan pilihan yang baik. Keduanya perlu dihindari agar sistem pencernaan tetap stabil.

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu tubuh kembali rileks, seperti menarik napas dalam, memperlambat tempo makan, dan memberi jeda sebelum menyantap makanan. Jika perlu, seseorang juga bisa berjalan ringan atau beristirahat sejenak untuk menurunkan ketegangan. Langkah kecil ini membantu tubuh beralih dari mode siaga ke mode pemulihan.

Kapan Harus Waspada

Kembung akibat stres umumnya bersifat sementara dan akan membaik ketika tekanan emosional mereda. Namun, keluhan yang muncul berulang tetap perlu dicermati, terutama bila disertai nyeri hebat atau perubahan pola buang air besar. Kondisi tersebut dapat menandakan masalah pencernaan yang lebih serius.

Jika kembung sering kambuh saat stres meningkat, hal itu bisa berkaitan dengan gangguan pencernaan kronis yang sensitif terhadap perubahan emosi. Dalam kasus seperti ini, penanganan tidak cukup hanya dengan mengubah pola makan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab utamanya.

Mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pencernaan jangka panjang. Pola tidur yang cukup, aktivitas fisik teratur, dan kebiasaan makan yang tenang dapat membantu menekan risiko keluhan. Dengan pendekatan yang tepat, tubuh lebih mudah menjaga keseimbangan antara pikiran dan sistem cerna.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!