Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62% di Inacraft 2025

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 08:20 WIB 2
Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62% di Inacraft 2025

Omzet 32 UMKM binaan PT Pertamina (Persero) yang tampil di Inacraft 2025 naik hampir 62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selama lima hari pameran di Jakarta, produk wastra, kriya, fesyen, kuliner, hingga co-branding itu berhasil menarik perhatian pengunjung dan pembeli dari dalam maupun luar negeri.

Kenaikan tersebut menunjukkan penguatan daya saing pelaku usaha kecil yang dibina Pertamina terus membuahkan hasil. Pameran yang berlangsung pada 5 Oktober itu juga menjadi ruang bagi UMKM untuk memperluas jejaring, membuka peluang ekspor, dan meningkatkan kapasitas usaha.

Omzet UMKM binaan Pertamina naik

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menyebut peningkatan omzet sebagai bukti kualitas produk UMKM binaan yang makin kompetitif. Menurut dia, Pertamina tidak hanya mendorong promosi, tetapi juga memperkuat kapasitas usaha agar pelaku UMKM siap bersaing di pasar nasional dan global.

Selama lima hari pameran, 32 UMKM binaan Pertamina terlibat aktif dalam berbagai kategori produk. Mereka berasal dari sektor wastra, kriya, fesyen, kuliner, hingga co-branding, sehingga ragam produk yang ditampilkan cukup luas dan menarik.

Partisipasi tersebut memberi dampak langsung terhadap transaksi, jejaring usaha, dan eksposur merek. Bagi banyak pelaku UMKM, ajang ini menjadi momentum untuk membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing di etalase nasional yang bergengsi.

Batik Mata Andau mencuri perhatian

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Batik Mata Andau asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha rumahan yang dirintis Yoga Rustaman bersama istrinya sejak 2017 itu membawa misi mengenalkan batik khas Dayak kepada masyarakat luas.

Dalam pameran tersebut, Batik Mata Andau melibatkan 20 pengrajin, yang sebagian besar merupakan perempuan berusia di atas 50 tahun. Produk unggulannya berupa outer bermotif Dayak terjual lebih dari 800 potong hanya dalam hitungan hari.

Produk mereka juga diminati pembeli dari Korea, Jepang, hingga Turki. Bahkan, salah satu BUMN transportasi mempercayakan pembuatan seragam bernuansa budaya Nusantara kepada usaha tersebut.

Smart Batik dorong inovasi hijau

Kisah serupa datang dari Smart Batik Yogyakarta yang memperkenalkan inovasi Batik Sawit. Kain batik ramah lingkungan itu memadukan kearifan lokal dengan pendekatan teknologi hijau yang semakin relevan dengan pasar saat ini.

Founder Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, menilai pameran bersama Pertamina membuka banyak peluang kolaborasi baru. Ia menyebut pertemuan dengan sejumlah tokoh, termasuk Duta Besar RI untuk Meksiko Toferry Primanda Soetikno, menjadi tambahan nilai bagi pengembangan usaha.

Saat ini Smart Batik memberdayakan 65 ibu-ibu pembatik di Yogyakarta. Model usaha ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan manfaat sosial melalui pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi kreatif.

Dukungan UMKM sejalan dengan Asta Cita

Pertamina menegaskan dukungan terhadap UMKM sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran poin ketiga. Fokusnya adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat industri kreatif, dan menumbuhkan kewirausahaan melalui pelatihan serta akses permodalan.

Perseroan menilai keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besarnya transaksi penjualan. Dampak sosial, budaya, dan keberlanjutan usaha juga menjadi indikator penting dalam menilai kemajuan pelaku UMKM binaan.

Fadjar menutup dengan menegaskan bahwa penguatan UMKM merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Melalui pameran dan pendampingan berkelanjutan, Pertamina berharap lebih banyak UMKM Indonesia mampu naik kelas dan menembus pasar lebih luas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!