Jeroan Lebih Berisiko Picu Kolesterol Saat Idul Adha

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 09:41 WIB 3
Jeroan Lebih Berisiko Picu Kolesterol Saat Idul Adha

Olahan jeroan seperti sate hati, gulai babat, dan paru goreng kerap menjadi hidangan favorit saat Idul Adha. Di tengah tradisi berbagi daging kurban, banyak orang juga mempertanyakan dampaknya terhadap kolesterol dan asam urat.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menjelaskan bahwa jeroan memang merupakan bagian hewan yang paling berisiko meningkatkan kadar kolesterol dan asam urat. Ia menegaskan, risiko itu biasanya muncul ketika konsumsi dilakukan berlebihan dalam pola makan yang tidak terkontrol.

Jeroan dan risiko kesehatan

Menurut dr Aru, jeroan menjadi bagian hewan yang paling banyak memicu kenaikan kolesterol dan asam urat. Hal itu berkaitan dengan kandungan purin yang lebih tinggi dibandingkan daging biasa.

Purin dapat dipecah tubuh menjadi asam urat, sehingga konsumsi jeroan berlebih berpotensi meningkatkan risikonya. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat memicu keluhan gout atau nyeri sendi yang kambuh.

Karena itu, jeroan sebaiknya tidak dikonsumsi dalam porsi besar, terutama saat perayaan yang identik dengan hidangan daging. Pengaturan porsi menjadi kunci agar kenikmatan makanan tidak berubah menjadi masalah kesehatan.

Daging biasa tetap perlu dibatasi

Dr Aru menuturkan bahwa daging biasa tidak otomatis berbahaya bagi tubuh. Namun, konsumsi yang berlebihan tetap dapat meningkatkan kolesterol dan asam urat.

Artinya, daging sapi atau kambing masih bisa dinikmati selama jumlahnya wajar. Risiko biasanya muncul ketika asupan protein hewani dilakukan terus-menerus tanpa memperhatikan porsi.

Ia mengingatkan bahwa tubuh membutuhkan keseimbangan dalam pola makan. Karena itu, pilihan menu sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Pola makan saat Idul Adha

Momentum Idul Adha sering membuat pola makan berubah drastis karena banyaknya sajian berbasis daging. Dalam kondisi seperti ini, konsumsi berlebihan menjadi salah satu pemicu utama gangguan metabolik.

Dr Aru menyarankan agar masyarakat tetap makan seperti biasa dan tidak berlebihan. Prinsip sederhana ini dinilai penting untuk menjaga tubuh tetap nyaman setelah menyantap hidangan kurban.

Selain membatasi porsi, cara pengolahan juga perlu diperhatikan. Menu yang digoreng terlalu sering atau dimasak dengan banyak lemak dapat menambah beban kesehatan.

Temuan riset soal purin

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases menguatkan kaitan antara makanan tinggi purin dan serangan gout. Penelitian itu menemukan risiko serangan gout berulang dapat meningkat hampir lima kali lipat.

Dalam studi tersebut, sumber purin dari hewan, termasuk organ meats atau jeroan, menjadi perhatian utama peneliti. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis makanan yang dikonsumsi turut menentukan besarnya risiko kesehatan.

Temuan itu sejalan dengan penjelasan dokter bahwa jeroan perlu dikonsumsi secara terbatas. Dengan pengaturan yang tepat, masyarakat tetap bisa menikmati hidangan Idul Adha tanpa mengabaikan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!