Risiko Siber Perusahaan Meningkat di Tengah Transformasi Digital

Teknologi BRH 02 Juni 2026 11:02 WIB 2
Risiko Siber Perusahaan Meningkat di Tengah Transformasi Digital

Transformasi digital yang semakin masif di Indonesia dinilai ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menyebut ancaman kini berkembang semakin kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.

Temuan itu disampaikan dalam whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, yang menyoroti masih adanya resilience gap di banyak perusahaan. Kondisi ini terjadi ketika laju digitalisasi berjalan lebih cepat daripada kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.

Ketahanan Siber Jadi Fondasi Bisnis

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Menurut dia, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, melainkan bagian dari kepercayaan dan daya tahan perusahaan.

Ia menilai kebutuhan enterprise saat ini tidak lagi berhenti pada konektivitas dan teknologi. Perusahaan juga harus memiliki sistem keamanan siber yang adaptif dan terintegrasi untuk menghadapi ancaman modern.

Pandangan itu menunjukkan bahwa keamanan digital tidak dapat diperlakukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai elemen inti strategi bisnis. Tanpa kesiapan tersebut, perusahaan berisiko kehilangan kepercayaan pelanggan dan gangguan operasional yang lebih luas.

Di tengah percepatan ekonomi digital, ketahanan siber juga berkaitan erat dengan kemampuan perusahaan menjaga kontinuitas layanan. Karena itu, penguatan sistem keamanan perlu ditempatkan sejajar dengan agenda transformasi digital lainnya.

Ancaman Siber Semakin Kompleks

Whitepaper tersebut disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim, yang menyoroti perubahan karakter ancaman dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut serangan kini bergerak lebih cepat dan lebih sulit dideteksi karena memanfaatkan AI-enabled fraud dan teknologi deepfake.

Charles menilai organisasi perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai lebih relevan karena ancaman digital terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi.

Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Selain penipuan berbasis AI, ancaman ransomware juga terus meningkat dan menimbulkan gangguan nyata pada layanan publik. Serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 disebut sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik.

Kesiapan Perusahaan Masih Rendah

Indosat Business juga menyoroti rendahnya tingkat kesiapan organisasi di Indonesia dalam menghadapi ancaman keamanan siber modern. Mengacu pada Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025, hanya 11 persen organisasi yang dinilai siap.

Angka tersebut memperlihatkan masih lebarnya jarak antara kebutuhan perlindungan digital dan kemampuan implementasi di lapangan. Dalam situasi seperti ini, banyak perusahaan berpotensi menjadi target empuk bagi pelaku kejahatan siber.

Di sisi lain, kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar. Nilai itu menunjukkan bahwa insiden siber bukan hanya merusak sistem, tetapi juga membawa dampak finansial yang besar.

Kondisi ini menegaskan bahwa investasi keamanan digital semestinya dipandang sebagai perlindungan aset bisnis. Tanpa penguatan yang memadai, transformasi digital justru dapat membuka risiko baru bagi perusahaan.

UU PDP Dorong Respons Real Time

Indosat Business menyoroti implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP sebagai pendorong penguatan sistem keamanan perusahaan. Regulasi ini menuntut organisasi memiliki kemampuan monitoring dan respons keamanan siber secara real-time.

Dalam aturan tersebut, perusahaan juga wajib melaporkan insiden pelindungan data dalam waktu 72 jam. Ketentuan ini menuntut kesiapan operasional yang lebih disiplin, cepat, dan terukur.

Whitepaper itu turut membahas strategi penguatan seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Keduanya dinilai penting untuk menutup celah keamanan, baik dari sisi teknologi maupun perilaku pengguna.

Indosat Business berharap perusahaan melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari transformasi digital dan daya saing jangka panjang. Di tengah perkembangan AI dan ekonomi digital, kesiapan tersebut menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis di berbagai sektor strategis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!