OJK: IHSG Terkoreksi, Investasi Indonesia Tetap Prospektif

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 04:41 WIB 2
OJK: IHSG Terkoreksi, Investasi Indonesia Tetap Prospektif

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG saat ini tidak terlepas dari tekanan global yang masih membayangi pasar. Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Meski indeks melemah, Friderica menegaskan prospek investasi di Indonesia tetap menjanjikan dalam jangka panjang. Ia menilai fundamental ekonomi nasional masih solid dan didukung reformasi berkelanjutan di sektor pasar modal.

Friderica, yang akrab disapa Kiki, mengatakan OJK terus mendorong ketahanan sektor jasa keuangan melalui sejumlah langkah perbaikan. Menurut dia, penguatan ekosistem pembiayaan, pendalaman pasar keuangan, dan dukungan terhadap UMKM menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Pemerintah juga disebut memiliki program strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, ia meminta pelaku pasar tetap melihat arah pembangunan ekonomi Indonesia secara lebih luas.

IHSG Terkoreksi di Pasar Modal

Friderica menjelaskan bahwa koreksi IHSG terjadi di tengah dinamika pasar modal yang sedang menghadapi sejumlah tantangan. Ia menyebut kondisi itu juga dipengaruhi reformasi integritas yang sedang dijalankan di sektor pasar modal Indonesia. Selain itu, sentimen global ikut memberi tekanan pada pergerakan indeks. Kombinasi faktor tersebut membuat pasar saham domestik belum sepenuhnya stabil.

Dalam pandangannya, pelemahan indeks tidak serta-merta mencerminkan hilangnya daya tarik investasi di Indonesia. Ia menegaskan pasar modal harus dilihat dari perspektif jangka panjang, bukan hanya pergerakan harian. Investor, menurut dia, perlu memperhatikan arah fundamental ekonomi yang masih kuat. Dengan pendekatan itu, koreksi indeks dapat dibaca sebagai bagian dari siklus pasar.

OJK, kata Kiki, tetap menjaga agar pasar modal berjalan sehat dan berintegritas. Pengawasan dan reformasi internal terus dilakukan untuk memperkuat kepercayaan investor. Langkah tersebut dinilai penting agar pasar modal mampu menjadi sumber pembiayaan ekonomi yang andal. Di tengah volatilitas global, stabilitas regulasi menjadi salah satu kunci utama.

Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Friderica menilai fondasi ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang baik untuk mendukung pertumbuhan ke depan. Ia menyebut berbagai program strategis pemerintah akan mempercepat aktivitas ekonomi nasional. OJK pun berkomitmen meningkatkan daya tahan sektor jasa keuangan agar mampu menghadapi tekanan eksternal. Dengan demikian, ketahanan sistem keuangan diharapkan tetap terjaga.

Menurut dia, percepatan pertumbuhan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari sinergi kebijakan fiskal dan sektor keuangan. Kinerja fundamental yang sehat memberi ruang bagi pasar untuk pulih secara bertahap. Hal ini juga menjadi alasan OJK tetap optimistis terhadap prospek investasi domestik. Keyakinan tersebut ditopang oleh struktur ekonomi yang terus berkembang.

Kiki menekankan bahwa kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia harus dibangun dari data dan arah kebijakan yang konsisten. Ia meminta pelaku pasar tidak terpaku pada koreksi jangka pendek yang terjadi di bursa. Sejumlah indikator makro disebut masih menunjukkan ketahanan yang memadai. Karena itu, investasi di Indonesia tetap dipandang menarik bagi investor jangka panjang.

Fokus OJK Pada UMKM

Salah satu perhatian utama OJK adalah penguatan ekosistem dan pembiayaan UMKM. Friderica mengatakan lembaganya baru membentuk departemen khusus untuk pengembangan UMKM. Langkah itu diambil untuk memperluas akses pembiayaan bagi usaha kecil dan menengah. Sektor ini dianggap memiliki peran besar dalam menopang ekonomi nasional.

OJK menilai UMKM membutuhkan dukungan yang lebih terarah agar mampu naik kelas. Pembiayaan yang mudah dan berkelanjutan dinilai dapat meningkatkan produktivitas pelaku usaha. Di sisi lain, penguatan sektor ini juga membantu memperluas basis pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, kebijakan pembiayaan UMKM menjadi salah satu prioritas utama.

Kiki menjelaskan bahwa pengembangan UMKM bukan hanya soal kredit, tetapi juga ekosistem pendukung. Pelatihan, digitalisasi, dan akses pasar perlu berjalan beriringan agar hasilnya lebih optimal. OJK berharap pendekatan yang lebih komprehensif dapat memperkuat ketahanan pelaku usaha. Dengan cara itu, sektor riil dapat memberi kontribusi lebih besar bagi perekonomian.

Pendalaman Pasar Keuangan

Selain UMKM, OJK juga mendorong pendalaman pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Salah satu opsi yang diangkat adalah pengembangan obligasi daerah. Instrumen ini dinilai dapat membantu pemerintah daerah memperoleh pendanaan untuk proyek prioritas. Dengan skema yang tepat, obligasi daerah bisa menjadi alternatif pembiayaan yang lebih efisien.

Friderica menilai kebutuhan pembiayaan pembangunan di berbagai wilayah semakin besar. Karena itu, pasar keuangan harus mampu menyediakan instrumen yang beragam dan relevan. Penguatan pasar juga akan membantu menyerap kebutuhan dana jangka panjang. Dalam konteks tersebut, obligasi daerah berpotensi menjadi solusi yang strategis.

Ia menambahkan bahwa pengembangan ekonomi hijau dan keuangan digital yang aman turut menjadi perhatian OJK. Menurut dia, transformasi digital di sektor keuangan sudah menjadi kebutuhan utama. Tanpa dukungan keuangan digital, pengembangan layanan keuangan dinilai sulit berjalan optimal. OJK ingin memastikan inovasi tetap tumbuh, tetapi tetap dalam koridor integritas dan keamanan.

Tag Terkait
#IHSG#OJK#investasi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!