Mengenali Makanan yang Dikira UPF, Belum Tentu Tidak Sehat

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 01:23 WIB 2
Mengenali Makanan yang Dikira UPF, Belum Tentu Tidak Sehat

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan makin sering dibicarakan di media sosial, sehingga banyak makanan kemasan ikut dicap tidak sehat. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki karakteristik yang sama, baik dari sisi proses produksi maupun kandungan gizinya.

Sejumlah produk yang sehari-hari dikonsumsi, termasuk sarden kalengan dan susu UHT, kerap disangka sebagai UPF. Kenyataannya, status tersebut sangat bergantung pada komposisi, kadar tambahan, dan tingkat pemrosesan yang digunakan produsen.

Ultra-processed food dan penilaiannya

UPF adalah istilah yang merujuk pada makanan dengan proses industri tinggi dan biasanya mengandung banyak bahan tambahan. Bahan tersebut dapat berupa perisa, pemanis, pengental, atau penstabil yang membuat produk lebih praktis dan tahan lama.

Meski begitu, label UPF tidak otomatis berarti seluruh produk berbahaya bagi kesehatan. Penilaian yang tepat perlu melihat komposisi, porsi konsumsi, serta konteks pola makan secara keseluruhan.

Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara makanan olahan sederhana dan produk olahan yang formula-nya lebih kompleks. Pemahaman ini penting agar penilaian terhadap makanan tidak hanya didasarkan pada label kemasan semata.

Sarden kalengan perlu dilihat

Sarden kalengan sering masuk daftar makanan yang dicurigai sebagai UPF. Namun, statusnya sangat bergantung pada isi dan bahan tambahan di dalam produk tersebut.

Jika komposisinya sederhana, misalnya ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, produk itu cenderung lebih dekat ke processed foods. Sebaliknya, bila terdapat perisa, pengental, pemanis, dan aditif lain dalam jumlah lebih banyak, sebagian produk dapat masuk kategori ultra-processed foods.

Dengan demikian, sarden kalengan tidak bisa langsung disamaratakan sebagai makanan yang tidak sehat. Konsumen perlu membaca label komposisi sebelum menilai kualitas produknya.

Susu UHT belum tentu UPF

Susu UHT juga kerap diperdebatkan dalam klasifikasi makanan olahan. Pada dasarnya, susu UHT plain tanpa banyak tambahan sering ditempatkan di kategori processed foods oleh sebagian peneliti.

Produk susu UHT yang ditambah perisa, pemanis, atau formulasi kompleks lebih sering dianggap sebagai ultra-processed foods. Perbedaan ini menunjukkan bahwa satu jenis produk bisa memiliki klasifikasi yang berbeda tergantung resep dan proses pembuatannya.

Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung menghindari seluruh produk susu UHT. Yang lebih penting adalah memastikan kandungan gizinya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan dalam konsumsi harian.

Cara memilih makanan kemasan

Masyarakat disarankan lebih teliti membaca label sebelum membeli makanan kemasan. Informasi seperti daftar bahan, kandungan gula, natrium, dan lemak dapat membantu menilai apakah produk tersebut sesuai untuk dikonsumsi.

Produk yang sederhana dan minim bahan tambahan umumnya lebih mudah dipahami kualitasnya. Sebaliknya, produk dengan daftar komposisi yang sangat panjang patut dicermati lebih jauh sebelum dikonsumsi rutin.

Selain itu, pola makan yang seimbang tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan. Makanan kemasan masih dapat menjadi bagian dari menu harian selama dikonsumsi dengan porsi wajar dan tidak menggantikan makanan segar sepenuhnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!