BRIN Ungkap Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Daerah

Teknologi BRH 31 Mei 2026 02:36 WIB 2
BRIN Ungkap Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Daerah

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan bahwa kebutuhan energi Base Transceiver Station atau BTS di Pulau Jawa tidak bisa disamakan dengan wilayah lain. Perbedaan itu dipengaruhi oleh cakupan layanan, kontur wilayah, serta karakter sosial ekonomi masyarakat setempat.

Penjelasan tersebut disampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam paparannya, Dr Mardi menegaskan bahwa tipe BTS yang dipasang di setiap daerah disesuaikan dengan kebutuhan jaringan masing-masing wilayah.

Kebutuhan Energi BTS

Dr Mardi menilai konsumsi energi BTS sangat tinggi karena perangkat ini harus menjaga cakupan layanan secara luas. Pada operator telekomunikasi, kebutuhan energi operasional dapat menyerap porsi besar dari total konsumsi tahunan.

Ia mencontohkan, kebutuhan energi operasional Telkomsel pada 2023 hampir mencapai 90 persen dari total konsumsi tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jaringan seluler menjadi salah satu komponen dengan beban energi paling besar dalam industri telekomunikasi.

Tren penggunaan jaringan seluler di Indonesia juga membuat kebutuhan energi terus meningkat. Menurutnya, jaringan 4G masih berkembang, sementara implementasi 5G masih terbatas di banyak wilayah.

Karena itu, operator harus menyesuaikan desain BTS dengan target pasar dan kebutuhan layanan di wilayah tertentu. Jika penyesuaian tidak dilakukan, konsumsi energi berpotensi menjadi jauh lebih tinggi dari yang dibutuhkan.

Perbedaan Site BTS

Dalam penelitiannya, Dr Mardi mengumpulkan data dari salah satu operator di Indonesia. Data tersebut mencakup sekitar 8.500 BTS sites yang tersebar di 20 kabupaten dan kota di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Setiap titik sampel memiliki informasi mengenai tipe site yang digunakan. Jenisnya beragam, mulai dari Pico, Mikro, Indoor Base Station atau IBS, Makro, hingga Makro Hub.

Dari keseluruhan sampel, hampir 78 persen di antaranya merupakan site makro. Proporsi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan jaringan di area padat penduduk cenderung bertumpu pada infrastruktur berskala besar.

Menurut Dr Mardi, karakter setiap wilayah membuat komposisi site BTS tidak selalu sama. Ia menilai kebutuhan infrastruktur di Jakarta tentu berbeda dengan daerah lain, termasuk Kalimantan dan Papua.

Faktor Sosioekonomi

Penyesuaian proporsi BTS sites dinilai penting agar perhitungan energi lebih akurat. Tanpa penyesuaian, model yang digunakan tidak akan menggambarkan kondisi Indonesia secara realistis.

Dr Mardi menjelaskan bahwa penelitian yang ia lakukan memasukkan tiga faktor sosioekonomi sebagai variabel validasi. Ketiga faktor itu adalah population density, development index, dan digital society index.

Ketiga indikator tersebut membantu melihat bagaimana kebutuhan jaringan tumbuh di wilayah yang berbeda. Daerah dengan kepadatan tinggi dan indeks pembangunan yang lebih baik cenderung membutuhkan infrastruktur telekomunikasi yang lebih besar.

Dengan pendekatan itu, perhitungan kebutuhan BTS dapat disesuaikan dengan karakter masyarakat di setiap wilayah. Hasilnya diharapkan lebih relevan untuk mendukung perencanaan jaringan telekomunikasi nasional.

Dampak untuk Industri

Temuan BRIN ini memberi sinyal penting bagi operator telekomunikasi dalam merancang ekspansi jaringan. Perencanaan yang tepat dapat membantu menekan konsumsi energi sekaligus menjaga kualitas layanan.

Di sisi lain, kebutuhan jaringan yang berbeda antardaerah menuntut strategi pembangunan infrastruktur yang lebih presisi. Operator tidak lagi cukup menggunakan pendekatan seragam untuk seluruh wilayah Indonesia.

Langkah berbasis data dinilai akan membuat investasi jaringan lebih efisien dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga dapat membantu industri menjawab tantangan pertumbuhan trafik data yang terus meningkat.

Dr Mardi menegaskan bahwa kebutuhan BTS di daerah padat penduduk dan daerah dengan karakter geografis berbeda harus dihitung secara terpisah. Dengan demikian, sistem telekomunikasi dapat berkembang lebih tepat sasaran dan sesuai kondisi lapangan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!