Pakar IPB: Label Makanan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sekilas

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 02:40 WIB 4
Pakar IPB: Label Makanan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sekilas

Banyak orang masih ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Kondisi itu kerap memunculkan anggapan bahwa produk tersebut berbahaya, atau setidaknya kurang sehat, padahal penilaian semacam itu belum tentu tepat. Pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai kualitas produk tidak bisa ditentukan hanya dari daftar bahan pada kemasan.

Anggapan bahwa produk dengan komposisi panjang, bahan tambahan yang terdengar ilmiah, atau kandungan tertentu otomatis bermasalah, menurutnya, masih terlalu sederhana. Ia menjelaskan hal itu saat dihubungi detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Karena itu, masyarakat perlu membaca label dengan lebih cermat agar tidak salah menilai produk pangan.

Membaca Label Makanan Kemasan

Label makanan kemasan sering kali menimbulkan kesan menakutkan ketika konsumen melihat istilah yang tidak familiar. Padahal, tidak semua istilah teknis identik dengan bahan berbahaya. Dalam banyak kasus, istilah tersebut justru dipakai untuk menjelaskan fungsi bahan secara lebih spesifik.

Purwiyatno menilai kebiasaan menilai produk dari banyaknya bahan pada label tidak selalu akurat. Yang lebih penting adalah memahami konteks penggunaan setiap bahan, bukan hanya jumlahnya. Dengan cara itu, konsumen dapat melihat apakah produk benar-benar layak dikonsumsi atau tidak.

Ia juga menekankan bahwa label komposisi seharusnya dibaca sebagai informasi, bukan sebagai vonis instan terhadap mutu produk. Setiap bahan memiliki peran yang berbeda dalam menjaga karakteristik pangan. Oleh karena itu, penilaian perlu dilakukan secara lebih utuh dan tidak terburu-buru.

Kesalahpahaman tentang label sering muncul karena konsumen hanya fokus pada nama bahan yang terdengar asing. Situasi ini diperparah oleh informasi di media sosial yang kerap disampaikan tanpa konteks ilmiah yang memadai. Akibatnya, persepsi publik terhadap makanan kemasan bisa menjadi lebih negatif daripada yang seharusnya.

Makna Bahan Tambahan Pangan

Menurut Purwiyatno, bahan tambahan pangan tidak otomatis menjadikan suatu produk berbahaya. Bahan tersebut justru memiliki fungsi penting dalam mendukung mutu dan keamanan pangan. Tanpa bahan tambahan tertentu, sebagian produk bisa kehilangan stabilitas atau daya simpan yang dibutuhkan.

Ia menjelaskan bahwa bahan tambahan digunakan untuk tujuan yang jelas, seperti menjaga tekstur, rasa, warna, dan kesegaran produk. Dalam industri pangan, fungsi ini dibutuhkan agar produk tetap konsisten sampai ke tangan konsumen. Selama penggunaannya sesuai aturan, bahan tambahan tidak dapat langsung dianggap masalah.

Aspek yang perlu diperhatikan bukan hanya nama bahannya, tetapi juga kadar yang digunakan. Regulasi pangan menetapkan batas tertentu agar bahan tambahan tetap aman dikonsumsi. Karena itu, penilaian terhadap sebuah produk harus melihat kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.

Selain kadar, peran bahan tambahan dalam menjaga stabilitas produk juga penting untuk dipahami. Beberapa bahan membantu mencegah kerusakan, sementara yang lain menjaga karakteristik sensori agar produk tetap layak konsumsi. Dengan demikian, keberadaan bahan tambahan bukanlah alasan otomatis untuk menolak sebuah produk.

UPF dan Persepsi Publik

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan sering muncul dalam perbincangan publik. Namun, istilah ini kerap dipahami secara simplistis dan langsung dikaitkan dengan makanan yang dianggap tidak sehat. Padahal, klasifikasi pangan semacam itu memerlukan pemahaman yang lebih cermat.

Purwiyatno menilai keterkaitan antara label komposisi dan stigma UPF sering membuat konsumen salah fokus. Banyak orang langsung mencurigai produk hanya karena terlihat modern atau menggunakan istilah teknis. Padahal, penilaian semestinya didasarkan pada keseluruhan mutu dan keamanannya, bukan persepsi semata.

Ia menegaskan bahwa tidak semua produk yang diproses secara industri memiliki kualitas rendah. Ada produk yang diproses untuk alasan keamanan, efisiensi distribusi, dan konsistensi mutu. Karena itu, label UPF tidak boleh digunakan secara serampangan untuk menghakimi semua makanan kemasan.

Di tengah derasnya informasi dari media sosial, publik perlu menyaring penjelasan yang beredar sebelum mengambil kesimpulan. Klaim yang terdengar meyakinkan belum tentu didukung konteks ilmiah yang kuat. Sikap kritis menjadi penting agar konsumen tidak mudah terjebak pada ketakutan yang tidak perlu.

Menilai Produk Secara Jernih

Purwiyatno mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya menilai produk pangan secara jernih dan proporsional. Komposisi, fungsi bahan, kadar penggunaan, dan kepatuhan regulasi perlu dilihat bersamaan. Dengan begitu, keputusan konsumsi menjadi lebih rasional dan berbasis informasi.

Ia juga mendorong konsumen untuk tidak terpaku pada daftar bahan yang panjang sebagai satu-satunya indikator kualitas. Daftar yang panjang tidak selalu berarti buruk, sama seperti daftar yang pendek tidak selalu berarti lebih sehat. Penilaian yang adil harus mempertimbangkan tujuan formulasi dan keamanan produk.

Dalam praktiknya, pemahaman label dapat membantu konsumen memilih makanan sesuai kebutuhan masing-masing. Informasi pada kemasan seharusnya menjadi alat bantu, bukan sumber kepanikan. Jika dibaca dengan benar, label justru memberi ruang bagi konsumen untuk membuat keputusan yang lebih tepat.

Pesan utamanya adalah bahwa makanan kemasan tidak bisa dinilai hanya dari kesan pertama. Bahan tambahan pangan memiliki fungsi yang sah selama digunakan sesuai aturan dan kebutuhan produk. Karena itu, literasi pangan menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh kesalahpahaman yang beredar luas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!