Mantan PMI Sukses Bangun Usaha Jajanan Singkong

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 09:52 WIB 2
Mantan PMI Sukses Bangun Usaha Jajanan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan kepulangan ke Tanah Air bisa menjadi awal kesuksesan baru. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu pulang dari Hongkong pada Mei 2017 setelah lima tahun bekerja sebagai TKW, lalu merintis usaha rumahan dari sisa tabungannya.

Berawal dari kebutuhan ekonomi sebagai single parent, Fatimah memilih berhenti merantau dan fokus membangun bisnis jajanan tradisional berbahan singkong. Usaha bernama Qtello Ayu itu kini berkembang pesat, memiliki pelanggan dari berbagai daerah, dan menghasilkan omzet harian sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta.

Bisnis Singkong dari Rumah

Fatimah mengaku sempat merasa pekerjaannya di luar negeri tidak memberi ruang perkembangan yang cukup untuk kebutuhan hidupnya. Dari kegelisahan itu, ia memutuskan kembali ke Indonesia dan mencari jalan yang lebih dekat dengan keluarga.

Tekad untuk tidak kembali merantau membuatnya berani memulai usaha dengan modal sangat terbatas. Pada akhir 2017, ia menggunakan Rp700 ribu dari tabungan untuk membuat aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong.

Produk pertamanya hanya tiga varian, yakni ongol-ongol, getuk, dan klepon. Seiring waktu, jumlah produknya bertambah menjadi sembilan varian dengan tampilan yang lebih menarik dan rasa yang disesuaikan dengan selera pasar.

Strategi Pemasaran Digital

Untuk memperluas pasar, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial sebagai sarana promosi utama. Ia juga mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut yang terbukti efektif membangun kepercayaan konsumen.

Nama Qtello Ayu dipilih sebagai identitas produk, gabungan kata ketela dan ayu yang memberi kesan khas serta mudah diingat. Kemasan yang inovatif membuat jajanan berbahan sederhana itu terlihat lebih modern dan menarik secara visual.

Pendekatan tersebut membantu produknya menjangkau pembeli dari Tulungagung, Trenggalek, hingga luar kota. Pesanan bahkan kerap dikirim ke Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta sebagai oleh-oleh atau sajian acara.

Pertumbuhan Omzet Harian

Dalam kondisi normal, Fatimah mampu memproduksi hingga 400 kotak jajanan per hari. Dari penjualan itu, omzetnya rata-rata mencapai Rp1 juta per hari, meski pada hari tertentu bisa tembus Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Untuk memenuhi pesanan, ia tidak bekerja sendirian karena dibantu keluarga dan dua karyawan harian. Seluruh proses produksi tetap dilakukan dari rumah agar kualitas dan kesegaran produk tetap terjaga.

Perkembangan usaha itu membuat kondisi ekonomi keluarga Fatimah membaik secara signifikan. Ia juga berhasil melunasi utang dan membeli mobil untuk mendukung operasional usaha.

Harapan Mengembangkan Usaha

Kesuksesan Fatimah bahkan mendorong salah satu anaknya membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Ia berharap usaha tersebut bisa berkembang ke lebih banyak kota karena permintaan pasar dinilai masih terbuka lebar.

Fatimah menilai siapa pun bisa memulai usaha, asalkan memiliki tekad yang kuat dan siap melalui proses yang tidak mudah. Menurut dia, tantangan justru menjadi bagian penting dalam membangun bisnis yang bertahan lama.

Ia juga berpesan agar pelaku usaha tidak menyerah saat semangat menurun, melainkan kembali mengingat tujuan awal memulai bisnis. Jajanan tradisional buatannya dijual mulai dari Rp8 ribuan per kotak, dan informasi lengkapnya tersedia melalui akun Instagram resmi @qtelloayu_trenggalek.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!