Mantan pekerja migran Indonesia dapat membuktikan bahwa pulang ke tanah air bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk membangun usaha yang mandiri. Salah satunya adalah Siti Fatimah, perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, yang sukses mengembangkan bisnis jajanan tradisional berbahan singkong setelah kembali dari Hong Kong pada 2017.
Berbekal tabungan terakhir dan tekad untuk tidak kembali merantau, Fatimah merintis usaha dari rumah dengan modal awal Rp700 ribu. Kini, produk olahannya yang diberi nama Qtello Ayu telah memiliki banyak varian, pelanggan tetap, hingga omzet harian yang mampu mencapai sekitar Rp1 juta.
Bisnis Jajanan dari Singkong
Fatimah memulai usahanya pada akhir 2017 dengan memproduksi jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Nama Qtello Ayu dipilih sebagai perpaduan kata ketela dan ayu, yang mencerminkan produk sederhana namun menarik. Pada tahap awal, ia hanya menjual tiga varian, yaitu ongol-ongol, getuk, dan klepon. Seiring waktu, usahanya berkembang menjadi sembilan varian dengan tampilan lebih beragam.
Ragam produknya kini mencakup sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi itu membuat jajanan tradisional tampil lebih segar dan sesuai selera pasar saat ini. Fatimah mengandalkan bahan baku sederhana yang diolah dengan sentuhan kreatif agar terlihat lebih menarik. Pendekatan itu menjadi pembeda utama di tengah persaingan makanan ringan rumahan.
Menurut Fatimah, keputusannya pulang ke Indonesia didorong oleh kebutuhan hidup yang terus meningkat. Ia merasa pekerjaan sebelumnya tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan keluarga, terutama karena ia menjadi orang tua tunggal. Kondisi itu membuatnya memikirkan cara agar tetap dapat bekerja tanpa harus meninggalkan rumah. Dari situ lahirlah tekad untuk merintis usaha sendiri dengan kemampuan yang ada.
Usaha yang dijalankan dari rumah itu kemudian menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Fatimah tidak hanya memproduksi jajanan, tetapi juga membangun identitas merek yang mudah dikenali. Dengan nama yang khas dan produk yang variatif, usahanya pelan-pelan mendapat tempat di pasar lokal. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bisnis rumahan bisa tumbuh jika dikelola dengan konsisten.
Modal Kecil dan Tekad
Modal awal Rp700 ribu menjadi ujian pertama bagi Fatimah saat memulai usaha. Ia mengaku tidak ingin kembali merantau, sehingga modal itu harus benar-benar dipakai untuk membuka jalan baru. Dari dana terbatas itu, ia membeli bahan baku dan memulai produksi skala kecil. Keputusan tersebut menuntut keberanian sekaligus disiplin dalam mengelola uang.
Fatimah menekankan bahwa niat kuat menjadi kunci ketika modal belum besar. Ia memilih memaksimalkan apa yang tersedia, alih-alih menunggu kondisi ideal yang belum tentu datang. Sikap itu membuatnya bertahan melewati masa awal yang penuh ketidakpastian. Perlahan, ia belajar menyesuaikan produksi dengan permintaan pelanggan.
Dalam proses awal, ia harus membagi waktu antara mengurus rumah dan menjalankan usaha. Tantangan itu tidak ringan karena seluruh aktivitas produksi dilakukan dari tempat tinggalnya sendiri. Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga ritme kerja agar kualitas produk tidak menurun. Kedisiplinan menjadi modal penting selain uang yang ia miliki.
Pengalaman Fatimah menjadi gambaran bahwa usaha kecil dapat tumbuh dari keberanian mengambil keputusan. Banyak mantan pekerja migran menghadapi kebingungan saat kembali ke daerah asal, terutama soal sumber penghidupan. Namun, kisahnya menunjukkan bahwa peluang tetap ada bila seseorang mau memulai dari skala sederhana. Tekad yang kuat sering kali menjadi pembeda utama antara rencana dan keberhasilan.
Pemasaran Lewat Jaringan
Untuk menjual produknya, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan metode dari mulut ke mulut agar produk dikenal lebih luas. Cara ini terbukti efektif karena membangun kepercayaan konsumen secara perlahan. Tanpa biaya promosi besar, jangkauan pasar tetap bisa berkembang.
Strategi pemasaran tersebut membuat Qtello Ayu mulai dikenal di berbagai wilayah. Pelanggan tidak hanya datang dari Trenggalek dan Tulungagung, tetapi juga dari luar kota. Produk bahkan kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta. Jaringan konsumen yang luas menjadi penopang utama pertumbuhan usaha.
Fatimah menyadari bahwa penampilan produk sangat memengaruhi minat beli. Karena itu, ia mengemas jajanan tradisional dengan tampilan yang lebih rapi dan warna-warni. Inovasi visual tersebut membantu produknya terlihat lebih modern tanpa meninggalkan ciri khas tradisional. Pendekatan itu membuat jajanan singkong lebih mudah diterima berbagai kalangan.
Di tengah perkembangan promosi digital, Fatimah tetap mempertahankan kedekatan dengan pelanggan. Ia merespons pesanan secara langsung dan menjaga komunikasi agar pembeli merasa nyaman. Hubungan yang terbangun dari interaksi sederhana itu ikut memperkuat loyalitas konsumen. Cara tersebut membuktikan bahwa pemasaran efektif tidak selalu bergantung pada iklan besar.
Hasil dan Rencana Usaha
Produksi Qtello Ayu saat ini mencapai sekitar 400 kotak per hari. Dengan volume tersebut, omzet harian Fatimah rata-rata berada di kisaran Rp1 juta, meski pada hari tertentu bisa meningkat menjadi Rp2 juta hingga Rp3 juta. Pendapatan itu membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Dari usaha rumahan, ia mampu membangun fondasi keuangan yang lebih stabil.
Keberhasilan itu juga membuat Fatimah dapat melunasi utang dan membeli mobil untuk operasional usaha. Mobil tersebut memudahkan distribusi produk ke pelanggan dan memperlancar pengiriman pesanan. Bagi Fatimah, capaian itu merupakan hasil dari ketekunan yang dijaga sejak awal. Ia menilai semua pencapaian tersebut tidak datang secara instan.
Usahanya kini tidak lagi dikerjakan sendirian karena dibantu keluarga dan dua karyawan harian. Dukungan tenaga tambahan dibutuhkan untuk menjaga produksi tetap lancar dan produk tetap segar. Seluruh proses masih dijalankan dari rumah agar kualitas mudah dikontrol. Sistem kerja sederhana itu justru menjadi kekuatan bisnisnya.
Ke depan, Fatimah berharap Qtello Ayu dapat membuka cabang di sejumlah kota karena permintaan terus berdatangan. Salah satu anaknya bahkan telah membuka cabang di Bandung. Ia juga berpesan agar siapa pun yang ingin berusaha tetap sabar dan ingat pada tujuan awal. Menurutnya, proses membangun usaha memang tidak mudah, tetapi hasilnya bisa mengubah hidup.
