Mantan Ilmuwan NASA Klaim Tiga Kali Mengalami Mati Suri

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 14:11 WIB 5
Mantan Ilmuwan NASA Klaim Tiga Kali Mengalami Mati Suri

Mantan ilmuwan NASA asal Kolombia, Ingrid Honkala, mengaku telah tiga kali mengalami mati suri sepanjang hidupnya. Pengalaman itu, menurut perempuan berusia 55 tahun tersebut, mengubah cara pandangnya terhadap kematian dan kesadaran manusia. Ia menyebut setiap momen berada di ambang kematian selalu menghadirkan sensasi yang sama, seolah masuk ke dimensi lain yang tak terjangkau pancaindra.

Honkala menuturkan pengalaman itu terasa seperti memasuki lapisan realitas yang lebih dalam. Dalam kondisi tersebut, ia merasakan kesadaran yang luas, cerdas, dan saling terhubung. Kisahnya dikutip dari New York Post.

Mati suri dan kesadaran

Honkala memiliki gelar doktor di bidang ilmu kelautan dan pernah bekerja untuk NASA serta Angkatan Laut Amerika Serikat. Ia mengklaim pengalaman mati suri pertamanya terjadi saat masih berusia dua tahun. Peristiwa itu menjadi titik awal dari keyakinannya bahwa kesadaran manusia mungkin tidak hanya berasal dari otak.

Saat itu, ia terjatuh ke dalam tangki air dingin di rumahnya tanpa diketahui pengasuh yang berada di ruangan lain. Ibunya disebut pulang tepat waktu dan berhasil menyelamatkannya. Namun, di momen itulah Honkala merasa mengalami sesuatu yang luar biasa.

Ia mengaku semula panik karena kesulitan bernapas akibat air dingin. Rasa takut itu, katanya, perlahan berganti menjadi ketenangan yang sangat dalam. Dari pengalaman tersebut, ia merasa seolah terlepas dari tubuh fisiknya.

Dalam kondisi itu, Honkala mengatakan dirinya dapat melihat tubuh kecilnya mengambang di dalam air. Ia merasa tidak lagi menjadi anak kecil, melainkan kesadaran murni yang dipenuhi cahaya. Menurutnya, tidak ada rasa takut, tidak ada waktu, dan tidak ada pikiran.

Pengalaman masa kecil yang membekas

Salah satu bagian paling ganjil dari ceritanya berkaitan dengan sang ibu. Honkala mengklaim, saat tak sadarkan diri di dalam air, ia dapat melihat ibunya yang berada beberapa blok jauhnya. Ia juga mengaku bisa berkomunikasi tanpa berbicara.

Beberapa saat kemudian, ibunya bergegas pulang dan menemukan Honkala di dalam tangki. Ia percaya peristiwa itu meninggalkan kesan mendalam yang tidak pernah hilang. Sejak saat itu, Honkala mengaku tidak lagi takut pada kematian.

Bagi Honkala, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehidupan setelah mati tidak terasa seperti tempat yang jauh. Ia justru melihatnya sebagai keadaan yang dekat dengan kesadaran manusia. Pandangan itu terus ia pegang hingga dewasa.

Ia juga menyebut pengalaman itu membuatnya yakin bahwa kesadaran mungkin merupakan sesuatu yang lebih mendasar daripada otak. Keyakinan tersebut, menurutnya, tidak lahir dari spekulasi semata. Ia merasa hal itu didorong oleh pengalaman pribadi yang sangat kuat.

Dua pengalaman serupa berikutnya

Honkala mengatakan dirinya kembali mengalami mati suri dua kali dalam hidupnya. Kejadian pertama terjadi setelah kecelakaan motor saat ia berusia 25 tahun. Peristiwa kedua terjadi pada usia 52 tahun, ketika tekanan darahnya turun drastis saat menjalani operasi.

Ia menuturkan ketiga pengalaman itu selalu membawanya ke keadaan damai yang sama. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan, dan tidak ada rasa sakit. Menurutnya, sensasi itu terasa konsisten di setiap pengalaman.

Meski terdengar sulit dipercaya, Honkala menganggap momen-momen itu bukan kebetulan. Ia memandangnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk cara berpikirnya. Dari sana, ia semakin tertarik pada pertanyaan tentang hakikat realitas.

Alih-alih menjauh dari sains, pengalaman spiritual justru mendorongnya mendalami penelitian. Ia ingin memahami realitas melalui observasi dan pendekatan ilmiah. Bagi Honkala, pencarian itu tidak bertentangan dengan pengalaman batinnya.

Sains dan spiritualitas

Selama bertahun-tahun, Honkala memilih memusatkan perhatian pada karier ilmiah dan jarang membicarakan pengalaman spiritualnya di depan publik. Namun seiring waktu, ia mulai melihat bahwa sains dan spiritualitas tidak selalu berseberangan. Keduanya, menurutnya, bisa saja sedang mencoba menjelaskan misteri yang sama dari sudut pandang berbeda.

Honkala menilai sains berfokus pada pengamatan dan pembuktian, sementara pengalaman spiritual menyentuh sisi kesadaran yang lebih personal. Ia percaya keduanya dapat saling melengkapi. Pandangan ini membuat kisahnya menarik perhatian banyak orang.

Meski demikian, pengalaman mati suri tetap menjadi perdebatan di kalangan ilmiah. Sejumlah peneliti menilai fenomena tersebut dapat dipicu halusinasi atau mekanisme psikologis saat seseorang berada di ambang kematian. Karena itu, belum ada kesimpulan tunggal yang disepakati.

Sejumlah penyintas pengalaman serupa juga kerap melaporkan melihat cahaya terang, anggota keluarga yang telah meninggal, hingga sosok religius. Honkala tetap yakin apa yang ia alami bukan sekadar mimpi atau imajinasi. Baginya, pengalaman itu adalah bukti bahwa kesadaran manusia menyimpan misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!