Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, dan sejumlah makanan kemasan ikut dicurigai sebagai sumber masalah kesehatan. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki komposisi yang sama, sehingga penilaiannya tidak bisa disamaratakan begitu saja.
Sejumlah produk yang kerap dicap UPF justru masih bisa mengandung protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, masyarakat perlu memahami perbedaan antara makanan olahan biasa dan makanan yang benar-benar masuk kategori ultra-processed food.
Memahami Ultra-Processed Food
Ultra-processed food adalah istilah untuk makanan yang diproses sangat jauh dari bentuk aslinya dan biasanya mengandung banyak bahan tambahan. Bahan tambahan itu dapat berupa perisa, pemanis, pengental, pewarna, hingga pengawet.
Karakter utama UPF bukan hanya karena makanan tersebut dikemas, melainkan karena tingkat pemrosesan dan susunan bahannya. Semakin kompleks formulasi sebuah produk, semakin besar kemungkinan produk itu masuk kategori ultra-processed food.
Dalam praktiknya, tidak semua makanan olahan memiliki tingkat risiko yang sama terhadap kesehatan. Oleh sebab itu, penilaian perlu dilakukan berdasarkan komposisi, porsi, dan frekuensi konsumsi.
Para ahli gizi menilai bahwa label UPF sebaiknya tidak dipahami secara hitam putih. Masyarakat tetap perlu melihat konteks kebutuhan gizi, terutama saat memilih makanan sehari-hari.
Sarden Kalengan
Sarden kalengan sering dianggap sebagai makanan ultra-processed food karena hadir dalam kemasan praktis. Namun, statusnya sangat bergantung pada komposisi di dalam kaleng tersebut.
Jika isi sarden hanya terdiri dari ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, produk itu cenderung lebih dekat ke processed foods. Komposisi yang sederhana membuat produknya tidak selalu masuk kategori ultra-processed food.
Sebaliknya, bila produsen menambahkan perisa, pengental, pemanis, atau aditif lain dalam jumlah lebih banyak, klasifikasinya bisa berubah. Dalam kondisi itu, sebagian produk sarden kalengan dapat masuk ke kelompok ultra-processed foods.
Karena itu, konsumen disarankan membaca label kemasan sebelum membeli. Langkah sederhana ini membantu mengenali apakah produk tersebut masih tergolong pangan olahan biasa atau sudah sangat diproses.
Susu UHT Plain
Susu UHT plain juga kerap diperdebatkan dalam pembahasan UPF karena proses pemanasannya membuat produk lebih tahan lama. Meski demikian, proses UHT tidak otomatis menjadikannya makanan ultra-processed food.
Produk susu UHT tanpa banyak tambahan umumnya masih dipandang sebagai processed foods oleh sebagian peneliti. Pendapat ini muncul karena bahan dasarnya tetap susu, tanpa formulasi kompleks yang berlebihan.
Masalah biasanya muncul ketika susu UHT diberi perisa, pemanis, atau campuran lain yang membuat susunannya semakin kompleks. Dalam bentuk seperti itu, produk lebih sering dikategorikan sebagai ultra-processed food.
Bagi konsumen, pilihan terbaik adalah menilai kandungan gula dan komposisi bahan secara keseluruhan. Susu UHT plain tetap dapat menjadi pilihan praktis selama dikonsumsi dalam batas wajar.
Cara Memilih Makanan Olahan
Masyarakat perlu lebih cermat membedakan pangan olahan yang masih relatif sederhana dengan produk yang sangat diproses. Kebiasaan ini penting agar keputusan konsumsi tidak hanya didasarkan pada label atau tren di media sosial.
Langkah pertama adalah membaca daftar bahan pada kemasan, lalu memperhatikan jumlah dan jenis tambahan yang digunakan. Semakin pendek dan mudah dipahami daftar bahan, biasanya produk tersebut semakin sederhana.
Langkah berikutnya adalah memperhatikan kandungan gizi, terutama gula, garam, dan lemak jenuh. Tiga komponen ini sering menjadi penentu utama apakah makanan kemasan layak dikonsumsi secara rutin atau hanya sesekali.
Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat tetap menikmati makanan praktis tanpa menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Kuncinya adalah bijak memilih, menyesuaikan dengan kebutuhan, dan tidak menilai semua makanan kemasan dengan ukuran yang sama.
Kesimpulannya, tidak semua makanan yang terlihat modern atau dikemas rapi otomatis tergolong UPF. Pemahaman yang tepat akan membantu masyarakat memilih pangan olahan secara lebih sehat dan rasional.
Pengelompokan makanan sebaiknya dilihat dari komposisi, tingkat pemrosesan, dan kandungan gizinya. Dengan cara itu, publik dapat lebih tenang dalam menentukan pilihan makanan sehari-hari.
UPF memang penting untuk dipahami karena berkaitan dengan pola makan jangka panjang. Namun, pengetahuan yang akurat jauh lebih bermanfaat daripada kekhawatiran yang tidak didasari informasi lengkap.
Pada akhirnya, makanan olahan tetap bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang jika dikonsumsi dengan bijak. Kesadaran membaca label dan memahami bahan baku menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan.
