Keripik Singkong Difabel Sukabumi Tembus Pasar Brunei

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 17:12 WIB 2
Keripik Singkong Difabel Sukabumi Tembus Pasar Brunei

Keripik singkong buatan tangan dari Sukabumi resmi menembus pasar luar negeri setelah PT Gemilang Agro Inovasi melakukan ekspor perdana ke Brunei Darussalam. Pengiriman produk Yammy Babeh bernilai USD 18.000 atau sekitar Rp 288 juta itu dilepas secara simbolis di Gedung Juang 45 Sukabumi, Jawa Barat, pada Jumat, dengan dukungan pemerintah dan mitra usaha.

UMKM yang didirikan Ade Soelistyowati, penyandang disabilitas tuna rungu, ini akan memasok satu kontainer 20 ft kepada perusahaan Brunei, SP Setia SDN BHD, dalam skema pengiriman berkelanjutan. Keberhasilan tersebut menjadi sorotan karena lahir dari usaha rumahan yang dibangun di tengah keterbatasan, namun mampu memenuhi standar pasar global.

Ekspor Keripik Singkong Sukabumi

Produk Cassava Crackers Yammy Babeh dibuat dari singkong lokal yang diolah secara higienis dan dikemas modern. Pendekatan itu dirancang agar cita rasa camilan tetap terjaga sekaligus memenuhi persyaratan pasar internasional. Dari Sukabumi, produk ini kini mulai menapaki jalur ekspor yang lebih luas.

Ekspor perdana ke Brunei Darussalam menjadi tonggak penting bagi PT Gemilang Agro Inovasi. Nilai pengiriman mencapai USD 18.000 untuk satu kontainer berukuran 20 ft. Skema ini menunjukkan bahwa produk UMKM lokal dapat bersaing dalam rantai pasok lintas negara.

Pelepasan ekspor dilakukan di Gedung Juang 45 Sukabumi dan dihadiri sejumlah pejabat negara. Hadir dalam kesempatan itu Menteri UMKM RI Maman Abdurrahman, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, serta Bupati Sukabumi Ayep Zaki. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya dukungan lintas sektor terhadap pelaku usaha kecil.

Selain pasar Brunei, Ade juga mulai mengembangkan produk turunan berbasis mangrove. Produk tersebut meliputi kapsul, teh, dan bubuk yang saat ini mulai dipasarkan ke Korea Selatan. Diversifikasi ini memperlihatkan strategi usaha yang tidak hanya bergantung pada satu jenis produk.

Perjuangan Wirausaha Difabel

Ade Soelistyowati membangun usaha bersama sang suami yang sedang berjuang melawan sakit stroke. Kondisi tersebut tidak menghentikan langkah mereka untuk menjaga operasional perusahaan tetap berjalan. Dari keterbatasan itu, lahir semangat untuk terus berkembang dan membuka pasar baru.

Menurut Ade, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berprestasi. Ia menegaskan bahwa dukungan berbagai pihak sangat membantu produk lokal naik kelas. Pandangan itu menjadi landasan bagi perusahaan dalam memperluas jangkauan usaha.

PT Gemilang Agro Inovasi juga berperan dalam membuka lapangan kerja di lingkungan sekitar. Saat ini, perusahaan mempekerjakan 10 karyawan tetap dan 25 siswa magang dari SMA Hassina Sukabumi. Kehadiran tenaga kerja lokal memperkuat dampak sosial dari kegiatan usaha tersebut.

Model bisnis yang dijalankan Ade memperlihatkan bahwa inklusi dapat berjalan seiring dengan produktivitas. Di tengah tantangan kesehatan keluarga dan keterbatasan fisik, usaha tetap tumbuh secara konsisten. Hal ini membuat kisah Yammy Babeh relevan sebagai contoh wirausaha yang tangguh.

Dukungan Pemerintah dan BUMN

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengapresiasi keberhasilan ekspor tersebut. Ia menilai capaian Ade menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta. Menurut dia, kolaborasi itu dapat memperkuat daya saing pelaku usaha mikro.

Maman juga menyebut pemerintah akan memprioritaskan pelaku usaha disabilitas untuk mendapatkan pembinaan dan pelatihan. Arahan itu disebut datang dari Presiden Prabowo sebagai bagian dari upaya penguatan usaha mikro. Tujuannya agar pelaku usaha difabel semakin berdaya saing di tingkat global.

Apresiasi serupa datang dari PT Pertamina (Persero) melalui Vice President Corporate Communication Fadjar Djoko Santoso. Ia menilai ekspor Yammy Babeh sejalan dengan upaya mendorong wirausaha lokal agar mampu menembus pasar dunia. Bagi Pertamina, keberhasilan tersebut mencerminkan semangat inklusivitas dan inovasi.

Fadjar menegaskan bahwa setiap individu memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada ekonomi bangsa. Ia menambahkan, keberhasilan UMKM binaan menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha bisa berjalan beriringan dengan nilai sosial. Karena itu, Pertamina menyatakan akan terus mendukung pengembangan usaha mikro di berbagai daerah.

Langkah Ekspor Berkelanjutan

Hingga Oktober 2025, Pertamina mencatat delapan UMKM binaannya berhasil menembus pasar ekspor secara berkelanjutan. Pencapaian itu menjadi indikator bahwa program pendampingan mulai menghasilkan dampak nyata. Selain meningkatkan kapasitas usaha, ekspor juga memperluas nilai tambah produk lokal.

Sejak awal tahun 2025 hingga hari ini, delapan UMKM binaan telah mengekspor produknya ke berbagai negara. Jalur ekspor tersebut membuka peluang pendapatan yang lebih stabil bagi pelaku usaha. Di saat yang sama, masyarakat sekitar turut merasakan manfaat ekonomi dari tumbuhnya usaha lokal.

Pertamina menyampaikan akan memperluas dukungan kepada UMKM di seluruh Indonesia. Dukungan itu diarahkan agar lebih banyak produk lokal memiliki kesempatan masuk ke pasar global. Strategi ini diharapkan memperkuat ekosistem usaha mikro yang kompetitif dan berkelanjutan.

Kasus Yammy Babeh menunjukkan bahwa usaha kecil dapat naik kelas melalui inovasi, pendampingan, dan akses pasar yang tepat. Dari Sukabumi, produk olahan singkong itu kini membawa nama Indonesia ke panggung internasional. Capaian tersebut menjadi contoh bahwa keberhasilan ekspor dapat lahir dari ketekunan dan kolaborasi yang konsisten.

Tag Terkait
#UMKM#ekspor#Sukabumi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!