Vaginal Atrophy pada Wanita: Gejala, Penyebab, dan Risikonya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 17:13 WIB 2
Vaginal Atrophy pada Wanita: Gejala, Penyebab, dan Risikonya

Vaginal atrophy merupakan kondisi yang kerap dialami perempuan seiring perubahan hormon, terutama saat mendekati menopause. Gangguan ini membuat jaringan vulva dan vagina menipis, kering, rapuh, serta lebih mudah terluka, namun masih sering tidak disadari.

Penelitian terbaru dari KK Women’s and Children’s Hospital di Singapura menunjukkan, 4 dari 10 perempuan usia 45 hingga 65 tahun mengalami gejala sedang hingga berat. Temuan ini menegaskan bahwa vaginal atrophy bukan keluhan ringan, melainkan masalah kesehatan intim yang perlu dikenali lebih awal.

Memahami Vaginal Atrophy

Vaginal atrophy adalah kondisi ketika jaringan di area vagina mengalami penipisan dan peradangan akibat penurunan hormon. Berbeda dengan kekeringan vagina yang hanya menggambarkan berkurangnya pelumasan, kondisi ini mencakup perubahan yang lebih luas pada jaringan intim.

Dokter spesialis menyebut kondisi ini sering berkembang perlahan, sehingga banyak perempuan tidak menyadari perubahan yang terjadi. Padahal, rasa tidak nyaman saat beraktivitas, berhubungan intim, hingga saat buang air kecil dapat menjadi tanda awal.

Keluhan ini juga dapat muncul pada fase selain menopause, seperti saat menyusui atau ketika tubuh mengalami stres. Sejumlah kondisi kesehatan, termasuk diabetes dan penggunaan obat tertentu, juga dapat memperburuk gejalanya.

Gejala yang Sering Terlewat

Gejala vaginal atrophy tidak selalu muncul dalam bentuk yang jelas pada awalnya. Sebagian perempuan hanya merasakan vagina kering, perih, atau mudah iritasi, lalu menganggapnya sebagai keluhan biasa.

Seiring waktu, gejala dapat berkembang menjadi nyeri saat berhubungan intim, rasa terbakar, dan ketidaknyamanan berulang pada area vagina. Dalam banyak kasus, keluhan juga berkaitan dengan gangguan saluran kemih yang muncul berulang.

Spesialis uroginekologi menjelaskan, banyak pasien baru datang saat kondisi sudah cukup berat. Mereka biasanya mengeluhkan infeksi saluran kemih yang tidak kunjung membaik, urin berdarah samar, atau masalah saat berkemih.

Kaitan Dengan Menopause

Menopause menjadi salah satu fase paling erat kaitannya dengan vaginal atrophy karena kadar estrogen menurun secara alami. Saat hormon ini turun, kulit di sekitar vagina dan vulva menipis, lalu menjadi lebih rentan terhadap luka dan infeksi.

Jarak antara saluran kemih dan vagina yang semakin dekat juga membuat bakteri lebih mudah berpindah. Retakan kecil pada kulit dapat menjadi jalan masuk bakteri yang kemudian memicu infeksi saluran kemih atau kandung kemih.

Para ahli menilai, fase perimenopause sering menjadi masa ketika keluhan mulai terasa, namun belum banyak dibicarakan. Akibatnya, banyak perempuan tidak mengaitkan keluhan intim dengan perubahan hormon yang sedang terjadi di tubuhnya.

Pentingnya Pemeriksaan Dini

Kurangnya pengetahuan membuat banyak perempuan menunda pemeriksaan hingga gejala memburuk. Dalam banyak kasus, mereka baru mengetahui penyebab keluhan setelah berpindah dari dokter umum ke dokter spesialis.

Pemeriksaan dini penting agar penanganan dapat disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan keluhan. Dengan diagnosis yang tepat, perempuan dapat memperoleh terapi yang membantu mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah komplikasi.

Para tenaga medis juga menekankan pentingnya keterbukaan saat berkonsultasi mengenai kesehatan intim. Semakin cepat keluhan disampaikan, semakin besar peluang untuk mengelola vaginal atrophy sebelum berdampak lebih jauh pada kualitas hidup.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!