Makanan yang Disangka UPF, Ternyata Tidak Selalu

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 03:07 WIB 4
Makanan yang Disangka UPF, Ternyata Tidak Selalu

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, terutama saat banyak makanan kemasan ikut dicurigai sebagai pemicu masalah kesehatan. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki tingkat pemrosesan dan kandungan gizi yang sama, sehingga penilaian tidak bisa disamaratakan.

Sejumlah produk yang kerap dicap UPF, justru masih dapat mengandung protein, vitamin, mineral, atau zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, memahami komposisi dan cara pengolahan menjadi penting agar masyarakat tidak keliru menilai makanan sehari-hari.

Pahami UPF pada Makanan

UPF sering dipahami secara sederhana sebagai makanan kemasan yang dianggap tidak sehat. Pemahaman seperti ini membuat banyak orang langsung memberi label negatif pada produk yang sebenarnya masih memiliki nilai gizi.

Dalam praktiknya, klasifikasi pangan olahan bergantung pada bahan baku, jumlah tambahan, serta tingkat pemrosesannya. Semakin panjang daftar bahan tambahan, semakin besar kemungkinan produk tersebut masuk kategori ultra-processed.

Namun, makanan olahan tidak otomatis buruk bagi tubuh. Beberapa produk tetap bisa menjadi sumber energi dan zat gizi yang berguna, terutama jika dikonsumsi dalam porsi yang wajar.

Karena itu, konsumen perlu membaca label dengan lebih cermat sebelum menyimpulkan suatu produk tidak sehat. Pendekatan ini membantu masyarakat menilai makanan secara lebih objektif dan sesuai konteks.

Sarden Kalengan Tidak Selalu

Sarden kalengan menjadi salah satu produk yang sering disangka UPF. Padahal, statusnya sangat bergantung pada komposisi yang digunakan produsen.

Jika isi produk sederhana, misalnya ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, maka sarden tersebut cenderung mendekati processed foods. Komposisi seperti ini masih bisa dipahami sebagai bentuk pengawetan bahan pangan.

Berbeda halnya jika produk mengandung banyak tambahan, seperti perisa, pengental, pemanis, atau aditif lain. Dalam kondisi tersebut, sebagian sarden kalengan bisa masuk kategori ultra-processed foods.

Perbedaan komposisi inilah yang membuat penilaian terhadap sarden kalengan tidak bisa digeneralisasi. Konsumen perlu melihat label kemasan agar tahu apakah produk tersebut masih tergolong sederhana atau sudah melalui formulasi kompleks.

Susu UHT Perlu Dilihat

Susu UHT plain juga sering masuk dalam perdebatan soal UPF. Sebagian peneliti menilai produk ini masih dapat digolongkan sebagai processed foods, bukan otomatis ultra-processed.

Karakter susu UHT tanpa banyak tambahan umumnya masih relatif sederhana. Proses pemanasan tinggi dilakukan untuk memperpanjang daya simpan, bukan semata-mata untuk membentuk produk dengan formulasi kompleks.

Situasinya berubah ketika susu UHT ditambah perisa, pemanis, atau campuran lain dalam jumlah yang lebih kompleks. Produk seperti ini lebih sering ditempatkan sebagai ultra-processed foods karena komposisinya sudah jauh berbeda dari susu plain.

Karena itu, konsumen sebaiknya tidak menyamakan semua susu UHT dalam satu kategori yang sama. Membaca varian rasa dan daftar bahan menjadi langkah penting sebelum menentukan pilihan konsumsi.

Cermati Label Sebelum Membeli

Langkah paling aman adalah memeriksa daftar bahan pada kemasan. Daftar yang lebih pendek dan lebih mudah dikenali biasanya memberi gambaran bahwa produk tersebut tidak terlalu kompleks.

Selain itu, perhatikan juga kandungan gula, garam, dan lemak yang tercantum pada label gizi. Tiga komponen ini sering menjadi penentu apakah suatu produk masih layak dikonsumsi secara rutin atau hanya sesekali.

Masyarakat juga perlu menyesuaikan pilihan makanan dengan kebutuhan harian. Produk olahan tetap bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang selama tidak dikonsumsi berlebihan.

Dengan memahami perbedaan antara processed foods dan ultra-processed foods, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih tepat. Cara ini membantu mengurangi kekhawatiran berlebihan terhadap makanan kemasan yang belum tentu memiliki dampak kesehatan yang sama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!