Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Resilien Perempuan

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 03:41 WIB 2
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Resilien Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar ajang bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menempatkan pengungsi perempuan dari sejumlah negara sebagai model sekaligus seniman, dengan tujuan menampilkan sisi ketangguhan, bakat, dan harapan mereka di Indonesia.

Acara tersebut menghadirkan perempuan pengungsi dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan dalam sebuah panggung apresiasi yang menggabungkan mode dan seni. Melalui inisiatif ini, Makaila Haifa dan UNHCR ingin memperkuat pesan bahwa perempuan yang pernah menghadapi krisis tetap dapat tumbuh, berkarya, dan memberi inspirasi.

Resiliensi perempuan dalam mode

Mishka Project menjadi bagian dari rangkaian acara dengan mempersembahkan trunk show yang menampilkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan. Para peserta hadir dengan latar belakang yang beragam, namun membawa pesan yang sama, yakni keberanian untuk bangkit dan tampil percaya diri.

Perempuan pengungsi yang terlibat berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, dan telah mencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka di panggung memberi ruang bagi publik untuk melihat mereka bukan semata sebagai kelompok rentan, melainkan individu dengan talenta dan aspirasi.

Format trunk show dipilih untuk mempertemukan elemen busana, seni, dan narasi kemanusiaan dalam satu pengalaman visual. Lewat pendekatan itu, acara ini tidak hanya menampilkan koleksi busana, tetapi juga cerita hidup para perempuan yang terlibat di dalamnya.

Momentum Hari Perempuan Internasional dimanfaatkan untuk menegaskan pentingnya dukungan terhadap perempuan yang terdampak konflik dan perpindahan paksa. Di tengah sorotan panggung, pesan yang dibawa adalah bahwa resiliensi dapat tumbuh ketika ada ruang aman untuk berekspresi.

Makaila Haifa dan UNHCR

Kolaborasi Makaila Haifa dengan UNHCR menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan peran perempuan pengungsi melalui medium mode. Brand hijab dan modest wear lokal itu menghadirkan pendekatan yang menggabungkan kepedulian sosial dengan identitas kreatifnya.

UNHCR sebagai lembaga PBB untuk pengungsi memiliki mandat melindungi dan mendampingi orang-orang yang terpaksa meninggalkan negara asalnya. Dalam kerja sama ini, pesan perlindungan diterjemahkan ke dalam panggung yang memberi kesempatan bagi para perempuan untuk tampil dan didengar.

Acara bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving dirancang untuk mengubah sudut pandang terhadap kehidupan pengungsi. Alih-alih hanya menyoroti kesulitan, acara ini menampilkan kemampuan mereka untuk bertahan, berkembang, dan berkontribusi.

Inisiatif seperti ini juga menunjukkan bahwa industri mode dapat menjadi ruang advokasi yang efektif. Saat mode bertemu dengan isu kemanusiaan, pesan yang dihasilkan dapat menjangkau publik yang lebih luas dan lebih mudah diingat.

Karya seni para pengungsi

Selain peragaan busana, acara ini juga menghadirkan pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut memperkaya suasana acara dengan menampilkan ekspresi visual yang lahir dari pengalaman personal dan kreativitas.

Pameran seni memberi kesempatan bagi para pengungsi untuk menunjukkan bahwa kemampuan mereka tidak terbatas pada satu bidang. Melalui lukisan dan rancangan visual, mereka menyampaikan identitas, emosi, dan perspektif yang jarang terlihat di ruang publik.

Kehadiran karya seni dalam ajang ini memperluas makna resiliensi perempuan. Ketika busana dan seni dipadukan, keduanya membentuk narasi yang kuat tentang keberanian, pemulihan, dan harapan baru.

Pengunjung pun dapat melihat langsung bagaimana pengalaman hidup yang berat dapat diterjemahkan menjadi karya yang bernilai. Dari sana, acara ini menegaskan bahwa proses bertahan hidup dapat menjadi awal dari pencapaian yang lebih besar.

Pesan di balik panggung

Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok penting di balik inisiatif yang mengubah narasi pengungsi menjadi lebih berdaya. Melalui tangan dinginnya, Mishka Project dirancang untuk menonjolkan potensi para perempuan yang kerap dipersepsikan dari sisi keterbatasan.

Pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk tumbuh, meski berada dalam situasi yang tidak mudah. Dalam konteks ini, panggung mode berfungsi sebagai simbol pengakuan atas martabat dan kemampuan mereka.

Kolaborasi tersebut juga mencerminkan pentingnya dukungan komunitas bagi pengungsi yang tinggal di Indonesia. Dengan memberi ruang tampil, penyelenggara membantu membangun rasa percaya diri sekaligus membuka dialog yang lebih manusiawi di masyarakat.

Ajang ini menempatkan perempuan sebagai subjek utama, bukan sekadar objek belas kasihan. Di tengah peringatan Hari Perempuan Internasional 2026, pesan itu menjadi pengingat bahwa ketangguhan dapat lahir dari pengalaman paling sulit sekalipun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!