Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000, Ini Pemicunya

Forex & Saham Gilang Nabaris 01 Juni 2026 05:01 WIB 3
Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan melanjutkan tren pelemahan pada pekan depan. Mata uang Garuda berpotensi menembus level psikologis di atas Rp18.000 per dolar AS, dipicu tekanan eksternal dan persoalan struktural di dalam negeri.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan itu tidak hanya disebabkan faktor teknikal atau kebijakan moneter Bank Indonesia. Ia menyebut tekanan datang dari defisit transaksi berjalan, impor energi, kebutuhan dolar untuk dividen asing, serta sentimen atas kebijakan pemerintah yang dinilai memicu ketidakpastian.

Tekanan Rupiah Meningkat

Ibrahim mengatakan rupiah saat ini berada di titik rawan karena pasar terus mencermati pergerakan dolar AS. Menurut dia, jika level Rp18.000 ditembus, pelemahan dapat berlanjut menuju Rp18.200. Kondisi itu terjadi ketika kebutuhan dolar di dalam negeri tetap tinggi, sementara pasokan valas masih terbatas.

Ia menyoroti beban impor minyak mentah yang masih besar bagi Indonesia. Dalam asumsi APBN, harga minyak dipatok di US$70 per barel dengan kurs Rp16.500, sedangkan saat ini kurs sudah mendekati Rp17.900 dan harga minyak bergerak di atas US$90. Selisih itu membuat pemerintah harus menyediakan dolar dalam jumlah lebih besar untuk menutup kebutuhan energi.

Menurut Ibrahim, sekitar 85 persen impor minyak mentah juga berkaitan dengan subsidi. Situasi tersebut menambah tekanan pada fiskal negara dan memperlebar beban untuk menutup defisit. Dalam kondisi seperti ini, rupiah menjadi lebih rentan terhadap gejolak pasar global.

Impor Energi Membebani Fiskal

Defisit transaksi berjalan menjadi salah satu faktor utama yang disorot pasar. Ketergantungan pada impor energi membuat permintaan dolar meningkat secara struktural, bukan hanya musiman. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah berlangsung lebih lama dan lebih sulit diredam.

Ibrahim menilai kondisi itu turut membebani pemerintah karena kebutuhan devisa terus meningkat. Saat harga minyak naik, pengeluaran valas untuk impor energi ikut membesar. Dalam situasi tersebut, ruang untuk menjaga stabilitas rupiah menjadi semakin sempit.

Ia menambahkan bahwa tekanan fiskal dapat berimbas pada persepsi investor terhadap ketahanan ekonomi nasional. Pasar cenderung membaca pelemahan rupiah sebagai sinyal bahwa neraca eksternal masih belum kuat. Jika tidak diimbangi kebijakan yang tepat, sentimen negatif dapat terus berlanjut.

Dividen Asing Tekan Pasar

Selain impor energi, permintaan dolar juga terdorong oleh kewajiban pembagian dividen perusahaan asing di Indonesia. Menurut Ibrahim, kondisi itu membuat kebutuhan valas di pasar domestik semakin besar. Ketika permintaan naik sementara pasokan terbatas, rupiah cenderung melemah.

Ia menjelaskan bahwa banyak perusahaan terbuka yang dimiliki investor asing perlu mengirimkan keuntungan ke pemilik saham. Arus keluar dana tersebut memerlukan dolar dalam jumlah besar. Situasi ini memunculkan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

Ibrahim menyebut pasar modal ikut merasakan dampaknya karena pelaku usaha membutuhkan kepastian arus dana. Jika kebutuhan dividen bersamaan dengan tingginya impor, tekanan terhadap mata uang domestik makin kuat. Dalam jangka pendek, kondisi itu membuat pergerakan rupiah sulit stabil.

Sentimen Investor Dan Kebijakan

Dari sisi sentimen, kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI ikut menjadi perhatian. Ibrahim menilai langkah itu sebenarnya bisa baik dalam jangka panjang karena berpotensi menekan ekspor ilegal. Namun, pelaksanaannya yang cepat dinilai menimbulkan kegaduhan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Ia menambahkan bahwa sebagian perusahaan tambang sudah memiliki kontrak jangka pendek hingga jangka panjang dengan mitra luar negeri. Perubahan kebijakan yang berlangsung cepat dapat mengganggu kepastian usaha. Karena itu, investor asing dinilai lebih berhati-hati menempatkan dana di Indonesia.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai rupiah masih berisiko melemah hingga ke level Rp19.000 per dolar AS jika tembus Rp18.000. Ia menyebut level psikologis tersebut dapat mempercepat tekanan pasar. Bhima juga menyoroti kekhawatiran atas defisit APBN, biaya subsidi energi, dan program pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya meyakinkan pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!