Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 11:16 WIB 7
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR dalam peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 melalui ajang Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini digelar untuk memberi ruang apresiasi bagi perempuan pengungsi dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan, yang tampil sebagai model sekaligus seniman.

Melalui panggung tersebut, Mishka Project menghadirkan trunk show yang menampilkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana perempuan asal India, Revathi Prabaharan. Kolaborasi ini menegaskan pesan bahwa para pengungsi memiliki ketangguhan, karya, dan potensi yang layak mendapat sorotan publik.

Fashion muslim dan ketangguhan

Makaila Haifa memosisikan kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan narasi yang lebih positif tentang perempuan pengungsi. Alih-alih dipandang sebagai kelompok yang serba terbatas, mereka ditampilkan sebagai individu yang kreatif dan berdaya.

Panggung tersebut mempertemukan nilai kemanusiaan dengan ekspresi mode yang inklusif. Pendekatan ini memberi ruang bagi busana muslim untuk hadir bukan hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai medium cerita.

Pesan utama acara ini menyoroti kemampuan perempuan untuk bertahan sekaligus berkembang di tengah situasi sulit. Dalam konteks itu, fashion menjadi sarana untuk menguatkan martabat dan kepercayaan diri para peserta.

Perempuan pengungsi di panggung

Para peserta berasal dari sejumlah negara yang terdampak konflik dan kemudian mencari suaka di Indonesia. Mereka datang dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan dengan latar pengalaman yang berbeda.

Dalam trunk show tersebut, lima perempuan pengungsi tampil sebagai model yang memperagakan koleksi busana. Kehadiran Revathi Prabaharan dari India menambah keragaman representasi di atas panggung.

Partisipasi mereka menunjukkan bahwa ruang fashion dapat menjadi tempat pertemuan lintas budaya. Acara ini juga memperlihatkan bagaimana ekspresi diri dapat tumbuh meski di tengah perjalanan hidup yang berat.

Karya dan ekspresi artistik

Selain peragaan busana, acara ini turut menampilkan karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Elemen seni tersebut memperkaya narasi acara dengan perspektif visual yang lebih personal.

Kehadiran karya seni memberi kesempatan bagi para pengungsi untuk memperlihatkan kemampuan lain di luar peragaan busana. Dengan demikian, acara tidak hanya menonjolkan penampilan, tetapi juga kreativitas yang lahir dari pengalaman hidup mereka.

Perpaduan mode dan seni membuat pesan acara terasa lebih kuat dan relevan. Setiap karya menjadi simbol bahwa ketahanan dapat diwujudkan dalam banyak bentuk ekspresi.

Makna kolaborasi bagi publik

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR memberi contoh bagaimana industri mode dapat berkontribusi pada isu sosial. Lewat panggung seperti ini, publik diajak melihat pengungsi perempuan sebagai pribadi yang memiliki aspirasi dan kemampuan.

Inisiatif tersebut juga memperluas pemahaman tentang peran fashion lokal dalam membangun empati. Brand hijab dapat menjadi ruang yang tidak hanya komersial, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan.

Melalui Women's Resilience: From Surviving to Thriving, pesan tentang keberanian dan daya juang perempuan disampaikan dengan cara yang hangat. Acara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketangguhan dapat tumbuh ketika ruang untuk berkarya dibuka secara setara.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!