Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 22 Mei 2026 05:07 WIB 7
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar acara bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Panggung ini menjadi ruang apresiasi bagi pengungsi perempuan dari berbagai negara untuk tampil sebagai model sekaligus seniman. Kegiatan tersebut menonjolkan pesan tentang ketangguhan, kreativitas, dan peluang untuk bangkit melalui fashion. Acara ini juga menegaskan bahwa karya busana dapat menjadi medium pemberdayaan yang kuat.

Melalui inisiatif Mishka Project, trunk show tersebut menampilkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan. Para peserta berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, yang telah mencari suaka di Indonesia. Selain peragaan busana, acara ini turut menghadirkan karya fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Kolaborasi itu memperlihatkan pertemuan antara gaya, seni, dan pesan kemanusiaan.

Ruang bagi Ketangguhan

Makaila Haifa memanfaatkan panggung mode untuk menyampaikan narasi yang lebih luas tentang ketahanan perempuan. Di hadapan publik, para pengungsi tidak hanya tampil sebagai penerima perlindungan, tetapi juga sebagai individu dengan bakat dan potensi. Pendekatan ini memberi ruang bagi mereka untuk menunjukkan identitas diri secara lebih utuh. Pesan yang dibawa sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional.

Founder Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok di balik konsep yang mengubah pandangan terhadap pengungsi. Ia ingin menghadirkan cerita yang tidak berhenti pada pengalaman sulit, melainkan bergerak menuju pemberdayaan. Melalui Mishka Project, ia menyusun ruang kolaboratif yang menempatkan para pengungsi sebagai subjek utama. Cara ini membuat acara terasa lebih personal dan bermakna.

Kehadiran UNHCR memperkuat nilai sosial dari peragaan busana tersebut. Lembaga itu memberikan dukungan agar para pengungsi dapat tampil dengan percaya diri di ruang publik. Sinergi ini menunjukkan bahwa perlindungan dan pemberdayaan dapat berjalan beriringan. Fashion pun tampil sebagai jembatan untuk menyampaikan empati dan solidaritas.

Peragaan Penuh Makna

Trunk show yang digelar menampilkan busana muslim dengan sentuhan modern dan elegan. Para model pengungsi berjalan di atas panggung dengan membawa karakter masing-masing. Setiap penampilan dirancang untuk menonjolkan keanggunan tanpa meninggalkan pesan sosial. Suasana acara terasa hangat karena memadukan estetika dan kemanusiaan.

Revathi Prabaharan, peraga busana asal India, turut memberi warna dalam pertunjukan tersebut. Kehadirannya melengkapi komposisi model yang berasal dari sejumlah negara berbeda. Keragaman latar belakang itu mempertegas bahwa mode dapat merangkul banyak cerita. Panggung menjadi ruang yang menyatukan pengalaman lintas budaya.

Para pengungsi dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan menunjukkan bahwa talenta dapat tumbuh dalam kondisi apa pun. Mereka tidak hanya memperagakan busana, tetapi juga menghadirkan kepercayaan diri di depan publik. Hal ini memberi inspirasi bagi penonton yang menyaksikan langsung acara tersebut. Pesan yang tersampaikan adalah bahwa kesempatan dapat membuka jalan menuju keberdayaan.

Seni dan Busana

Selain peragaan busana, pengunjung juga dapat melihat pameran fashion painting dari pengungsi berbakat. Karya-karya tersebut datang dari seniman asal Sri Lanka dan Afghanistan. Kehadiran unsur seni visual memberi lapisan baru pada pengalaman acara. Perpaduan ini membuat tema pemberdayaan terasa lebih kaya dan ekspresif.

Fashion painting menjadi sarana bagi para pengungsi untuk mengekspresikan pengalaman hidup mereka. Melalui warna dan bentuk, mereka menyampaikan emosi yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang penyembuhan. Di sisi lain, busana juga menjadi media untuk memperkenalkan identitas budaya.

Kolaborasi antara mode dan seni membuat acara ini tidak hanya berfokus pada tampilan luar. Nilai utama yang dibangun adalah pengakuan atas kapasitas dan martabat para perempuan pengungsi. Karya yang dipamerkan menegaskan bahwa mereka memiliki suara yang layak didengar. Dari panggung itu, pesan keberanian dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Pesan dari Kolaborasi

Kerja sama Makaila Haifa dan UNHCR memperlihatkan bahwa industri fashion dapat memiliki dampak sosial yang nyata. Inisiatif seperti ini membantu membuka ruang partisipasi bagi kelompok yang kerap terpinggirkan. Saat kesempatan diberikan, mereka dapat tampil, berkarya, dan membangun kepercayaan diri. Nilai tersebut menjadi inti dari peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini.

Acara Women’s Resilience: From Surviving to Thriving juga menegaskan pentingnya representasi yang inklusif. Kehadiran perempuan pengungsi di panggung mode memperluas definisi tentang kecantikan dan ketangguhan. Mereka hadir bukan sekadar untuk ditonton, melainkan untuk diakui sebagai individu yang berdaya. Pandangan ini sejalan dengan semangat pemberdayaan perempuan secara global.

Melalui Mishka Project, Makaila Haifa menunjukkan bahwa busana dapat menjadi alat perubahan sosial yang efektif. Peragaan dan pameran yang digelar memberi ruang dialog antara mode, seni, dan isu kemanusiaan. Kolaborasi tersebut mengirim pesan bahwa ketahanan perempuan dapat tumbuh dari pengalaman paling sulit sekalipun. Dari panggung inilah, harapan untuk masa depan yang lebih inklusif dipertegas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!