Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Pengungsi Perempuan

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 00:18 WIB 6
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Pengungsi Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menjadi panggung apresiasi bagi pengungsi perempuan dari sejumlah negara, termasuk Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan. Mereka tampil sebagai model sekaligus seniman dalam sebuah perhelatan yang menonjolkan ketangguhan, kreativitas, dan harapan. Kegiatan tersebut digelar sebagai ruang untuk mengangkat suara perempuan yang kerap menghadapi tantangan berlapis.

Lewat program Mishka Project, Makaila Haifa menghadirkan trunk show yang menampilkan lima pengungsi perempuan dan satu peraga busana perempuan asal India, Revathi Prabaharan. Para pengungsi yang terlibat berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, dengan status suaka di Indonesia. Kolaborasi ini sekaligus menegaskan bahwa fashion dapat menjadi medium inklusif untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Di balik panggung, acara tersebut dirancang untuk mengubah narasi tentang pengungsi dari sosok yang serba terbatas menjadi individu yang berdaya.

Hijab dan busana muslim

Makaila Haifa menempatkan hijab dan busana muslim sebagai medium untuk menyampaikan pesan sosial yang kuat. Melalui kolaborasi dengan UNHCR, merek ini ingin menunjukkan bahwa industri fashion dapat memberi ruang bagi kelompok rentan. Pendekatan tersebut tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga nilai kemanusiaan yang lebih luas. Di momen Hari Perempuan Internasional, pesan itu menjadi semakin relevan bagi publik.

Acara ini memperlihatkan bagaimana sebuah brand lokal dapat berperan dalam isu global melalui karya yang inklusif. Fashion diposisikan bukan semata sebagai produk, melainkan sebagai sarana membangun empati. Dengan melibatkan pengungsi perempuan, Makaila Haifa menghadirkan representasi yang jarang terlihat di panggung utama. Langkah ini memberi contoh bahwa industri kreatif dapat bergerak sejalan dengan agenda sosial.

Kolaborasi dengan UNHCR juga menegaskan pentingnya dukungan terhadap kelompok pengungsi di Indonesia. Kehadiran para peserta dalam panggung fashion memberi ruang untuk mengenal kisah mereka secara lebih dekat. Dari sana, publik diajak melihat bahwa ketangguhan perempuan dapat hadir dalam berbagai bentuk. Panggung tersebut pun menjadi simbol bahwa keberanian dan kreativitas dapat berjalan berdampingan.

Hijab dan kisah pengungsi

Para pengungsi perempuan yang tampil dalam acara ini datang dari latar belakang yang berbeda, namun membawa semangat yang sama. Mereka berasal dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan, lalu menemukan ruang ekspresi di Indonesia. Melalui panggung itu, mereka tidak hanya tampil sebagai model, tetapi juga sebagai pembawa cerita hidup. Setiap langkah di catwalk menjadi representasi dari perjalanan panjang yang mereka lalui.

Mishka Project menonjolkan kemampuan mereka untuk tetap berkarya meski berada dalam situasi yang tidak mudah. Seni, mode, dan performa dipadukan untuk menampilkan sisi manusiawi para pengungsi. Pendekatan tersebut memberikan perspektif baru terhadap isu pengungsian yang sering dipahami secara sempit. Dalam acara ini, pengungsi perempuan ditampilkan sebagai individu yang penuh potensi dan daya juang.

Keikutsertaan Revathi Prabaharan dari India turut memperkaya ragam representasi dalam pertunjukan itu. Kehadiran model dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa kolaborasi lintas budaya dapat berjalan harmonis. Panggung yang dibangun Makaila Haifa dan UNHCR pun menjadi ruang pertemuan bagi nilai keberagaman. Dari sini, pesan persatuan dan penghormatan terhadap martabat manusia semakin menguat.

Hijab dan karya fashion painting

Selain trunk show, acara ini juga menampilkan pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa talenta para pengungsi tidak terbatas pada peragaan busana. Ada kreativitas visual yang ikut memberi warna pada keseluruhan acara. Dengan demikian, panggung ini menjadi ajang seni multidimensi yang saling melengkapi.

Pameran tersebut menghadirkan karya yang merefleksikan pengalaman, harapan, dan identitas para seniman pengungsi. Dalam konteks ini, fashion painting menjadi media ekspresi yang kuat dan personal. Penonton dapat melihat bagaimana seni mampu menyuarakan perasaan yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Kehadiran karya itu memperluas makna perayaan Hari Perempuan Internasional.

Melalui pendekatan tersebut, Makaila Haifa menekankan bahwa pemberdayaan perempuan dapat diwujudkan lewat akses pada ruang kreasi. UNHCR pun mendukung gagasan bahwa pengungsi perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Acara ini membuktikan bahwa karya seni dapat menjadi jembatan antara pengalaman hidup dan apresiasi publik. Hasilnya, pesan ketangguhan perempuan tersampaikan dengan lebih kuat dan menyentuh.

Hijab dan pesan pemberdayaan

Founder Makaila Haifa, Ling Hida, melalui Mishka Project, menggarisbawahi pentingnya mengubah cara pandang terhadap pengungsi. Ia menghadirkan mereka sebagai sosok yang berdaya, bukan sekadar pihak yang membutuhkan bantuan. Langkah tersebut sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional yang menyoroti kesetaraan dan penghormatan terhadap perempuan. Dalam konteks ini, fashion dijadikan kendaraan untuk menyampaikan nilai yang lebih besar.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat lahir dari kerja sama antara brand lokal dan lembaga kemanusiaan internasional. Ketika ruang tampil dibuka, pengungsi perempuan dapat menunjukkan kemampuan, kepercayaan diri, dan identitas mereka. Publik pun diajak melihat bahwa potensi manusia tidak hilang meski berada dalam kondisi sulit. Narasi yang dibangun menjadi lebih positif, inklusif, dan inspiratif.

Dengan mengusung tema Women’s Resilience: From Surviving to Thriving, acara ini menegaskan perjalanan dari bertahan menuju berkembang. Pesan tersebut relevan bagi perempuan di berbagai latar belakang, termasuk mereka yang hidup sebagai pengungsi. Makaila Haifa dan UNHCR berhasil menghadirkan panggung yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga kuat secara makna. Perayaan itu pun meninggalkan pesan bahwa ketangguhan perempuan layak mendapat ruang yang setara.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!