Makaila Haifa dan UNHCR Angkat Kisah Pengungsi Perempuan

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 00:34 WIB 2
Makaila Haifa dan UNHCR Angkat Kisah Pengungsi Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menghadirkan pengungsi perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan sebagai model sekaligus seniman. Panggung tersebut dirancang untuk memberi ruang apresiasi atas ketangguhan, bakat, dan pengalaman hidup mereka. Melalui kolaborasi ini, mode diposisikan sebagai medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat.

Selain menjadi ajang peragaan busana, kegiatan ini juga menampilkan trunk show dari Mishka Project yang melibatkan pengungsi perempuan dari beberapa negara. Mereka tampil bersama Revathi Prabaharan, peraga busana perempuan asal India, dalam sebuah presentasi yang menonjolkan keberagaman. Kehadiran para peserta tidak hanya memperkuat nilai artistik, tetapi juga menghadirkan narasi baru tentang pemberdayaan. Gelaran ini menunjukkan bahwa fashion dapat menjadi ruang inklusif bagi perempuan dengan latar belakang berbeda.

Makaila Haifa dan UNHCR

Kolaborasi Makaila Haifa dengan UNHCR menjadi sorotan utama dalam peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini. Program tersebut dirancang untuk mengangkat pengalaman para pengungsi perempuan yang kerap menghadapi tantangan berat dalam kehidupan sehari-hari. Melalui panggung fashion, mereka diberi kesempatan untuk tampil percaya diri dan memperkenalkan karya serta identitas mereka. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa industri busana juga dapat berperan dalam isu sosial dan kemanusiaan.

Acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving itu mengusung pesan tentang kemampuan perempuan untuk bangkit dari kesulitan. UNHCR hadir sebagai mitra yang mendukung upaya pemberdayaan pengungsi melalui ruang ekspresi yang aman dan terbuka. Sementara itu, Makaila Haifa membawa karakter modest wear lokal yang modern dan relevan dengan audiens luas. Sinergi keduanya memperkuat pesan bahwa solidaritas dapat disampaikan lewat karya kreatif.

Menurut penyelenggaraan yang dihadirkan, kolaborasi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap keberanian perempuan lintas negara. Panggung yang dibangun tidak semata menampilkan busana, tetapi juga kisah hidup yang penuh perjuangan. Para pengungsi perempuan tampil sebagai individu yang memiliki potensi, bukan sekadar penerima bantuan. Dengan cara itu, acara ini membangun persepsi yang lebih positif dan manusiawi terhadap komunitas pengungsi.

Makaila Haifa Angkat Kisah

Di balik proyek ini, pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok yang mendorong transformasi narasi pengungsi. Ia mengubah pandangan yang sering melekat pada pengungsi sebagai kelompok yang serba terbatas menjadi pribadi yang berdaya. Melalui Mishka Project, para peserta diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka di bidang fashion dan seni. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pemberdayaan bisa dimulai dari kesempatan untuk tampil dan didengar.

Pengungsi perempuan dari Irak, Palestina, dan Somalia yang menetap di Indonesia menjadi bagian penting dalam pertunjukan ini. Mereka tidak hanya berjalan di atas panggung, tetapi juga membawa cerita tentang ketahanan dan harapan. Kehadiran mereka memberi warna pada trunk show yang menggabungkan unsur mode, seni, dan pesan sosial. Dalam konteks ini, busana menjadi sarana untuk merayakan identitas dan keberanian.

Selain peragaan busana, acara ini juga membuka ruang bagi apresiasi terhadap kerja kreatif para peserta. Setiap penampilan mencerminkan perjalanan personal yang tidak ringan, namun tetap penuh semangat. Penonton diajak melihat bahwa di balik status pengungsi, terdapat talenta yang layak diberi panggung. Pesan inilah yang membuat kegiatan tersebut melampaui sekadar acara mode biasa.

Makaila Haifa dan Panggung

Trunk show yang digelar Makaila Haifa menghadirkan lima wanita pengungsi sebagai model utama dalam presentasi busana. Mereka tampil bersama satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan, yang menambah nuansa internasional pada acara tersebut. Format ini memperlihatkan bahwa panggung fashion dapat menjadi ruang kolaborasi lintas negara dan lintas pengalaman. Kehadiran para model membawa perspektif baru tentang representasi perempuan dalam industri kreatif.

Pameran karya fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan juga menjadi daya tarik tersendiri. Karya-karya tersebut memperkaya pengalaman visual sekaligus menegaskan bahwa para pengungsi memiliki kemampuan artistik yang kuat. Kombinasi antara busana dan seni lukis menjadikan acara ini lebih dari sekadar peragaan, karena membawa lapisan makna yang beragam. Dengan begitu, publik tidak hanya menikmati estetika, tetapi juga memahami latar sosial para peserta.

Melalui pengemasan yang matang, acara ini berhasil menempatkan pengungsi perempuan sebagai pusat perhatian yang positif. Mereka tampil sebagai individu yang berdaya, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata dalam ruang publik. Makaila Haifa dan UNHCR menunjukkan bahwa kolaborasi antara brand lokal dan lembaga kemanusiaan dapat menghasilkan dampak yang luas. Panggung tersebut menjadi simbol bahwa resilience perempuan layak dirayakan dengan cara yang elegan dan bermakna.

Makaila Haifa dan Dampak

Gelaran ini memberi pesan penting bahwa fashion dapat menjadi alat komunikasi sosial yang efektif. Ketika busana dipadukan dengan isu kemanusiaan, pesan yang dihasilkan menjadi lebih dekat dengan publik. Makaila Haifa memanfaatkan identitas modest wear untuk menyampaikan nilai empati, inklusi, dan penghormatan terhadap perempuan. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional yang menekankan kesetaraan dan pemberdayaan.

Kolaborasi dengan UNHCR juga menunjukkan bahwa sektor mode bisa mengambil peran dalam isu pengungsian. Alih-alih hanya berfokus pada tren, acara ini menempatkan manusia dan pengalaman mereka sebagai inti cerita. Hal itu membuat trunk show memiliki relevansi sosial yang kuat, terutama di tengah kebutuhan akan representasi yang lebih adil. Narasi yang dibangun pun menjadi lebih segar karena menampilkan pengungsi sebagai subjek yang aktif.

Ke depan, model kolaborasi seperti ini berpotensi menjadi contoh bagi brand lokal lain yang ingin terlibat dalam gerakan sosial. Dengan menghadirkan ruang ekspresi bagi kelompok rentan, industri kreatif dapat memberi kontribusi nyata di luar aspek komersial. Acara ini membuktikan bahwa mode, seni, dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan. Dari panggung tersebut, lahir pesan bahwa ketangguhan perempuan patut dihargai dan dirayakan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!