Makaila Haifa Angkat Kisah Pengungsi Perempuan Lewat Fashion

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 05:27 WIB 3
Makaila Haifa Angkat Kisah Pengungsi Perempuan Lewat Fashion

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menghadirkan panggung apresiasi bagi pengungsi perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan, yang tampil sebagai model sekaligus seniman.

Melalui trunk show bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving – Mishka Project by Makaila Haifa, para peserta menampilkan karya dan busana yang membawa pesan ketangguhan. Inisiatif ini juga menjadi ruang publik yang menyoroti potensi, martabat, dan daya cipta para pengungsi perempuan di Indonesia.

Fashion yang Memberdayakan

Makaila Haifa menghadirkan kolaborasi yang menggabungkan mode, kepedulian sosial, dan narasi kemanusiaan. Panggung yang disiapkan tidak hanya menampilkan busana, tetapi juga kisah hidup para perempuan pengungsi. Pendekatan ini membuat fashion berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan pesan yang lebih luas. Ajang tersebut menegaskan bahwa kreativitas dapat menjadi sarana pemulihan dan pengakuan.

Konsep yang diusung memberi ruang bagi para peserta untuk tampil dengan percaya diri. Mereka hadir bukan semata sebagai objek sorotan, melainkan sebagai individu dengan kemampuan dan identitas yang kuat. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa fashion dapat menjadi wadah inklusif bagi beragam latar belakang. Pada saat yang sama, acara ini memperkuat nilai empati dalam industri busana muslim.

Kolaborasi dengan UNHCR memperluas makna acara karena menghubungkan dunia mode dengan isu perlindungan pengungsi. Pesan yang dibawa tidak berhenti pada estetika, tetapi juga menyentuh aspek sosial yang nyata. Panggung ini mengajak publik melihat pengungsi perempuan sebagai pihak yang mampu berkarya dan memberi inspirasi. Dengan cara itu, fashion tampil sebagai bahasa universal yang mudah diterima.

Langkah tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap brand yang membawa nilai keberlanjutan sosial. Konsumen kini semakin menghargai produk yang memiliki cerita dan kontribusi bagi masyarakat. Makaila Haifa memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan bahwa identitas merek dapat dibangun melalui aksi yang bermakna. Hasilnya, busana tidak hanya dipandang sebagai produk, tetapi juga sebagai simbol solidaritas.

Kolaborasi dengan UNHCR

UNHCR menjadi mitra penting dalam penyelenggaraan acara ini karena fokus pada perlindungan dan pemberdayaan pengungsi. Kehadiran lembaga tersebut memberi legitimasi pada pesan yang ingin disampaikan melalui panggung fashion. Program ini mempertemukan perspektif kemanusiaan dengan industri kreatif secara langsung. Sinergi itu menghasilkan ruang yang aman dan bermartabat bagi para peserta.

Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa kerja sama lintas sektor dapat melahirkan dampak yang lebih luas. Brand lokal dan lembaga internasional bertemu dalam satu tujuan, yaitu memperkuat suara perempuan pengungsi. Panggung yang dibangun menjadi simbol bahwa dukungan publik bisa diwujudkan lewat acara yang kreatif. Di sisi lain, kegiatan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memahami realitas pengungsi dengan lebih dekat.

Makaila Haifa, melalui pendirinya Ling Hida, menghadirkan pendekatan yang menempatkan narasi kemanusiaan sebagai inti acara. Ia mengubah pandangan yang kerap melekat pada pengungsi menjadi cerita tentang daya juang dan talenta. Pendekatan ini memberi nilai tambah bagi brand karena menyatukan visi sosial dengan estetika busana. Dalam konteks ini, fashion menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran publik.

Kehadiran Mishka Project mempertegas bahwa kolaborasi bukan sekadar ajang seremonial. Program tersebut dirancang untuk memberi panggung nyata kepada perempuan pengungsi agar dapat menunjukkan bakatnya. Dari peragaan busana hingga karya seni, seluruh rangkaian dirangkai untuk menghadirkan pengalaman yang utuh. Hasilnya adalah pertemuan antara kreativitas, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Suara Para Pengungsi

Dalam trunk show ini, lima perempuan pengungsi tampil sebagai model bersama satu peraga busana dari India, Revathi Prabaharan. Para peserta berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, dengan latar perjalanan yang berbeda namun memiliki semangat yang serupa. Mereka membawa pengalaman hidup yang kemudian diterjemahkan ke dalam penampilan di atas panggung. Keberanian mereka menjadi bagian penting dari daya tarik acara.

Selain tampil sebagai model, sejumlah peserta juga mempersembahkan karya fashion painting yang berasal dari Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut memperlihatkan bahwa ekspresi kreatif tidak terbatas pada satu bentuk saja. Melalui seni, mereka menyampaikan emosi, ingatan, dan harapan yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Ruang seni ini menambah kedalaman makna dari keseluruhan acara.

Partisipasi para pengungsi perempuan menunjukkan bahwa bakat dapat tumbuh di tengah situasi yang serba terbatas. Mereka hadir dengan kemampuan yang lahir dari proses adaptasi, ketekunan, dan keberanian. Panggung ini memberi bukti bahwa potensi manusia tidak hilang hanya karena perpindahan tempat tinggal. Justru, pengalaman hidup tersebut dapat menjadi sumber inspirasi yang kuat.

Reaksi terhadap penampilan mereka memperlihatkan bahwa publik membutuhkan lebih banyak ruang untuk mendengar suara kelompok rentan. Saat kisah para pengungsi dihadirkan secara langsung, empati dapat tumbuh secara lebih alami. Fashion pun berubah menjadi medium yang menjembatani jarak antara penonton dan realitas sosial. Dari sana, pesan tentang ketangguhan perempuan menjadi lebih mudah dipahami.

Pesan Inklusif di Panggung

Acara ini menegaskan pentingnya inklusivitas dalam industri fashion, terutama bagi kelompok yang sering terpinggirkan. Makaila Haifa menunjukkan bahwa brand dapat memainkan peran sosial tanpa meninggalkan identitas estetikanya. Pendekatan tersebut membuka ruang bagi publik untuk melihat busana muslim dari perspektif yang lebih luas. Di sisi lain, acara ini juga memperkaya wacana tentang representasi perempuan.

Pesan utama yang muncul adalah bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bertahan dan berkembang. Narasi surviving to thriving tidak sekadar menjadi judul, tetapi tercermin dalam penampilan para peserta. Mereka tampil dengan membawa pengalaman, harapan, dan rasa percaya diri yang tumbuh dari perjuangan panjang. Hal itu menjadikan panggung tersebut sebagai simbol keberdayaan yang nyata.

Bagi industri mode, kegiatan ini memberi contoh bahwa kolaborasi sosial dapat memperkuat citra merek. Konsumen semakin memperhatikan nilai yang dibawa sebuah brand, bukan hanya desain yang ditawarkan. Ketika fashion dikaitkan dengan isu kemanusiaan, hubungan emosional dengan audiens dapat terbentuk lebih kuat. Kondisi itu memberi keuntungan jangka panjang bagi merek yang konsisten menjalankan nilai inklusi.

Perayaan Hari Perempuan Internasional 2026 melalui ajang ini pun menjadi pengingat bahwa pemberdayaan dapat dimulai dari panggung yang kecil namun bermakna. Karya, penampilan, dan kisah hidup para pengungsi perempuan memperlihatkan daya tahan yang layak dihargai. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat berkembang dan memberi kontribusi yang lebih besar. Acara ini meninggalkan pesan bahwa fashion mampu menjadi ruang perubahan sosial yang relevan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!