Maia Estianty menegur keras netizen yang kerap menanyakan soal momongan kepada putra keduanya, El Rumi. Respons itu muncul saat Maia dan El berbincang dalam video di kanal YouTube MAIA ALELDUL TV yang dikutip pada Sabtu, 30 Mei 2026. Dalam momen tersebut, Maia terlihat risih dengan pertanyaan yang dianggap terlalu pribadi. Ia pun menilai komentar semacam itu tidak pantas diarahkan kepada anaknya.
Video itu memperlihatkan El Rumi yang sempat berpamitan hendak pergi. Maia lalu menggoda sang putra dengan candaan agar pulang membawa oleh-oleh berupa cucu. Namun suasana berubah ketika pembahasan bergeser ke komentar netizen yang menuntut soal pernikahan dan keturunan. Maia menegaskan, publik sebaiknya tidak memaksa El dan Syifa Hadju dengan pertanyaan yang belum waktunya dijawab.
Maia Estianty Bela Privasi El
Maia Estianty secara terbuka menyebut pertanyaan soal momongan kepada El Rumi sebagai hal yang tidak sopan. Ia menilai urusan tersebut adalah ranah pribadi yang tidak seharusnya dijadikan bahan komentar publik. Sikap itu disampaikan Maia dengan nada tegas, namun tetap diselingi candaan. Ia ingin menunjukkan bahwa tekanan dari netizen bisa terasa mengganggu bagi anaknya.
Dalam video tersebut, Maia menyebut, “Itu pertanyaan enggak sopan guys, itu pertanyaan sumpah nggak sopan.” Ia kemudian menambahkan, “Kalian kalau digituin enak enggak?” Kalimat itu memperlihatkan keberatannya terhadap kebiasaan warganet yang terlalu jauh ikut campur. Bagi Maia, pertanyaan semacam itu sebaiknya dihindari demi menjaga kenyamanan pribadi.
Sikap Maia itu menunjukkan bahwa ia tidak ingin El Rumi merasa tertekan oleh ekspektasi publik. Ia memandang setiap pasangan memiliki waktu dan ritme masing-masing dalam membangun rumah tangga. Karena itu, komentar yang bernada desakan dinilai tidak membantu. Justru, tekanan seperti itu dapat membuat situasi menjadi tidak nyaman.
Respons Maia juga menjadi pengingat bahwa figur publik tetap memiliki ruang privasi yang perlu dihormati. Meski dikenal luas, El Rumi dan keluarganya tetap berhak menentukan sendiri urusan pribadi. Maia memilih berdiri di depan untuk meredam komentar yang dianggap berlebihan. Dengan begitu, pesan yang disampaikan menjadi jelas, yakni menghormati batasan.
Obrolan Canda di Video
Obrolan itu bermula saat Maia melihat El Rumi bersiap pergi dari rumah. Dalam suasana santai, Maia lalu menggoda putranya agar membawa pulang oleh-oleh yang ia sebut sebagai cucu. Candaan itu langsung mencairkan suasana di antara mereka. Namun, topik tersebut kemudian berkembang ke arah pembahasan yang lebih serius.
Maia sempat berkata, “Semoga bawa oleh-oleh yang lain juga.” Ucapan itu kemudian diikuti dengan penjelasan bahwa El Rumi masih ingin menikmati masa pacaran terlebih dahulu. Maia pun menegaskan, jangan ada tuntutan dari netizen terhadap putranya. Ia mengucapkannya sambil tertawa, namun pesan yang disampaikan tetap jelas.
El Rumi sendiri mengaku kerap menerima pertanyaan dari netizen mengenai momongan. Pengakuan itu membuat Maia kembali memberi respons tegas terhadap kebiasaan tersebut. Ia menilai komentar semacam itu tidak seharusnya terus diulang. Sebab, hal itu dapat berubah menjadi tekanan sosial yang tidak perlu.
Di tengah percakapan, Maia juga tampak ingin melindungi kenyamanan hubungan El Rumi dan Syifa Hadju. Ia tidak ingin publik memburu jawaban atas urusan yang masih berjalan sesuai waktu mereka sendiri. Karena itu, candaan di awal percakapan berubah menjadi penegasan. Intinya, Maia meminta publik lebih bijak saat berkomentar.
Rencana El dan Syifa
Maia Estianty kemudian menjelaskan rencana El Rumi dan Syifa Hadju setelah menikah. Menurutnya, pasangan itu ingin menikmati masa pacaran terlebih dahulu sebelum memikirkan tahap berikutnya. Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan anggapan yang terlalu cepat muncul di ruang publik. Maia ingin publik memahami bahwa setiap pasangan memiliki prioritas yang berbeda.
Ia menegaskan bahwa El dan Syifa tidak sedang terburu-buru dalam menjalani hubungan. Bagi mereka, menikmati proses menjadi bagian penting sebelum melangkah lebih jauh. Maia melihat pilihan itu sebagai sesuatu yang wajar dan sehat. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak memaksakan ekspektasi pribadi kepada mereka.
Dalam penjelasannya, Maia menempatkan perhatian utama pada kenyamanan anak dan calon menantunya. Ia tidak ingin kehidupan pribadi mereka menjadi konsumsi berlebihan warganet. Menurutnya, hal yang paling penting adalah menghargai keputusan pasangan tersebut. Dengan begitu, hubungan yang dijalani dapat berkembang tanpa beban dari luar.
Pernyataan Maia juga mempertegas perannya sebagai ibu yang selalu pasang badan untuk anaknya. Ia tidak hanya membela, tetapi juga mencoba memberi konteks agar publik tidak salah menilai. Sikap tersebut memperlihatkan kedekatan keluarga yang hangat dan terbuka. Di saat yang sama, Maia menegaskan bahwa privasi tetap harus dijaga.
Reaksi atas Komentar Warganet
Kasus ini kembali memperlihatkan bagaimana komentar warganet dapat memicu reaksi dari keluarga selebritas. Pertanyaan yang dianggap sepele oleh sebagian orang, bisa terasa menekan bagi pihak yang dituju. Maia menilai hal itu perlu disadari agar interaksi di media sosial tetap sehat. Ia menolak normalisasi pertanyaan pribadi yang disampaikan tanpa empati.
Di tengah budaya komentar cepat di internet, batas antara perhatian dan intervensi sering kali menjadi kabur. Maia ingin mengingatkan bahwa tidak semua hal layak ditanyakan kepada figur publik. Terlebih, urusan pernikahan dan momongan adalah keputusan personal. Publik, menurutnya, perlu belajar menempatkan diri.
Respons Maia mendapat sorotan karena disampaikan dengan tegas, namun tetap humanis. Ia tidak menutup ruang dialog, tetapi menolak tekanan yang datang dari luar. Pendekatan itu membuat pesannya terasa kuat tanpa kehilangan sisi keibuan. Dalam konteks ini, ia berusaha melindungi anaknya dari sorotan yang berlebihan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa keluarga selebritas pun membutuhkan ruang privat. Dukungan publik memang penting, tetapi harus disertai penghormatan terhadap batas-batas pribadi. Maia memilih berbicara agar publik memahami situasi dengan lebih bijak. Dari sana, pesan utamanya sederhana, yakni hormati keputusan El Rumi dan Syifa Hadju.
