Ubi Cream Cheese Ramai, Dokter Sarankan Tambah Protein

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 07:55 WIB 2
Ubi Cream Cheese Ramai, Dokter Sarankan Tambah Protein

Olahan ubi dengan topping cream cheese tengah ramai dibicarakan di media sosial karena dianggap praktis dan lezat. Namun, dari sisi gizi, menu ini dinilai belum cukup seimbang bila hanya mengandalkan ubi dan cream cheese saja.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa kombinasi karbohidrat dan lemak seperti ini bukan hal baru. Ia menyarankan masyarakat menambahkan sumber protein agar kandungan nutrisinya lebih lengkap dan manfaatnya lebih optimal.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Menurut dr Tjandra, ubi dan cream cheese pada dasarnya merupakan variasi menu yang menggabungkan karbohidrat dan lemak. Pola serupa juga pernah populer ketika cream cheese dipadukan dengan roti. Karena itu, tren ubi dengan cream cheese bukanlah sesuatu yang benar-benar baru dalam dunia kuliner.

Meski begitu, ia menilai komposisi gizinya belum ideal jika dikonsumsi tanpa tambahan bahan lain. Ubi memang menyediakan karbohidrat, sedangkan cream cheese memberi lemak dan sedikit protein. Akan tetapi, kandungan protein dalam porsi tersebut masih relatif rendah untuk satu kali makan.

Dr Tjandra menyebut, menu seperti ini cenderung kurang membantu memenuhi kebutuhan protein harian. Padahal, protein berperan penting dalam menjaga massa otot dan memperbaiki jaringan tubuh. Selain itu, protein juga membantu tubuh merasa kenyang lebih lama setelah makan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menyeimbangkan menu agar tidak hanya berfokus pada rasa dan tren. Makanan yang tampak sederhana tetap perlu dinilai dari komposisi gizinya. Dengan begitu, masyarakat dapat menikmati hidangan kekinian tanpa mengabaikan kebutuhan nutrisi.

Protein Bantu Kendalikan Gula Darah

Penambahan protein pada makanan sumber karbohidrat juga dinilai memberi manfaat bagi pengaturan gula darah. Sebuah temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan konsumsi protein bersama karbohidrat dapat memperlambat pengosongan lambung. Proses ini membuat kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap.

Artinya, menu yang menggabungkan karbohidrat dan protein cenderung lebih seimbang dibandingkan makanan tinggi lemak atau gula semata. Efek kenyang juga dapat bertahan lebih lama. Hal ini penting untuk membantu mengurangi keinginan makan berlebihan setelahnya.

Dalam konteks ubi dengan cream cheese, tambahan protein bisa menjadi kunci untuk memperbaiki kualitas menu. Masyarakat dapat mempertimbangkan sumber protein yang mudah ditemukan dan sesuai selera. Dengan cara itu, makanan tetap nikmat sekaligus lebih bernilai gizi.

Dr Tjandra menilai pendekatan seperti ini lebih bijak daripada sekadar mengikuti tren kuliner. Pilihan bahan yang tepat dapat membuat satu sajian menjadi lebih bermanfaat. Karena itu, keseimbangan komposisi menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan.

Tambahan Protein pada Ubi

Untuk membuat ubi dengan cream cheese lebih seimbang, dr Tjandra menyarankan penambahan sumber protein lain. Edamame dan kacang disebut bisa menjadi pilihan yang praktis. Telur juga dapat digunakan karena mengandung protein sekaligus lemak baik.

Menurutnya, bahan-bahan tersebut bisa meningkatkan kualitas nutrisi tanpa menghilangkan karakter utama dari hidangan. Ubi tetap memberikan rasa manis alami dan tekstur lembut. Sementara itu, protein dari tambahan topping membantu menutup kekurangan gizi pada menu tersebut.

Pilihan ini juga lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan bahan di rumah. Masyarakat bisa memilih topping yang paling mudah diolah. Dengan demikian, menu sehat tidak selalu harus rumit atau mahal.

Pendekatan semacam ini penting terutama bagi mereka yang menjadikan camilan sebagai bagian dari asupan harian. Meski terlihat sederhana, susunan bahan tetap menentukan nilai gizinya. Karena itu, penambahan protein menjadi langkah yang disarankan agar menu lebih lengkap.

Kebutuhan Protein Sekali Makan

Dr Tjandra menjelaskan bahwa ubi dan cream cheese saja tidak cukup memenuhi kebutuhan protein dalam satu kali makan. Ia memperkirakan kandungan proteinnya hanya sekitar dua gram. Padahal, kebutuhan protein per sekali makan berada di kisaran 10 hingga 20 gram.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa menu tersebut belum dapat berdiri sendiri sebagai makanan yang seimbang. Jika hanya mengandalkan dua bahan itu, tubuh masih kekurangan asupan protein yang diperlukan. Akibatnya, manfaat kenyang dan pemeliharaan jaringan tubuh menjadi kurang optimal.

Karena itu, penyesuaian komposisi menjadi sangat penting dalam menyusun menu harian. Menggabungkan karbohidrat, protein, dan lemak baik dapat membantu tubuh bekerja lebih efisien. Selain sehat, kombinasi tersebut juga mendukung pola makan yang lebih terkontrol.

Tren ubi dengan cream cheese tetap dapat dinikmati selama masyarakat memahami batasan gizinya. Dengan tambahan sumber protein, menu ini bisa menjadi lebih seimbang dan bermanfaat. Pilihan sederhana seperti ini dapat menjadi langkah kecil menuju pola makan yang lebih baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!