Susu kental manis kerap diperdebatkan karena dianggap bukan susu, terutama akibat kandungan gulanya yang tinggi. Anggapan itu kembali mencuat setelah Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si., memberikan penjelasan mengenai asal-usul produk tersebut. Menurutnya, pemahaman tentang susu kental manis perlu dilihat dari proses pembuatannya, bukan hanya dari satu unsur komposisi. Penjelasan itu disampaikan dalam acara Frisian Flag Temani Langkahmu, Kini dan Nanti, Minggu, 31 Mei 2026.
Prof Epi menegaskan bahwa susu kental manis pada dasarnya adalah bentuk olahan susu yang telah lama dikenal sebagai metode pengawetan. Ia menyebut, jika bahan dasarnya berasal dari susu segar yang diuapkan lalu ditambah gula, maka produk itu termasuk turunan susu. Proses tersebut membuat susu lebih tahan lama dibandingkan susu segar. Karena itu, ia menilai labelisasi produk perlu dipahami secara lebih utuh.
Asal-usul Susu Kental Manis
Menurut Prof Epi, teknologi pengolahan susu lahir dari kebutuhan menjaga kualitas produk dalam waktu lebih panjang. Pada masa lalu, penyimpanan susu masih sangat terbatas, sehingga susu mudah rusak sebelum sempat dikonsumsi. Untuk mengatasi hal itu, produsen mengurangi kadar air agar susu lebih awet. Dari kebutuhan inilah berbagai produk olahan susu kemudian berkembang.
Salah satu bentuk pengolahan yang dikenal luas adalah susu bubuk, sedangkan bentuk lainnya adalah susu yang dikentalkan melalui penguapan. Pada susu kental manis, proses itu biasanya disertai penambahan gula. Gula berfungsi bukan hanya sebagai pemberi rasa, tetapi juga membantu memperpanjang masa simpan. Dengan demikian, produk tersebut memiliki karakter berbeda dari susu segar.
Prof Epi menjelaskan bahwa pengentalan susu dapat dilakukan dengan atau tanpa gula. Namun, penambahan gula membuat produk lebih awet karena gula memiliki sifat yang membantu menghambat kerusakan. Ia menegaskan bahwa fungsi ini telah lama dimanfaatkan dalam teknologi pangan. Karena itu, susu kental manis muncul sebagai salah satu inovasi pengawetan susu.
Dalam pandangan akademis, susu kental manis tidak bisa dinilai hanya dari kadar gulanya. Yang lebih penting adalah memahami bahwa produk itu berasal dari susu dan melalui proses pengolahan tertentu. Dengan pendekatan ini, publik dapat membedakan antara sumber bahan baku dan komposisi akhir produk. Penjelasan semacam ini dinilai penting untuk mengurangi salah kaprah di masyarakat.
Pemahaman tentang Komposisi
Perdebatan mengenai susu kental manis sering muncul karena sebagian orang mengira produk tersebut hanya pemanis. Padahal, asal bahan bakunya tetap berasal dari susu, meski telah melalui proses pengolahan lanjutan. Dalam industri pangan, bentuk olahan seperti ini memang lazim digunakan untuk tujuan tertentu. Salah satunya adalah memperpanjang masa simpan tanpa menghilangkan identitas bahan dasarnya.
Prof Epi menilai persepsi publik kerap terbentuk dari informasi yang tidak lengkap. Akibatnya, produk susu kental manis langsung dipersepsikan sebagai makanan manis semata. Padahal, kandungan dan fungsi teknologinya lebih kompleks daripada itu. Pemahaman yang benar dapat membantu masyarakat menempatkan produk sesuai kategorinya.
Ia juga menekankan pentingnya membaca informasi produk secara menyeluruh. Label komposisi, proses produksi, dan tujuan penggunaan harus menjadi perhatian utama konsumen. Dengan begitu, masyarakat dapat membedakan antara produk turunan susu dan minuman susu segar. Literasi gizi dan pangan dinilai menjadi kunci dalam memilih produk yang tepat.
Pandangan bahwa susu kental manis bukan susu menurutnya muncul karena penyederhanaan informasi. Sementara itu, dari sisi teknologi pangan, produk tersebut merupakan hasil pengolahan susu yang sah. Penjelasan ini menunjukkan bahwa istilah susu kental manis tidak dapat dilepaskan dari proses pembuatannya. Karena itu, edukasi kepada publik perlu terus diperkuat.
Peran Teknologi Pangan
Teknologi pangan memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan pasokan susu. Melalui pengolahan, susu dapat didistribusikan ke wilayah yang jauh dan disimpan lebih lama. Hal ini penting di negara dengan tantangan rantai pasok yang beragam. Tanpa teknologi tersebut, banyak bahan pangan akan cepat rusak sebelum dikonsumsi.
Dalam konteks susu kental manis, pengurangan kadar air merupakan inti dari proses pengawetan. Proses ini membuat volume produk lebih ringkas dan masa simpannya lebih panjang. Tambahan gula kemudian memperkuat daya simpan tersebut. Kombinasi ini menjadikan susu kental manis berbeda dari susu cair biasa.
Prof Epi menjelaskan bahwa inovasi pangan bukan semata-mata soal rasa, melainkan juga efisiensi dan ketahanan produk. Dari sudut pandang industri, pengolahan seperti ini membantu memenuhi kebutuhan konsumen dalam kondisi beragam. Karena itu, produk turunan susu memiliki tempat tersendiri dalam sistem pangan modern. Posisinya tidak bisa disamakan begitu saja dengan bahan mentah.
Pemahaman terhadap teknologi pengawetan juga penting untuk membangun kepercayaan konsumen. Jika masyarakat mengetahui alasan ilmiah di balik pengolahan, maka penilaian terhadap produk akan lebih proporsional. Informasi yang tepat dapat mencegah munculnya stigma yang tidak berdasar. Di sisi lain, produsen juga dituntut menyampaikan informasi yang transparan.
Edukasi Konsumen Diperlukan
Isu seputar susu kental manis menunjukkan bahwa edukasi pangan masih dibutuhkan secara luas. Banyak konsumen menilai produk berdasarkan asumsi, bukan penjelasan ilmiah yang memadai. Situasi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam memilih produk. Oleh karena itu, komunikasi dari ahli dan pelaku industri menjadi sangat penting.
Prof Epi menilai masyarakat perlu memahami perbedaan antara kategori produk dan cara konsumsinya. Produk olahan susu memiliki fungsi, komposisi, dan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Dengan pemahaman itu, konsumen dapat menggunakan produk secara lebih bijak. Edukasi yang baik juga membantu masyarakat menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan gizi.
Dalam kasus susu kental manis, pengetahuan mengenai proses produksi menjadi kunci utama. Ketika publik mengetahui bahwa produk tersebut berasal dari susu segar yang diuapkan dan diberi gula, persepsi akan menjadi lebih seimbang. Hal ini dapat mengurangi kesalahpahaman yang selama ini berkembang. Pada akhirnya, literasi pangan akan mendukung keputusan konsumsi yang lebih tepat.
Pernyataan Prof Epi menegaskan bahwa diskusi tentang susu kental manis tidak cukup berhenti pada istilah populer. Yang lebih penting adalah melihat dasar ilmiah, sejarah pengolahan, dan perannya dalam sistem pangan. Dengan begitu, publik dapat menilai produk secara lebih objektif. Pemahaman yang utuh diharapkan membuat perdebatan lama ini menjadi lebih jernih.
