Rupiah Berpeluang Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 02 Juni 2026 07:58 WIB 2
Rupiah Berpeluang Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada pekan depan. Kondisi tersebut membuka peluang mata uang Garuda menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, bahkan berisiko bergerak lebih dalam bila tekanan pasar terus berlanjut.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga persoalan struktural ekonomi nasional. Menurutnya, tekanan datang dari impor energi, kebutuhan dolar untuk dividen, hingga sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai menimbulkan ketidakpastian.

Rupiah Ditekan Impor Energi

Ibrahim menyebut defisit neraca transaksi berjalan masih menjadi sumber tekanan utama bagi rupiah. Kebutuhan impor minyak mentah membuat permintaan dolar di dalam negeri tetap tinggi. Pada saat yang sama, harga minyak dunia berada di atas asumsi APBN. Kombinasi tersebut memperberat beban fiskal pemerintah.

Ia menjelaskan, asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran US$70 per barel dengan kurs sekitar Rp16.500 per dolar AS. Namun, saat ini rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 dan harga minyak mentah berada di atas US$90 per barel. Kondisi itu membuat pemerintah harus menyiapkan dolar dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan impor.

Menurut Ibrahim, sebagian besar impor minyak mentah juga berkaitan dengan subsidi energi. Artinya, tekanan tidak hanya dirasakan pada sisi perdagangan, tetapi juga pada anggaran negara. Situasi ini dinilai menjadi beban tambahan bagi pemerintah untuk menutup defisit yang muncul. Dampaknya, rupiah semakin rentan terhadap pelemahan lanjutan.

Dividen Asing Tambah Tekanan

Tekanan lain datang dari pasar modal, terutama dari kewajiban perusahaan asing membagikan dividen kepada pemegang saham. Kebutuhan pembelian dolar untuk keperluan tersebut mendorong permintaan valuta asing di dalam negeri. Ketika permintaan naik sementara pasokan terbatas, rupiah cenderung melemah. Ibrahim menilai kondisi ini ikut memicu kegaduhan di pasar.

Ia menegaskan, Indonesia saat ini sudah kekurangan dolar untuk kebutuhan transaksi tertentu. Beban dividen dari emiten yang memiliki investor asing memperbesar tekanan di pasar valuta asing. Dalam situasi seperti ini, arus modal cenderung bergerak lebih hati-hati. Akibatnya, rupiah sulit menguat secara berkelanjutan.

Di sisi lain, pasar logam mulia juga berada dalam kondisi berfluktuasi. Ibrahim menyebut sebagian investor memilih memindahkan aset dari emas ke dolar karena melihat peluang keuntungan jangka pendek. Pergerakan indeks dolar yang menguat membuat pilihan tersebut dinilai lebih menarik. Pergeseran aset itu semakin menekan rupiah di tengah ketidakpastian global.

Sentimen Kebijakan Menguat

Ibrahim juga menyoroti kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Menurutnya, kebijakan itu menimbulkan keraguan di kalangan investor asing karena dinilai mengurangi kepastian regulasi. Meski tujuannya untuk menekan kebocoran ekspor ilegal, implementasi yang cepat dianggap memicu kegaduhan. Sentimen tersebut ikut membebani rupiah.

Ia menilai kebijakan satu pintu memang memiliki manfaat jangka panjang. Sistem serupa juga diterapkan di sejumlah negara lain, termasuk di Eropa. Namun, saat kondisi ekonomi belum stabil, perubahan yang berlangsung cepat bisa memunculkan kekhawatiran baru. Pelaku usaha pun disebut membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Bagi perusahaan tambang yang telah memiliki kontrak jangka pendek hingga jangka panjang dengan mitra luar negeri, kebijakan itu dinilai berpotensi menambah beban. Ibrahim menegaskan, pemerintah memang ingin mencegah kebocoran ekspor yang tidak sesuai dokumen. Tetapi, menurutnya, penyesuaian kebijakan harus dibarengi sosialisasi yang memadai. Jika tidak, minat investasi bisa ikut tertekan.

Level Psikologis Rupiah

Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira juga menilai rupiah masih berpeluang melemah lebih jauh. Ia melihat level Rp18.000 per dolar AS sebagai batas psikologis penting yang bisa mempercepat tekanan berikutnya. Setelah level itu ditembus, rupiah berisiko bergerak menuju Rp19.000 per dolar AS. Menurutnya, pasar akan bereaksi lebih cepat ketika batas tersebut terlewati.

Bhima menjelaskan, pelemahan rupiah banyak dipengaruhi sentimen negatif investor asing terhadap kebijakan pemerintah. Salah satu yang paling disorot adalah rencana ekspor satu pintu melalui DSI. Ia menilai kebijakan tersebut memang dapat membantu menekan praktik transfer pricing dan under invoicing. Namun, peluncurannya yang dinilai terlalu cepat memunculkan persepsi ketidakpastian aturan.

Selain itu, Bhima mencermati kondisi fiskal domestik dan efektivitas program pemerintah yang masih menjadi perhatian pasar. Ia menyebut ada kekhawatiran defisit APBN melebar karena beban subsidi energi dan belanja program populis. Dalam pandangannya, persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan dan konsistensi implementasi. Jika sentimen negatif berlanjut, rupiah berpotensi tetap berada di bawah tekanan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!