Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet dari We.Eats

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 11:33 WIB 3
Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet dari We.Eats

Seorang mahasiswi asal Palangka Raya, Windy Maulidya, berhasil mengubah tugas kuliah menjadi peluang bisnis kuliner yang menjanjikan. Usaha bernama We.Eats yang ia rintis sejak 2023 kini berkembang dari sistem pre-order terbatas menjadi pesanan harian melalui berbagai kanal digital.

Mahasiswi berusia 23 tahun itu memulai langkahnya dari jurusan bisnis yang ia tekuni di kampus. Berbekal minat memasak dan ide yang tumbuh dari pengalaman akademik, Windy perlahan membangun usaha yang kini memberi tambahan pundi-pundi rupiah.

Awal usaha kuliner Windy

Windy mengatakan gagasan membangun usaha kuliner muncul pada September 2023. Ia melihat tugas-tugas kuliah di bidang bisnis bisa diterapkan langsung untuk merintis usaha sendiri. Dari situ, ia mulai menyusun konsep We.Eats sebagai usaha makanan kekinian.

Menurut Windy, kecintaannya pada dunia masak turut memperkuat keputusan untuk terjun ke bisnis kuliner. Ia merasa bidang tersebut selaras dengan minat pribadi sekaligus materi perkuliahan yang ia pelajari. Kombinasi itu membuatnya lebih percaya diri untuk memulai.

Pada tahap awal, We.Eats dijalankan dengan sistem pre-order kepada teman terdekat. Namun, respons yang diterima cukup baik dan mendorong Windy untuk memperluas jangkauan penjualan. Promosi lewat media sosial menjadi titik penting dalam perkembangan usahanya.

Strategi promosi We.Eats

Windy memanfaatkan media sosial sebagai saluran utama untuk mengenalkan produknya. Dari sana, pesanan yang awalnya datang sesekali mulai meningkat secara bertahap. Ia kemudian melihat peluang untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.

Setelah beberapa kali open PO, We.Eats mulai menerima pesanan setiap hari. Produk juga tersedia melalui GoFood dan Instagram, sehingga memudahkan pelanggan memilih cara pemesanan. Langkah ini membantu usaha Windy bergerak lebih stabil.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa promosi digital memberi dampak langsung pada penjualan. Windy menilai media sosial bukan hanya sarana pemasaran, tetapi juga cara membangun kedekatan dengan pelanggan. Dengan pendekatan itu, usahanya semakin dikenal di lingkungan sekitar.

Modal kecil dan omzet naik

Untuk memulai usaha, Windy hanya membutuhkan modal sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Dana itu digunakan untuk membeli bahan baku harian di pasar. Sementara peralatan memasak sebagian besar memanfaatkan perlengkapan yang sudah tersedia di dapur rumah.

Dengan modal yang terbilang kecil, ia berhasil menjaga operasional usaha tetap berjalan. Windy menerapkan strategi pengelolaan biaya secara bertahap agar bisnis tidak terbebani di awal. Pola ini membuatnya bisa berkembang tanpa harus menanggung risiko besar.

Dari usaha tersebut, Windy kini meraup omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan. Pencapaian itu didapat melalui proses bertahap, mulai dari pembelian bahan baku hingga penambahan peralatan. Ia menyebut perkembangan usaha dilakukan secara perlahan namun konsisten.

Tantangan dan rencana usaha

Di balik pertumbuhan penjualan, Windy masih menghadapi kendala pada sumber daya manusia. Ia hanya dibantu satu karyawan untuk memasak dan menyiapkan produk. Kondisi itu kerap membuatnya kewalahan saat pesanan meningkat tajam.

Ketika pesanan di direct message terlalu banyak, Windy terpaksa membatasi jumlah order. Ia juga menonaktifkan sementara pesanan di GoFood agar seluruh pesanan tetap terkontrol. Langkah tersebut diambil supaya pelanggan tetap menerima makanan tepat waktu.

Meski menghadapi keterbatasan, Windy terus menata bisnisnya secara bertahap. Ia ingin menjaga kualitas layanan sambil memperkuat kapasitas produksi. Kisah We.Eats menjadi contoh bahwa ide dari bangku kuliah dapat tumbuh menjadi usaha yang menghasilkan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!