Kisah Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 12:44 WIB 2
Kisah Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura tercium kuat dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wangi gurih itu menarik perhatian warga dan pekerja yang melintas di kawasan Mayestik. Di balik asap arang yang mengepul, Mochamad Haidir, 30 tahun, sibuk mengibaskan kipas bambu agar bara tetap menyala. Konsistensinya membuat usaha kecil yang dirintis sejak 2013 perlahan naik kelas.

Haidir memulai usaha dari gerobak satai keliling yang dulu hanya berjualan di atas trotoar. Jalan usaha itu tidak selalu mulus, karena ia pernah dikejar Satpol PP dan diusir pedagang lain. Meski begitu, ia memilih bertahan di kawasan yang dinilai potensial karena dikelilingi perkantoran dan aktivitas warga yang padat. Dari situ, nama Sate Ayam Barokah Mayestik mulai dikenal pelanggan.

Sate Ayam Barokah Mayestik

Haidir mengaku sempat menghadapi penolakan saat awal membuka lapak di kawasan tersebut. Ia menyebut ada pedagang lain yang datang langsung dan meminta dirinya pergi dari lokasi. Situasi itu sempat membuatnya tertekan, tetapi ia tidak langsung menyerah. Menurutnya, bertahan di lokasi yang ramai adalah keputusan yang paling masuk akal.

Ia menilai kawasan Mayestik memiliki peluang besar karena dekat dengan pusat aktivitas ekonomi. Arus pejalan kaki dan pekerja kantoran memberi peluang pembeli datang setiap hari. Haidir juga sudah lebih dulu menempati titik jualan itu dibanding banyak pedagang lain. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi kelangsungan usahanya.

Dengan berjalannya waktu, pelanggan mulai berdatangan dan usahanya pun perlahan tumbuh. Nama Sate Ayam Barokah Mayestik semakin dikenal sebagai pilihan kuliner khas Madura di Jakarta Selatan. Haidir menjaga kualitas rasa dan pelayanan agar pelanggan kembali datang. Upaya sederhana itu menjadi fondasi utama pertumbuhan bisnisnya.

Di balik kesuksesan itu, ada kerja rutin yang tidak terlihat oleh pembeli. Haidir tetap memastikan arang menyala stabil dan daging matang merata sebelum disajikan. Ia juga menjaga kebersihan lapak agar pengunjung merasa nyaman. Menurutnya, hal kecil seperti itu menentukan reputasi usaha kuliner.

Tahan Ujian Pandemi

Pandemi COVID-19 menjadi ujian terberat bagi usaha Haidir. Saat pembatasan mobilitas membuat penjualan turun, lapaknya ikut sepi. Ia mengaku stres karena pemasukan tidak lagi stabil. Dalam kondisi itu, ia bahkan sempat berniat menutup usaha.

Haidir mengisahkan pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain untuk dibeli. Ia saat itu hanya ingin berhenti dan mencari jalan keluar dari tekanan usaha. Tawaran yang muncul disebut mencapai Rp50 juta, jauh di bawah harga yang ia ajukan sebesar Rp150 juta. Namun transaksi itu pada akhirnya batal.

Keputusan batal menjual lapak tersebut kemudian menjadi titik balik penting. Jika kesepakatan terjadi, ia berpotensi kehilangan peluang usaha yang lebih besar di kemudian hari. Haidir menyebut masa sulit itu mengajarkannya untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia belajar bahwa bertahan kadang lebih berharga daripada menyerah.

Pengalaman menghadapi pandemi juga membentuk cara pandangnya terhadap bisnis. Ia menjadi lebih berhati-hati dalam mengatur modal dan menjaga arus penjualan. Ritme kerja yang konsisten membuat usahanya kembali pulih secara bertahap. Dari situ, Haidir mulai menata rencana untuk berkembang lebih jauh.

Ruko Strategis Baru

Titik perubahan berikutnya datang pada akhir 2025, ketika sebuah ruko kosong di depan lapak lamanya ditawarkan untuk disewa. Lokasi itu dinilai lebih strategis karena berada tepat di jalur yang mudah terlihat pembeli. Haidir tidak ingin momentum tersebut lewat begitu saja. Ia lalu memutuskan pindah ke ruko yang lebih layak untuk berjualan.

Keputusan pindah memberi citra baru bagi usahanya. Lapak yang tadinya sederhana kini berubah menjadi tempat jualan yang lebih tertata. Penampilan usaha yang lebih rapi juga membantu menarik perhatian calon pembeli baru. Dalam bisnis kuliner, lokasi dan tampilan memang sering menjadi penentu awal.

Ruko baru itu membuat operasional usaha menjadi lebih nyaman. Haidir dapat menata area bakar, tempat penyajian, dan ruang pelanggan dengan lebih baik. Kondisi tersebut juga memudahkannya menjaga kualitas pelayanan saat jam ramai. Perubahan ini menjadi bukti bahwa pertumbuhan usaha bisa dimulai dari langkah kecil yang tepat.

Bagi Haidir, pindah ke ruko bukan sekadar perubahan tempat, melainkan simbol keberhasilan bertahan selama bertahun-tahun. Dari gerobak keliling, ia kini memiliki ruang usaha yang lebih mapan. Perjalanan itu menunjukkan bahwa konsistensi dapat mengangkat usaha kecil ke level berikutnya. Kisahnya menjadi contoh bahwa ketekunan masih menjadi kunci utama dalam bisnis kuliner.

Pelajaran Dari Ketekunan

Kisah Haidir memperlihatkan bahwa usaha kuliner membutuhkan ketahanan mental selain keterampilan memasak. Persaingan, tekanan lokasi, dan masa sepi penjualan adalah bagian dari perjalanan yang harus dihadapi. Namun ia membuktikan bahwa ketekunan dapat mengubah kondisi sulit menjadi peluang. Dari lapak kecil, usahanya tumbuh menjadi gerai yang lebih dikenal.

Pengalaman itu juga menegaskan pentingnya membaca peluang pasar. Haidir melihat kawasan Mayestik sebagai titik yang memiliki potensi besar sejak awal. Ia tidak hanya mengandalkan rasa sate, tetapi juga lokasi dan kedekatan dengan calon pelanggan. Kombinasi itu membuat usahanya bertahan di tengah persaingan kuliner yang ketat.

Selain itu, keberhasilan Haidir menunjukkan bahwa keputusan bisnis perlu diambil dengan pertimbangan matang. Menjual lapak di masa sulit mungkin terasa melegakan saat itu, tetapi bertahan justru membuka jalan yang lebih besar. Ketika peluang ruko kosong datang, ia sudah berada pada posisi yang siap berkembang. Momentum tersebut akhirnya dimanfaatkan dengan tepat.

Dari kisah Sate Ayam Barokah Mayestik, terlihat bahwa kesabaran sering menjadi modal paling mahal dalam usaha kecil. Haidir menempuh proses panjang sebelum benar-benar naik kelas. Kini, aroma sate yang ia jual bukan hanya menggoda selera, tetapi juga membawa cerita perjuangan. Cerita itu menjadi pengingat bahwa kesuksesan kerap lahir dari keteguhan menghadapi tekanan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!