Windy Maulidya, mahasiswi berusia 23 tahun asal Palangka Raya, berhasil mengembangkan usaha kuliner kekinian bernama We.Eats sejak 2023. Ide bisnis itu muncul dari tugas kuliah yang relevan dengan jurusan bisnis yang ia ambil. Berbekal ketertarikan pada dunia masak, Windy mulai membangun usaha kecil dari rumah. Kini, dari langkah yang dimulai pelan-pelan, ia mampu meraih omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan.
Usaha yang semula hanya dibuka lewat sistem pre-order untuk teman dekat itu berkembang berkat promosi di media sosial. Pesanan yang masuk kini datang setiap hari melalui Instagram dan layanan GoFood. Windy mengelola bisnisnya dengan modal awal Rp1 juta hingga Rp3 juta untuk bahan baku harian. Dengan sumber daya terbatas, ia tetap berupaya menjaga kualitas dan ketepatan layanan bagi pelanggan.
Usaha Kuliner dari Tugas Kuliah
Windy melihat tugas kuliah sebagai peluang untuk membangun usaha yang nyata. Ia merasa materi di jurusan bisnis sangat dekat dengan kebutuhan berjualan dan mengelola usaha. Dari situ, muncul keinginan untuk membuat bisnis yang bisa berjalan sambil tetap kuliah. Sejak September 2023, ide itu mulai diwujudkan dalam bentuk We.Eats.
Keputusan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dari kebiasaan Windy yang memang menyukai aktivitas memasak. Minat itu kemudian dipadukan dengan pengetahuan dasar bisnis yang ia pelajari di kampus. Ia menilai kuliah dan usaha bisa saling mendukung jika dijalankan dengan disiplin. Kombinasi itu menjadi fondasi awal pertumbuhan usahanya.
Pada tahap awal, Windy memilih cara yang sederhana agar risiko tetap terkendali. Ia hanya menerima pesanan dari orang-orang terdekat melalui sistem pre-order. Model ini membantunya memahami permintaan pasar sebelum memperluas jangkauan penjualan. Langkah tersebut terbukti efektif untuk membangun kepercayaan pelanggan pertama.
Promosi Digital Dorong Penjualan
Setelah penjualan awal berjalan, Windy mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produknya. Promosi itu membuat We.Eats semakin dikenal di luar lingkaran teman dekat. Pesanan yang semula terbatas akhirnya datang secara rutin setiap hari. Kanal digital menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan bisnisnya.
Selain Instagram, layanan GoFood juga membantu memperluas akses pelanggan terhadap produk yang dijual. Kehadiran platform daring membuat pembeli lebih mudah memesan tanpa harus datang langsung. Windy menyesuaikan operasionalnya agar dapat memenuhi permintaan dari berbagai saluran. Strategi ini membuat usahanya lebih fleksibel dalam melayani pasar.
Dalam menjalankan promosi, Windy tetap menjaga konsistensi tampilan dan kualitas produk. Ia memahami bahwa kepercayaan pelanggan tidak hanya dibangun dari rasa, tetapi juga dari pengalaman pemesanan. Karena itu, ia berusaha menjaga komunikasi yang responsif di media sosial. Pendekatan tersebut membuat pelanggan merasa lebih nyaman untuk kembali membeli.
Modal Kecil Hasil Bertahap
Windy memulai We.Eats dengan modal yang relatif kecil, yakni sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Dana itu digunakan untuk membeli bahan baku harian di pasar sesuai kebutuhan produksi. Untuk peralatan masak, ia memanfaatkan perlengkapan yang sudah tersedia di dapur. Cara ini membantu menekan biaya awal usaha.
Ia tidak langsung mengejar skala besar, melainkan membangun bisnis secara bertahap. Keuntungan yang diperoleh digunakan kembali untuk menambah bahan baku, peralatan, dan fasilitas pendukung. Dengan pola itu, usaha bisa tumbuh tanpa tekanan modal besar di awal. Windy menyebut prosesnya berjalan secara pelan-pelan, tetapi pasti.
Model bisnis seperti ini menunjukkan bahwa usaha kuliner dapat dimulai dengan perencanaan sederhana. Kunci utamanya ada pada pengelolaan biaya dan keberanian untuk memulai. Windy memanfaatkan apa yang ada terlebih dahulu sebelum melakukan ekspansi. Langkah tersebut menjadi contoh bahwa modal terbatas tidak selalu menjadi penghalang.
Omzet Naik, Tantangan Bertambah
Dari usaha yang terus berkembang, Windy kini mengantongi omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa bisnis kecil dapat menghasilkan pendapatan yang menjanjikan. Meski masih berstatus mahasiswa, ia mampu mengelola pemasukan dari usahanya secara konsisten. Hasil tersebut juga memperlihatkan potensi bisnis kuliner yang dikelola dengan serius.
Di balik pertumbuhan omzet, Windy menghadapi tantangan dalam operasional harian. Saat ini ia hanya dibantu satu karyawan untuk memasak dan menyiapkan pesanan. Keterbatasan tenaga membuatnya kadang kewalahan ketika pesanan meningkat tajam. Dalam kondisi tertentu, ia harus membatasi jumlah order agar layanan tetap terjaga.
Windy bahkan pernah menonaktifkan pesanan di GoFood ketika permintaan terlalu tinggi. Langkah itu dilakukan agar pesanan yang sudah masuk tetap bisa diproses tepat waktu. Ia memilih menjaga kepuasan pelanggan daripada memaksakan volume penjualan. Bagi Windy, pengendalian operasional menjadi bagian penting dari pertumbuhan bisnis yang sehat.
