Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 03:47 WIB 3
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan viral yang ramai diburu pengunjung di berbagai pusat perbelanjaan. Pada Kamis, 14 Mei 2026, pantauan di sebuah mal di Kabupaten Tangerang menunjukkan pembeli rela mengantre untuk mendapatkannya. Popularitasnya didorong anggapan bahwa ubi merupakan bahan pangan yang lebih sehat dibanding dessert manis lain. Meski demikian, pakar gizi mengingatkan bahwa status sehat itu bisa berubah ketika topping tinggi lemak dan gula ditambahkan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, menilai ubi memang memiliki keunggulan sebagai sumber karbohidrat kompleks dan serat. Akan tetapi, ia menegaskan olahan ubi tidak otomatis sehat hanya karena memakai bahan dasar yang dianggap lebih alami. Menurutnya, tambahan cream cheese dan pelengkap lain dapat mengubah komposisi gizi secara signifikan. Karena itu, konsumen perlu melihat total kalori, gula, dan lemak, bukan hanya bahan utamanya.

Ubi Cream Cheese dan Kalori

Ubi sering dipersepsikan sebagai pangan yang lebih aman untuk dijadikan camilan. Persepsi itu muncul karena ubi termasuk real food yang tidak melalui banyak proses seperti beberapa jenis dessert olahan lain. Namun, dr Raissa menekankan bahwa penilaian sehat tidak cukup berhenti pada bahan dasarnya. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana bahan tambahan memengaruhi keseluruhan nilai gizi.

Dalam banyak sajian viral, ubi dipadukan dengan cream cheese yang kaya lemak. Kombinasi itu membuat makanan terasa lebih gurih dan manis, sehingga mudah disukai banyak orang. Masalahnya, topping seperti ini dapat menaikkan kandungan energi secara cukup besar. Jika porsinya tidak dibatasi, camilan tersebut dapat menjadi sumber kalori tinggi tanpa disadari.

Menurut dr Raissa, kandungan kalori, gula, dan lemak pada makanan viral sering kali lebih tinggi dari yang diperkirakan. Konsumen kerap menganggap makanan berbahan dasar ubi lebih ringan dibanding dessert lain. Padahal, ketika topping ditambahkan berlebihan, selisih gizinya bisa menjadi kecil. Kondisi itu membuat pilihan yang tampak sehat justru berisiko menambah asupan berlebihan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada label sehat semata. Camilan yang terlihat berbahan dasar ubi tetap perlu dinilai dari komposisi keseluruhan. Jika ingin menikmatinya, porsi kecil dan frekuensi terbatas menjadi pilihan yang lebih bijak. Dengan begitu, tren kuliner tidak berubah menjadi kebiasaan konsumsi yang merugikan.

Persepsi Sehat di Tengah Tren

Popularitas ubi cream cheese menunjukkan kuatnya pengaruh tren makanan di media sosial. Foto yang menarik dan antrean panjang sering kali membuat produk terlihat lebih layak dicoba. Di sisi lain, popularitas semacam ini dapat membentuk persepsi bahwa makanan tersebut pasti lebih baik bagi tubuh. Padahal, penampilan dan popularitas tidak selalu sejalan dengan kualitas gizinya.

Banyak orang memilih makanan viral karena mengira bahan utama yang digunakan lebih alami. Ubi memang dikenal mengandung serat, vitamin, dan karbohidrat kompleks. Namun, nilai tersebut bisa tertutupi oleh tambahan saus, gula, atau keju krim yang tinggi lemak. Karena itu, istilah sehat perlu dipahami secara utuh, bukan hanya dari nama bahan utamanya.

dr Raissa menilai kebiasaan membaca komposisi makanan menjadi penting dalam era tren kuliner cepat. Konsumen perlu membedakan antara bahan dasar dan tambahan rasa. Saat topping dibuat semakin banyak, makanan bisa berubah menjadi dessert padat energi. Dalam kondisi itu, anggapan bahwa camilan tersebut aman dikonsumsi tanpa batas menjadi keliru.

Ia juga menegaskan bahwa makanan sehat tetap harus dilihat dalam konteks pola makan harian. Satu menu yang tampak baik tidak otomatis menyeimbangkan konsumsi berlebih sepanjang hari. Oleh karena itu, pengendalian porsi tetap menjadi kunci utama. Tren boleh diikuti, tetapi pilihan konsumsi perlu tetap rasional.

Topping Tinggi Lemak Perlu Diwaspadai

Cream cheese menjadi komponen yang membuat rasa ubi semakin lembut dan kaya. Namun, bahan ini juga membawa tambahan lemak yang cukup tinggi. Saat dipadukan dengan gula atau saus manis, total kalori makanan akan meningkat lebih cepat. Inilah yang perlu dicermati oleh konsumen yang ingin menjaga asupan harian.

Topping berlebihan dapat membuat makanan terlihat lebih mewah dan menarik. Akan tetapi, semakin banyak tambahan, semakin besar pula kemungkinan nilai gizinya meleset dari dugaan awal. Masyarakat sering kali mengonsumsi camilan seperti ini tanpa memperhitungkan isi energinya. Akibatnya, asupan harian bisa menumpuk tanpa terasa.

Menurut dr Raissa, makanan berbasis ubi tetap dapat menjadi pilihan yang baik jika diolah secara sederhana. Penggunaan topping secukupnya akan membantu menjaga keseimbangan kalori. Sebaliknya, tambahan yang terlalu banyak justru mengubahnya menjadi dessert tinggi energi. Karena itu, pengendalian bahan pelengkap menjadi langkah yang sangat penting.

Ia menyarankan agar konsumen tidak langsung menganggap semua makanan berbahan dasar ubi aman dalam jumlah besar. Label alami sering kali membuat orang lebih longgar dalam mengonsumsi. Padahal, yang menentukan tetaplah komposisi akhir di dalam satu porsi. Kesadaran ini diperlukan agar tren kuliner tidak mengganggu pola makan sehat.

Bijak Menyikapi Makanan Viral

Makanan viral seperti ubi cream cheese tidak selalu harus dihindari sepenuhnya. Namun, konsumen perlu menempatkannya sebagai camilan sesekali, bukan makanan pokok harian. Dengan sikap seperti itu, kenikmatan masih bisa diperoleh tanpa mengabaikan kesehatan. Kuncinya terletak pada jumlah, frekuensi, dan pilihan topping.

Masyarakat juga disarankan lebih kritis saat melihat klaim sehat pada makanan kekinian. Bahan utama yang dianggap bergizi belum tentu membuat satu sajian aman dikonsumsi bebas. Jika komposisi gula dan lemak tinggi, risikonya tetap perlu diperhitungkan. Kebiasaan membaca informasi gizi dapat membantu membuat keputusan yang lebih tepat.

Di tengah maraknya antrean pembeli, edukasi gizi menjadi penting agar konsumen tidak terjebak pada euforia tren. Rasa enak dan visual menarik memang menjadi daya tarik utama makanan viral. Namun, manfaatnya akan lebih baik bila disertai pemahaman mengenai dampak kalori. Dengan begitu, pilihan kuliner tetap selaras dengan kebutuhan tubuh.

Pada akhirnya, ubi tetap merupakan bahan pangan yang bernilai gizi baik jika diolah dengan bijak. Masalah muncul ketika topping tinggi lemak dan gula ditambahkan tanpa batas. dr Raissa menegaskan bahwa konsumsi berlebihan tetap berisiko, meski makanan tersebut tampak sehat. Karena itu, masyarakat perlu menikmati tren kuliner dengan lebih terukur dan cermat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!