Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lifestyle Clara Monica 29 Mei 2026 02:40 WIB 3
Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lucy Liu mengungkap pengalaman pribadinya saat menjalani operasi pengangkatan benjolan di payudara setelah mendapat diagnosis kanker. Aktris Hollywood itu mengatakan keputusan tersebut diambil pada 1990-an, ketika akses informasi kesehatan belum semudah sekarang.

Pengalaman itu akhirnya terbukti sebagai salah diagnosis, karena benjolan yang diangkat ternyata bukan kanker. Kini, Lucy Liu menggunakan kisahnya untuk mendorong pentingnya deteksi dini, skrining, dan keberanian membela kesehatan diri sendiri.

Pengalaman Lucy Liu soal kanker payudara

Dalam wawancara dengan PEOPLE, Lucy Liu menceritakan bahwa ia pergi ke dokter setelah menemukan benjolan di payudara. Saat itu, ia masih percaya penuh pada penjelasan medis yang diterimanya.

Dokter yang memeriksanya saat itu menyampaikan bahwa benjolan tersebut adalah kanker. Namun, menurut Lucy Liu, tidak ada pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram pada proses awal tersebut.

Ia mengaku tidak terlalu memikirkan kondisi itu pada saat itu, meski tetap merasa takut. Keterbatasan informasi pada era sebelum internet membuatnya tidak memiliki banyak referensi untuk mencari penjelasan lain.

Tak lama setelah diagnosis itu, Lucy Liu menjadwalkan operasi untuk mengangkat benjolan tersebut. Belakangan, ia mengetahui bahwa hasil akhirnya menunjukkan benjolan itu bukan kanker.

Keputusan medis yang berujung salah

Lucy Liu menilai pengalamannya menjadi pelajaran penting tentang bagaimana diagnosis medis seharusnya tidak diterima begitu saja. Menurutnya, kurangnya pemeriksaan tambahan membuat situasi itu berjalan terlalu cepat.

Ia menyebut pada masa itu informasi kesehatan sangat terbatas, sehingga pasien cenderung hanya bergantung pada dokter. Kondisi tersebut membuatnya tidak terpikir untuk menanyakan lebih jauh atau mencari langkah verifikasi lain.

Aktris berusia 57 tahun itu juga mengakui sempat menerima diagnosis tersebut sebagai sesuatu yang resmi. Ketika seorang teman menyarankan pendapat kedua, ia justru merasa tidak perlu melakukannya.

Dalam pandangannya saat itu, dokter dianggap sudah mengetahui apa yang mereka bicarakan. Setelah mengetahui hasil yang sebenarnya, ia memahami bahwa kehati-hatian tetap penting dalam setiap keputusan medis.

Pentingnya skrining kanker

Kini, Lucy Liu aktif mendukung kampanye Pfizer bertajuk Every Breakthrough Matters. Melalui kampanye itu, ia ingin meningkatkan kesadaran masyarakat tentang deteksi dini melalui skrining kanker.

Ia menekankan bahwa skrining bukan sekadar upaya memperbaiki masalah, melainkan memahami kondisi tubuh sejak awal. Menurutnya, informasi yang benar dapat membantu seseorang mengambil keputusan kesehatan yang lebih tepat.

Lucy Liu juga menyoroti masih banyak orang yang menunda pemeriksaan karena takut mengetahui hasilnya. Selain itu, kesibukan sehari-hari sering membuat banyak orang mengabaikan langkah pencegahan yang sebenarnya penting.

Baginya, pengalaman pribadi ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan dan advokasi diri sangat berharga. Ia berharap kisahnya dapat mendorong lebih banyak orang untuk lebih berani bertanya dan memeriksa kesehatan secara rutin.

Pesan untuk menjaga kesehatan

Pengalaman Lucy Liu menunjukkan bahwa pendapat kedua dapat menjadi langkah penting dalam menghadapi diagnosis medis. Dengan begitu, pasien memiliki kesempatan untuk memastikan hasil pemeriksaan lebih akurat sebelum mengambil keputusan besar.

Ia juga menegaskan bahwa akses informasi kesehatan saat ini jauh lebih luas dibandingkan era 1990-an. Meski demikian, kemudahan itu tetap harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi yang benar dan dapat dipercaya.

Dalam pesannya, Lucy Liu mengajak masyarakat untuk menjadi pendukung terbesar bagi diri sendiri. Sikap proaktif, menurutnya, dapat membantu seseorang lebih waspada terhadap tanda-tanda awal penyakit.

Kisahnya memperlihatkan bahwa deteksi dini tidak hanya soal teknologi medis, tetapi juga keberanian untuk bertanya dan mencari kepastian. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, risiko keterlambatan penanganan dapat diminimalkan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!