Lucy Liu Ungkap Pengalaman Salah Diagnosa Kanker

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 05:14 WIB 4
Lucy Liu Ungkap Pengalaman Salah Diagnosa Kanker

Aktris Hollywood Lucy Liu mengungkap pengalaman pribadinya saat menjalani operasi pengangkatan benjolan di payudara setelah diduga sebagai kanker. Pengalaman yang terjadi pada 1990-an itu kini kembali menjadi sorotan karena ia ternyata salah didiagnosis.

Lewat wawancara dengan PEOPLE, bintang berusia 57 tahun itu menceritakan bahwa ia langsung mempercayai penilaian dokter saat informasi kesehatan masih terbatas. Kini, Lucy Liu menggunakan pengalamannya untuk mendorong kesadaran tentang pentingnya skrining kanker dan keberanian membela diri sendiri.

Kesehatan dan Diagnosis Awal

Lucy Liu mengaku mendatangi dokter setelah menemukan benjolan di payudara pada 1990-an. Saat itu, ia tidak memiliki banyak akses informasi kesehatan seperti yang tersedia sekarang.

Menurut penuturannya, dokter meraba benjolan tersebut dan menyatakan bahwa itu adalah kanker. Tidak ada pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram yang dilakukan pada saat itu.

Karena percaya pada penilaian medis yang diterimanya, Liu tidak banyak mempertanyakan hasil diagnosis tersebut. Ia mengaku situasi itu terasa menakutkan karena pengetahuan publik tentang kesehatan masih sangat terbatas.

Pengalaman tersebut membuatnya segera menjadwalkan operasi untuk mengangkat benjolan dari payudara. Setelah prosedur dilakukan, barulah ia mengetahui bahwa benjolan itu bukan kanker.

Keputusan Operasi dan Dampaknya

Operasi yang dijalani Lucy Liu awalnya didasari keyakinan bahwa ia tengah menghadapi kanker. Keputusan itu diambil cepat karena diagnosis awal membuatnya khawatir.

Belakangan, aktris yang dikenal lewat The Devil Wears Prada 2 itu menyadari bahwa tindakan medis tersebut dilakukan berdasarkan informasi yang belum lengkap. Pengalaman itu meninggalkan pelajaran penting tentang ketelitian dalam pemeriksaan kesehatan.

Ia menilai, pada masa itu masyarakat cenderung menerima begitu saja penjelasan dokter. Sikap tersebut membuat banyak orang tidak berpikir untuk meminta evaluasi tambahan.

Liu juga mengingat adanya saran dari teman agar ia mencari pendapat kedua, namun ia sempat mengabaikannya. Saat itu, ia merasa dokter pasti mengetahui apa yang paling tepat untuk dilakukan.

Pelajaran soal Advokasi Diri

Beberapa dekade kemudian, Lucy Liu menafsirkan pengalaman itu sebagai awal pemahamannya tentang pentingnya membela diri sendiri. Menurutnya, pasien perlu aktif mempertanyakan hasil pemeriksaan bila merasa ada yang belum jelas.

Ia menegaskan bahwa menerima diagnosis bukan berarti menutup kemungkinan untuk mencari penjelasan lain. Langkah itu dinilai penting agar keputusan medis benar-benar didasarkan pada informasi yang akurat.

Liu mengaku dulu ia berpikir tidak ada gunanya meminta pendapat kedua. Setelah waktu berlalu, pandangannya berubah karena ia melihat pentingnya keterbukaan terhadap evaluasi tambahan.

Pengalaman tersebut kini menjadi pengingat bahwa pasien memiliki peran aktif dalam proses kesehatan mereka sendiri. Kesadaran itu juga membantu mencegah keputusan yang terburu-buru.

Skrining Kanker Jadi Sorotan

Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer dalam kampanye Every Breakthrough Matters. Melalui kampanye itu, ia ingin mengajak masyarakat lebih peduli pada deteksi dini kanker.

Ia menekankan bahwa skrining bukan sekadar mencari kesalahan, melainkan memahami kondisi tubuh sejak dini. Menurutnya, informasi dan advokasi adalah bagian penting dari upaya menjaga kesehatan.

Liu juga menyoroti alasan banyak orang menunda skrining, meski teknologi medis kini jauh lebih maju. Sebagian orang, kata dia, takut mengetahui hasil yang tidak diinginkan atau terlalu sibuk untuk memeriksakan diri.

Pesan yang ingin ia sampaikan sederhana, yakni setiap orang perlu menjadi pendukung terbesar bagi dirinya sendiri. Dengan begitu, kesadaran kesehatan dapat tumbuh sebelum penyakit berkembang lebih jauh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!