Sarden Kalengan Bukan UPF, Tapi Tetap Perlu Diwaspadai

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 05:59 WIB 2
Sarden Kalengan Bukan UPF, Tapi Tetap Perlu Diwaspadai

Sarden kalengan mendadak ramai diperbincangkan setelah disebut tidak termasuk dalam kategori ultra processed food atau UPF. Label tersebut sempat memunculkan anggapan bahwa produk ini lebih sehat dari dugaan sebelumnya, padahal penilaiannya tidak sesederhana itu.

Risiko kesehatan dari sarden kalengan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, melainkan juga kandungan natrium dan kemungkinan paparan BPA. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa status non-UPF bukan berarti produk ini otomatis aman dikonsumsi tanpa batas.

Sarden Kalengan dan UPF

Perdebatan soal sarden kalengan muncul karena banyak orang mengaitkan tingkat pemrosesan dengan kualitas kesehatan suatu makanan. Padahal, sistem klasifikasi NOVA hanya salah satu alat untuk menilai pangan olahan, bukan satu-satunya penentu.

Sejumlah produk bisa saja tidak masuk kategori UPF, tetapi tetap memiliki risiko kesehatan tertentu. Dalam kasus sarden kalengan, perhatian publik tertuju pada kadar garam yang tinggi dan potensi kontaminasi dari kemasan.

Ahli menilai, pemahaman yang keliru bisa membuat konsumen menganggap semua produk non-UPF pasti aman. Padahal, komposisi bahan, proses pengemasan, dan cara konsumsi juga berpengaruh terhadap dampak kesehatannya.

Karena itu, label non-UPF sebaiknya dibaca sebagai informasi tambahan, bukan jaminan mutlak. Konsumen tetap perlu memperhatikan kandungan gizi dan frekuensi konsumsi sebelum menjadikannya menu harian.

BPA Dalam Kemasan Kaleng

Salah satu isu utama pada sarden kalengan adalah potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini digunakan sebagai resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan agar isi produk tidak langsung bersentuhan dengan logam.

Pada kondisi tertentu, seperti pemanasan atau kerusakan lapisan, partikel BPA dapat terlepas dan bermigrasi ke makanan. Migrasi ini menjadi perhatian karena BPA termasuk zat yang diawasi dalam keamanan pangan.

Sebuah riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023 menemukan migrasi BPA pada kadar kecil. Temuan itu masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari.

Meski berada di bawah ambang regulasi, kekhawatiran tetap ada bila paparan terjadi terus-menerus dalam jangka panjang. Akumulasi zat kimia dari berbagai sumber makanan dapat menjadi perhatian tersendiri bagi kesehatan konsumen.

Dampak Kesehatan Yang Perlu Dicermati

Selain paparan BPA, sarden kalengan juga kerap disorot karena kandungan natriumnya yang tinggi. Asupan garam berlebih dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, terutama jika dikonsumsi berulang tanpa kontrol porsi.

Dalam jangka panjang, konsumsi makanan yang tinggi natrium dapat membebani kerja jantung dan ginjal. Kondisi ini menjadi lebih berisiko pada orang dengan riwayat hipertensi atau gangguan metabolik.

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menjelaskan bahwa BPA yang terus masuk ke tubuh dapat berdampak pada kesehatan metabolik, hormonal, hingga memicu risiko kanker. Ia menyampaikan keterangan tersebut kepada detikcom, Kamis (21/5/2026).

Meski demikian, risiko itu tetap bergantung pada jumlah paparan dan pola konsumsi sehari-hari. Artinya, sarden kalengan tidak otomatis berbahaya, tetapi perlu ditempatkan sebagai pangan yang dikonsumsi secara bijak.

Cara Konsumsi Lebih Aman

Konsumen disarankan membaca label gizi sebelum membeli sarden kalengan. Perhatikan kadar natrium, ukuran saji, dan komposisi bahan agar pilihan yang diambil lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Jika memungkinkan, pilih produk dengan kandungan garam lebih rendah dan hindari pemanasan langsung di dalam kaleng. Cara ini dapat membantu mengurangi potensi migrasi bahan dari lapisan kemasan ke makanan.

Sarden kalengan juga sebaiknya tidak dijadikan menu utama setiap hari, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita hipertensi. Mengimbanginya dengan sumber protein segar dapat membantu menjaga pola makan yang lebih sehat.

Dengan memahami risiko dan cara konsumsi yang tepat, masyarakat dapat tetap menikmati sarden kalengan tanpa berlebihan. Kuncinya ada pada porsi, frekuensi, dan kesadaran membaca informasi pada kemasan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!