Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 04:26 WIB 3
Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari gaya hidup hingga lingkungan sekitar. Salah satu faktor yang kerap luput diperhatikan adalah pola makan, padahal sejumlah makanan dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker tertentu.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa mayoritas faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan, kebiasaan, serta hal-hal yang masuk ke dalam tubuh. Karena itu, memahami makanan pemicu risiko kanker menjadi langkah penting untuk pencegahan sejak dini.

Makanan Pemicu Kanker

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis makanan dapat memicu obesitas, diabetes tipe 2, hingga peradangan kronis. Kondisi-kondisi tersebut sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker pada organ tertentu.

Dikutip dari Healthline, sebagian makanan juga dapat mengandung karsinogen, yaitu zat berbahaya yang berpotensi menyebabkan kanker. Risiko ini muncul bukan hanya dari bahan makanan itu sendiri, tetapi juga dari cara pengolahan dan suhu memasaknya.

Dengan mengenali makanan yang berisiko, masyarakat dapat lebih mudah menyusun pola makan yang lebih sehat. Langkah sederhana ini dapat menjadi bagian dari upaya mencegah penyakit jangka panjang.

Daging Olahan

Daging olahan adalah jenis daging yang diawetkan melalui proses pengasapan, pengasinan, atau pengalengan. Contohnya meliputi sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog.

Proses pengawetan dengan nitrit dapat membentuk senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik. Sementara itu, pengasapan daging juga bisa menghasilkan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon atau PAH yang berisiko bagi kesehatan.

Sebuah ulasan tahun 2019 menyebut daging merah atau olahan berpotensi meningkatkan risiko kanker lambung. Meski demikian, para peneliti masih memerlukan studi lanjutan untuk memperjelas hubungan tersebut.

Makanan Gorengan

Makanan bertepung yang dimasak pada suhu tinggi dapat menghasilkan akrilamida. Senyawa ini dapat muncul saat makanan digoreng, dipanggang, atau dibakar.

Contoh makanan yang umum mengandung akrilamida antara lain kentang goreng dan keripik kentang. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa akrilamida bersifat karsinogenik dan dapat merusak DNA.

Konsumsi makanan gorengan secara berlebihan juga berkaitan dengan obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut dapat memicu stres oksidatif dan peradangan yang ikut menaikkan risiko kanker.

Masakan Terlalu Matang

Memasak makanan terlalu lama, terutama daging, dapat menghasilkan zat berbahaya bagi tubuh. Pada suhu terlalu tinggi, daging dapat membentuk PAH dan heterocyclic amines atau HCA.

Kedua senyawa tersebut bersifat karsinogenik karena dapat mengubah DNA sel tubuh. Selain itu, FDA juga menyebut memasak makanan bertepung terlalu lama dapat meningkatkan pembentukan akrilamida.

Untuk menurunkan risiko, metode memasak seperti merebus perlahan, memakai panci presto, atau menggunakan slow cooker dapat menjadi pilihan. Suhu yang lebih rendah juga membantu mengurangi pembentukan senyawa berbahaya.

Gula dan Alkohol

Makanan manis dan karbohidrat olahan, seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis, dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi ini berhubungan dengan peradangan dan stres oksidatif yang dapat memicu kanker tertentu.

Sebuah tinjauan tahun 2019 menyatakan bahwa diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Karena itu, pilihan karbohidrat yang lebih sehat perlu menjadi perhatian dalam menu harian.

Alkohol juga termasuk faktor yang perlu dibatasi karena diubah hati menjadi asetaldehida, senyawa karsinogenik. Senyawa ini dapat merusak DNA, meningkatkan stres oksidatif, dan mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!