Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 23:36 WIB 3
Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, gaya hidup, dan lingkungan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis makanan dapat meningkatkan risiko kanker tertentu melalui mekanisme seperti peradangan, stres oksidatif, hingga terbentuknya zat karsinogen.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan, kebiasaan hidup, dan hal-hal yang masuk ke dalam tubuh. Karena itu, pemilihan makanan sehari-hari menjadi langkah penting untuk membantu pencegahan sejak dini.

Makanan Pemicu Risiko Kanker

Berbagai makanan tidak langsung maupun langsung dapat memengaruhi munculnya kanker melalui peningkatan berat badan, diabetes tipe 2, dan kerusakan sel. Dikutip dari Healthline, sebagian makanan juga mengandung senyawa yang bersifat karsinogenik.

Prof Aru menyebut sekitar 95 persen risiko kanker pada orang dewasa berkaitan dengan faktor lingkungan, gaya hidup, kebiasaan, serta hal-hal yang masuk ke dalam tubuh atau terhirup. Penjelasan itu menegaskan bahwa pencegahan kanker tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga pada disiplin menjaga pola hidup.

Dengan memahami jenis makanan yang berisiko, masyarakat dapat lebih cermat dalam menyusun menu harian. Langkah sederhana seperti membatasi makanan tertentu dapat membantu menurunkan paparan faktor pemicu kanker.

Daging Olahan dan Gorengan

Daging olahan seperti sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog umumnya diawetkan melalui pengasapan, penggaraman, atau pengalengan. Proses tersebut dapat memunculkan senyawa karsinogen, termasuk N-nitroso dan polycyclic aromatic hydrocarbon atau PAH.

Sebuah ulasan pada 2019 menyebut daging merah dan olahan berpotensi meningkatkan risiko kanker lambung, meski studi lanjutan masih diperlukan. Temuan ini menjadi alasan kuat untuk membatasi konsumsi daging olahan secara rutin.

Sementara itu, makanan yang digoreng pada suhu tinggi dapat menghasilkan akrilamida, terutama pada bahan bertepung seperti kentang goreng dan keripik kentang. Zat ini terbukti bersifat karsinogenik dalam sejumlah penelitian dan berisiko merusak DNA sel tubuh.

Masakan Terlalu Matang

Memasak daging terlalu lama atau dengan suhu terlalu tinggi dapat menghasilkan PAH dan heterocyclic amines atau HCA. Kedua zat tersebut bersifat karsinogenik dan dapat meningkatkan risiko kanker melalui perubahan pada DNA sel.

Food and Drug Administration atau FDA juga menyebut proses memasak berlebihan pada makanan bertepung, seperti kentang, dapat meningkatkan pembentukan akrilamida. Kondisi ini menunjukkan bahwa cara memasak sama pentingnya dengan jenis bahan makanan yang dipilih.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan memilih metode memasak yang lebih aman, seperti merebus perlahan, menggunakan panci presto, memanggang dengan suhu lebih rendah, atau memakai slow cooker. Cara ini dinilai dapat menekan pembentukan senyawa berbahaya pada makanan.

Gula, Karbohidrat, dan Alkohol

Makanan manis dan karbohidrat olahan seperti roti putih, nasi putih, serta sereal manis dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut berkaitan dengan peradangan dan stres oksidatif yang dapat memicu kanker tertentu.

Sebuah tinjauan pada 2019 menyatakan bahwa diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Karena itu, mengganti karbohidrat olahan dengan pilihan yang lebih sehat menjadi langkah yang patut dipertimbangkan.

Contoh pengganti yang lebih baik antara lain roti gandum utuh, pasta gandum utuh, dan beras merah. Selain itu, konsumsi alkohol juga perlu dibatasi karena tubuh memecahnya menjadi asetaldehida, senyawa karsinogenik yang dapat merusak DNA dan mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!