Lima Jenis Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 06:57 WIB 2
Lima Jenis Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, gaya hidup, dan lingkungan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa makanan tertentu dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker pada jenis tertentu.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan, kebiasaan, dan gaya hidup. Karena itu, memahami pemicu kanker dari makanan menjadi langkah penting untuk pencegahan sejak dini.

Makanan Pemicu Risiko Kanker

Prof Aru menyebut sekitar 95 persen risiko kanker dipengaruhi oleh lingkungan, gaya hidup, kebiasaan, serta hal-hal yang masuk ke dalam tubuh atau terhirup. Penjelasan ini sejalan dengan sejumlah temuan ilmiah yang menilai pola makan sebagai salah satu faktor yang patut diwaspadai.

Dikutip dari Healthline, beberapa makanan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2, dua kondisi yang kerap dikaitkan dengan kanker tertentu. Ada pula makanan yang mengandung karsinogen, yaitu zat berbahaya yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker.

Risiko tersebut tidak muncul secara instan, tetapi berkembang melalui proses yang panjang dan dipengaruhi kebiasaan makan sehari-hari. Karena itu, pilihan makanan perlu diperhatikan, terutama pada konsumsi yang berulang dalam jangka panjang.

Pemahaman terhadap jenis makanan berisiko dapat membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat. Dengan begitu, pola makan harian dapat diarahkan menjadi lebih aman dan seimbang.

Daging Olahan dan Gorengan

Daging olahan adalah daging yang diawetkan melalui pengasapan, pengasinan, atau pengalengan, dan banyak di antaranya berasal dari daging merah. Contohnya meliputi sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog.

Proses pengolahan tersebut dapat menghasilkan senyawa karsinogenik, termasuk N-nitroso dari penggunaan nitrit. Pengasapan juga dapat memunculkan polycyclic aromatic hydrocarbon atau PAH yang bersifat berbahaya.

Sementara itu, makanan yang digoreng pada suhu tinggi dapat membentuk akrilamida, terutama pada produk berbasis tepung seperti kentang goreng dan keripik kentang. Senyawa ini telah dikaitkan dengan dampak buruk terhadap DNA dalam studi laboratorium.

Selain paparan zat berbahaya, konsumsi gorengan berlebihan juga dapat mendorong obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut kemudian dapat memicu peradangan dan stres oksidatif yang ikut meningkatkan risiko kanker.

Masakan Terlalu Matang

Makanan yang dimasak terlalu lama, terutama daging, berisiko menghasilkan senyawa karsinogenik. Pada suhu tinggi, daging dapat memunculkan PAH dan heterocyclic amines atau HCA yang berpotensi merusak DNA sel.

Food and Drug Administration atau FDA juga menyebutkan bahwa pemasakan berlebih pada bahan bertepung, seperti kentang, dapat meningkatkan pembentukan akrilamida. Karena itu, cara memasak menjadi faktor penting yang sering diabaikan.

Untuk mengurangi risiko tersebut, metode memasak yang lebih aman dapat dipilih, seperti merebus perlahan atau poaching. Opsi lain adalah memakai panci presto atau memasak dengan slow cooker.

Memanggang tetap bisa dilakukan, tetapi sebaiknya menggunakan suhu lebih rendah dan waktu yang lebih terkontrol. Dengan cara ini, kemungkinan pembentukan zat berbahaya dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas makanan.

Gula, Tepung, dan Alkohol

Makanan manis dan karbohidrat olahan, seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis, juga perlu dibatasi. Konsumsi berlebih dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2 yang berkaitan dengan kanker tertentu.

Sebuah tinjauan pada 2019 menyebut diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Kondisi tersebut berkaitan dengan peradangan dan stres oksidatif yang terus-menerus terjadi di dalam tubuh.

Sebagai alternatif, masyarakat dapat mengganti sumber karbohidrat olahan dengan pilihan yang lebih utuh, seperti roti gandum utuh, pasta gandum utuh, dan beras merah. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kestabilan metabolisme tubuh.

Alkohol juga termasuk faktor yang tidak boleh diabaikan karena hati memecahnya menjadi asetaldehida, senyawa karsinogenik. Tinjauan tahun 2017 menyebut asetaldehida dapat merusak DNA, meningkatkan stres oksidatif, dan mengganggu fungsi kekebalan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!