Rosan Sebut Pelemahan IHSG Dipicu Sentimen Global

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 27 Mei 2026 09:02 WIB 2
Rosan Sebut Pelemahan IHSG Dipicu Sentimen Global

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut ditugaskan mengelola ekspor komoditas strategis, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, hingga fero alloy. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094, setelah sehari sebelumnya juga turun 0,82 persen. Rosan menilai tekanan pasar tidak semata-mata dipicu kebijakan baru, melainkan juga oleh faktor teknikal dan sentimen global.

Saat pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam disampaikan pada pukul 11.19 WIB, IHSG sempat terjun lebih dari 2 persen. Kondisi itu memicu perhatian pelaku pasar, terutama karena penurunan berlangsung di tengah perubahan persepsi investor terhadap saham-saham tertentu. Rosan menyebut pasar saat ini sedang menghadapi tekanan yang datang dari berbagai arah. Di antaranya adalah penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang berdampak pada aliran dana asing.

IHSG dan Sentimen Pasar

Rosan mengatakan tekanan di pasar saham perlu dibaca secara statistik dan berdasarkan data. Ia menyebut rebalancing MSCI yang akan berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026 menjadi salah satu pemicu tekanan. Menurut dia, investor asing cenderung menyesuaikan portofolio ketika ada saham yang keluar dari indeks tersebut. Kondisi ini, kata Rosan, dapat memberi tekanan tambahan pada pergerakan IHSG.

MSCI telah merilis hasil penyesuaian yang membuat 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeksnya. Perubahan tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengantisipasi potensi penjualan pada saham-saham terkait. Rosan menilai dinamika seperti ini merupakan hal yang wajar dalam pasar modal. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan jangka pendek tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental emiten.

Dalam rapat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Rosan menegaskan investor perlu melihat prospek perusahaan secara lebih panjang. Ia menilai reaksi pasar yang terlalu fokus pada sentimen sesaat berpotensi menutup peluang membaca kinerja riil emiten. Menurut dia, sejumlah saham BUMN masih menunjukkan kekuatan yang solid. Karena itu, arah pasar sebaiknya tidak hanya dinilai dari pergerakan harian IHSG.

Fundamental BUMN Masih Kuat

Rosan mencontohkan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara yang dinilai masih mencatat performa positif. Ia menyebut imbal hasil atau yield beberapa bank pelat merah berada di atas 10 hingga 11 persen. Bagi Rosan, angka tersebut menunjukkan daya tarik fundamental yang masih kuat. Ia menilai kinerja seperti ini layak menjadi pertimbangan utama investor.

Selain sektor perbankan, Rosan menilai kinerja perusahaan pelat merah lain juga tetap terjaga. Ia menegaskan bahwa kondisi fundamental BUMN tidak ikut melemah hanya karena tekanan pasar. Pandangan tersebut didasarkan pada performa bisnis yang masih bertumbuh dan neraca yang relatif sehat. Dengan demikian, ia melihat koreksi saham sebagai bagian dari siklus pasar, bukan penurunan kualitas perusahaan.

Rosan juga mengakui pasar saat ini tengah dipengaruhi persepsi dan sentimen yang kurang menguntungkan. Meski begitu, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang baik. Dalam pandangannya, pasar sering kali bereaksi berlebihan terhadap isu jangka pendek. Karena itu, investor diminta tetap mempertimbangkan kekuatan bisnis inti masing-masing emiten.

Rebalancing MSCI Menjadi Sorotan

Penyesuaian indeks MSCI menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arus investasi global ke saham Indonesia. Ketika sebuah saham keluar dari indeks, sebagian investor institusi biasanya menyesuaikan portofolio mereka. Situasi itu bisa menambah tekanan jual dalam jangka pendek. Dalam konteks ini, pelemahan IHSG dinilai wajar terjadi saat pasar mencerna perubahan komposisi indeks.

Rosan menilai tekanan yang muncul bukan semata akibat pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia. Ia melihat pasar tengah merespons kombinasi faktor teknikal, global, dan penyesuaian indeks. Karena itu, hubungan sebab-akibat perlu dibaca secara hati-hati. Menurut dia, tidak semua pelemahan pasar dapat dikaitkan langsung dengan satu kebijakan tertentu.

Ia juga mengingatkan bahwa pasar modal memiliki karakter yang sensitif terhadap persepsi. Saat sentimen negatif mendominasi, harga saham bisa bergerak lebih cepat daripada perubahan fundamental. Namun, dalam jangka menengah dan panjang, Rosan optimistis pasar akan menyesuaikan diri. Ia menilai prospek ekonomi dan korporasi Indonesia tetap mendukung pemulihan IHSG.

Prospek Pasar Jangka Panjang

Rosan menegaskan pentingnya melihat kondisi pasar dalam horizon menengah dan panjang. Ia percaya koreksi yang terjadi saat ini tidak akan mengubah kekuatan dasar ekonomi nasional. Menurut dia, perusahaan dengan fundamental baik akan tetap mampu bertahan. Oleh karena itu, investor diminta tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari fluktuasi harian.

Ia juga menilai peran BUMN tetap strategis dalam menopang perekonomian. Kinerja yang positif dari sejumlah perusahaan pelat merah menjadi penopang kepercayaan investor. Rosan menyebut data dan performa riil jauh lebih penting dibandingkan persepsi sesaat. Dengan pendekatan itu, ia yakin pasar dapat kembali stabil seiring meredanya sentimen.

Pernyataan Rosan menunjukkan pemerintah dan Danantara ingin menjaga kepercayaan pasar di tengah volatilitas. Fokus pada fundamental, menurut dia, menjadi kunci agar investor tidak terjebak pada panik jangka pendek. Ia optimistis kondisi pasar akan membaik seiring waktu. Dalam pandangannya, pemulihan IHSG akan ditopang oleh kinerja emiten yang kuat dan ekonomi yang tetap solid.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!