Komdigi: AI Jadi Pendorong Utama Adopsi 5G di Indonesia

Teknologi BRH 25 Mei 2026 03:37 WIB 6
Komdigi: AI Jadi Pendorong Utama Adopsi 5G di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi pendorong utama adopsi jaringan 5G di Indonesia. Pemerintah melihat kombinasi AI dan 5G sebagai kunci percepatan transformasi digital, di tengah cakupan 5G nasional yang masih rendah sejak diluncurkan pada pertengahan 2021.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, mengatakan AI berpotensi menjadi killer content yang mempercepat pemanfaatan 5G di berbagai sektor. Hingga kini, cakupan jaringan 5G di Indonesia baru mencapai 4,44 persen, sementara pemerintah menargetkannya naik menjadi 7 persen pada 2029.

AI Dorong Adopsi 5G

Wayan menilai AI dapat memainkan peran seperti momentum besar dalam mendorong perubahan teknologi pada masa lalu. Menurut dia, ekosistem digital membutuhkan pemicu yang mampu membuat masyarakat dan industri lebih cepat mengadopsi layanan baru.

Ia mencontohkan, di era penyiaran, migrasi ke televisi digital juga membutuhkan dorongan besar agar publik bergerak serentak. Dalam konteks saat ini, AI disebut lebih relevan karena mampu langsung memberi nilai tambah pada jaringan 5G.

Wayan menyampaikan pandangan itu dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa AI bukan sekadar teknologi pendamping, melainkan penggerak utama pemanfaatan 5G.

Menurut dia, kehadiran AI akan mendorong penggunaan layanan data yang lebih intensif dan berkelanjutan. Kondisi itu diyakini bisa mempercepat kebutuhan pasar terhadap jaringan berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah.

Fondasi Ekosistem Digital

Wayan menjelaskan bahwa Indonesia kini memasuki fase baru transformasi digital yang tidak lagi hanya bertumpu pada konektivitas. Fokus pemerintah bergeser ke ekosistem digital yang lebih cerdas, terukur, dan berbasis data.

Dalam kerangka tersebut, 5G dan AI dinilai tidak bisa dipisahkan karena memiliki fungsi yang saling melengkapi. 5G menyediakan konektivitas cepat, sedangkan AI mengolah data menjadi wawasan dan inovasi.

Ia menyebut jaringan 5G sebagai fondasi utama untuk mendukung mobilitas data dalam jumlah besar. Di sisi lain, AI berperan sebagai mesin yang mengubah data mentah menjadi layanan yang lebih efisien dan bernilai ekonomi.

Integrasi keduanya dinilai akan melahirkan model bisnis baru di berbagai lini industri. Potensi itu juga membuka ruang inovasi yang lebih luas bagi pelaku usaha dan pengembang teknologi nasional.

Peluang Lintas Sektor

Komdigi melihat kombinasi 5G dan AI akan membawa dampak signifikan bagi sektor manufaktur, kesehatan, dan pengembangan kota cerdas. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kualitas layanan publik.

Di industri manufaktur, penerapan keduanya dapat mendorong pengembangan Industry 4.0 yang lebih matang. Proses produksi dapat dipantau secara real time, sehingga keputusan bisnis bisa diambil lebih cepat dan akurat.

Pada sektor kesehatan digital, konektivitas berkecepatan tinggi dan analisis berbasis AI dapat membantu layanan yang lebih responsif. Sementara itu, pada smart city, pengelolaan lalu lintas, keamanan, dan layanan publik dapat dibuat lebih terintegrasi.

Wayan menilai manfaat itu hanya akan terasa bila implementasinya menyentuh kebutuhan masyarakat secara nyata. Karena itu, pemerintah ingin memastikan teknologi baru tidak berhenti pada tahap penggelaran infrastruktur saja.

Regulasi Dan Infrastruktur

Menurut Wayan, tantangan pemerintah tidak hanya membangun jaringan, tetapi juga memastikan pemanfaatannya inklusif, aman, dan memberi manfaat nyata. Ia menekankan bahwa teknologi harus hadir untuk memperluas akses, bukan menciptakan kesenjangan baru.

Untuk itu, Komdigi terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem pendukung, termasuk infrastruktur jaringan, pusat data, dan talenta digital. Ketiga elemen tersebut dianggap penting agar solusi berbasis AI dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pemerintah juga menyiapkan kebijakan yang adaptif agar pengembangan 5G dan AI berjalan seiring dengan pertumbuhan industri. Dalam pandangan Komdigi, regulasi harus berfungsi sebagai enabler, bukan penghambat.

Adapun saat ini Komdigi telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk mendukung pemerataan akses internet 4G hingga 5G. Spektrum ini diharapkan menjadi penopang utama perluasan layanan digital di Indonesia.

Tag Terkait
#AI#5G#Komdigi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!