Komdigi: AI Bakal Dorong Adopsi 5G di Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 21 Mei 2026 23:24 WIB 8
Komdigi: AI Bakal Dorong Adopsi 5G di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence akan menjadi pendorong utama adopsi jaringan 5G di Indonesia. Sejak diluncurkan pada 2021, pemanfaatan 5G masih terbatas, dengan cakupan baru 4,44 persen. Pemerintah kini menargetkan perluasan jangkauan hingga 7 persen pada 2029 melalui rencana strategis terbaru.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyebut AI berpotensi menjadi killer content yang mempercepat pemanfaatan 5G di berbagai sektor. Ia menilai teknologi tidak lagi sekadar soal konektivitas, tetapi juga soal bagaimana data diolah menjadi nilai tambah. Pernyataan itu disampaikan dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu 29 Mei 2026.

Dorongan Kecerdasan Buatan

Wayan menilai Indonesia sedang memasuki fase baru transformasi digital. Pergeseran terjadi dari konektivitas dasar menuju ekosistem digital yang lebih cerdas dan berbasis data. Dalam konteks itu, AI dan 5G dinilai saling melengkapi.

Menurut dia, 5G menyediakan koneksi berkecepatan tinggi dengan latensi rendah. Sementara itu, AI berfungsi mengolah data menjadi informasi yang berguna bagi layanan dan inovasi. Kombinasi keduanya membuka ruang bagi model bisnis baru.

Ia mencontohkan, di masa lalu migrasi ke televisi digital membutuhkan momentum besar. Kini, AI dinilai dapat memainkan peran serupa untuk mendorong penggunaan 5G. Dengan demikian, manfaat jaringan generasi kelima bisa lebih cepat dirasakan masyarakat dan industri.

Wayan menegaskan bahwa Indonesia tidak cukup hanya membangun jaringan. Pemerintah juga perlu memastikan ada penggunaan yang nyata dan relevan. Tanpa itu, investasi infrastruktur berisiko tidak optimal.

Cakupan Masih Rendah

Meski sudah hadir sejak 2021, cakupan 5G di Indonesia masih tergolong rendah. Data Komdigi menunjukkan jangkauannya baru mencapai 4,44 persen. Angka ini menunjukkan tantangan pemerataan layanan masih besar.

Rencana Strategis Kementerian Komdigi 2025-2029 menargetkan cakupan internet cepat tersebut naik menjadi 7 persen pada 2029. Target itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses digital secara bertahap. Pemerintah ingin memastikan perluasan jaringan berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat.

Wayan menilai perlu ada percepatan agar 5G tidak tertinggal dari perkembangan teknologi lain. Ia menyebut ekosistem digital harus disiapkan lebih awal supaya adopsi tidak berjalan lambat. Dengan begitu, sektor usaha dapat memanfaatkan jaringan baru secara lebih luas.

Pemerintah juga menekankan pentingnya pemerataan akses di berbagai wilayah. Fokus tidak hanya tertuju pada kota besar, tetapi juga daerah yang masih minim infrastruktur. Langkah ini diharapkan mempersempit kesenjangan digital antarwilayah.

Peluang Lintas Sektor

Kombinasi 5G dan AI diperkirakan membuka peluang besar di banyak sektor. Industri manufaktur berbasis Industry 4.0 menjadi salah satu area yang paling siap memanfaatkannya. Konektivitas cepat dan analisis data real time dapat meningkatkan efisiensi produksi.

Di sektor kesehatan, teknologi itu berpotensi mendukung layanan digital yang lebih responsif. Rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan dapat memanfaatkan data untuk pemantauan dan pengambilan keputusan. Hal ini dinilai penting untuk mempercepat kualitas layanan kepada pasien.

Selain itu, pengembangan kota cerdas juga menjadi salah satu bidang yang berpotensi tumbuh. Infrastruktur 5G memungkinkan integrasi berbagai perangkat dan layanan berbasis sensor. AI kemudian membantu membaca pola data untuk mendukung pengelolaan kota yang lebih efektif.

Wayan menyebut integrasi tersebut dapat melahirkan banyak peluang usaha baru. Pelaku industri dinilai bisa menciptakan produk dan layanan yang sebelumnya sulit diwujudkan. Karena itu, penguatan ekosistem digital menjadi kebutuhan strategis.

Langkah Pemerintah

Komdigi terus mendorong pengembangan ekosistem pendukung bagi 5G dan AI. Infrastruktur jaringan, pusat data, dan talenta digital menjadi tiga elemen yang diprioritaskan. Ketiganya dipandang penting agar inovasi dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Wayan menegaskan bahwa pemerintah juga menyiapkan kebijakan yang adaptif. Regulasi harus mampu mengikuti perubahan industri yang berlangsung cepat. Dalam pandangannya, aturan perlu menjadi enabler, bukan penghambat.

Selain itu, aspek inklusivitas dan keamanan turut menjadi perhatian. Pemerintah ingin memastikan pemanfaatan teknologi tidak hanya dinikmati kelompok tertentu. Manfaatnya harus benar-benar dirasakan masyarakat secara luas.

Untuk mendukung pemerataan akses, Komdigi telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita frekuensi itu diharapkan mendorong perluasan jaringan 4G hingga 5G. Dengan langkah tersebut, pemerintah menargetkan konektivitas digital yang lebih merata dan siap mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!