Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut ribuan menara telekomunikasi di Pulau Sumatra terdampak pemadaman listrik yang dilakukan PLN pada 22 Mei 2026. Gangguan itu membuat layanan telepon dan internet di sejumlah wilayah ikut terganggu.
Berdasarkan data Komdigi per 23 Mei 2026 pukul 12.00 WIB, tercatat 8.736 site telekomunikasi masih terdampak. Jumlah itu menurun 1.410 site dibandingkan kondisi pukul 00.00 WIB pada hari yang sama, saat 10.146 site sempat down.
Gangguan telekomunikasi di Sumatra
Komdigi menjelaskan blackout di Sumatra menyebabkan base transceiver station atau BTS kehilangan pasokan listrik. Kondisi tersebut memicu kenaikan jumlah site down dan berdampak pada stabilitas layanan seluler. Sejumlah pengguna di wilayah terdampak mengalami gangguan saat mengakses telepon dan internet. Situasi ini terjadi di 10 provinsi dan 118 kabupaten/kota.
Provinsi yang terdampak meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung. Komdigi menyampaikan pemulihan jaringan dilakukan secara bertahap seiring perbaikan pasokan listrik. Data kondisi lapangan terus diperbarui agar proses penanganan lebih terukur. Pemerintah juga memantau dampak gangguan pada area dengan trafik tinggi.
Dalam unggahan di akun Instagram Kementerian Komdigi pada Senin, 25 Mei 2026, pemulihan layanan disebut terus berjalan. Komdigi menegaskan koordinasi dengan operator seluler menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan. Sejumlah langkah teknis dilakukan untuk menjaga layanan tetap tersedia di titik-titik penting. Upaya tersebut difokuskan pada wilayah yang mengalami gangguan paling berat.
Pemulihan jaringan terus dikebut
Komdigi melakukan monitoring kondisi jaringan bersama operator seluler dan pemerintah daerah. Koordinasi juga dijalankan dengan Balai Monitor SFR serta Dinas Kominfo daerah. Langkah ini bertujuan memastikan penanganan gangguan berlangsung cepat dan tepat sasaran. Pengawasan dilakukan agar proses pemulihan tidak terhambat di lapangan.
Di sisi operator, upaya pemulihan dilakukan melalui pengiriman genset ke BTS terdampak. Operator juga menyiapkan daya cadangan untuk menjaga sebagian site tetap beroperasi. Prioritas pemulihan diberikan kepada site yang dianggap penting bagi layanan publik. Selain itu, distribusi bahan bakar genset turut dikawal agar pasokan listrik cadangan tidak terputus.
Komdigi menyebut perkembangan pemulihan akan terus diumumkan secara berkala. Pemerintah berharap stabilitas layanan telekomunikasi dapat kembali normal setelah kondisi kelistrikan membaik. Pemantauan intensif dilakukan untuk mengantisipasi gangguan susulan. Dengan langkah tersebut, pemulihan diharapkan berjalan lebih cepat di seluruh wilayah terdampak.
Dampak meluas ke banyak wilayah
Data Komdigi menunjukkan sebaran terdampak paling besar berada di Sumatra Utara dengan 5.493 site. Aceh menyusul dengan 1.904 site, sementara Sumatra Barat mencapai 565 site. Angka tersebut menunjukkan gangguan terjadi pada area yang cukup luas. Dampaknya terasa pada jaringan yang menopang konektivitas masyarakat sehari-hari.
Meski jumlah site terdampak masih besar, tren pemulihan mulai terlihat dalam 12 jam terakhir. Penurunan dari 10.146 site menjadi 8.736 site menunjukkan adanya perbaikan bertahap. Namun, Komdigi tetap meminta operator menjaga kesiapsiagaan di lapangan. Hal ini penting untuk mencegah layanan kembali terganggu ketika kondisi listrik belum sepenuhnya normal.
Gangguan listrik di Sumatra menegaskan ketergantungan layanan telekomunikasi pada pasokan energi yang stabil. Saat listrik padam, infrastruktur jaringan seperti BTS menjadi rentan dan layanan seluler ikut menurun kualitasnya. Karena itu, penguatan daya cadangan dan kesiapan teknis menjadi faktor penting. Pemerintah dan operator kini dituntut bergerak cepat agar aktivitas komunikasi masyarakat tidak semakin terganggu.
Data pemulihan diperbarui berkala
Komdigi memastikan data pemulihan tidak bersifat final dan akan diperbarui secara berkala. Pembaruan diperlukan karena kondisi di lapangan dapat berubah seiring perbaikan listrik dan penanganan teknis. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap mengikuti informasi resmi. Langkah ini penting agar publik memperoleh gambaran yang akurat mengenai progres pemulihan.
Koordinasi lintas lembaga menjadi bagian penting dalam menangani gangguan telekomunikasi berskala besar. Selain operator seluler, pemerintah daerah ikut dilibatkan untuk memperlancar distribusi logistik dan pemantauan jaringan. Balai Monitor SFR juga berperan dalam pengawasan teknis di lapangan. Sinergi tersebut diharapkan mempercepat normalisasi layanan di wilayah yang terdampak paling parah.
Dengan kondisi yang masih dalam tahap pemulihan, fokus utama pemerintah adalah menjaga layanan tetap berjalan semaksimal mungkin. Prioritas diberikan pada site yang melayani area padat penduduk dan fasilitas vital. Komdigi menekankan bahwa pemulihan jaringan akan terus dikawal sampai kondisi kembali stabil. Hingga saat ini, proses penanganan masih berlangsung secara bertahap.
