Kisah Aisah Bangun Usaha Jajanan Betawi hingga Laris

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 19:12 WIB 5
Kisah Aisah Bangun Usaha Jajanan Betawi hingga Laris

Aisah, mantan karyawan pabrik, membuktikan bahwa usaha sampingan dapat tumbuh menjadi bisnis yang menjanjikan. Berawal dari kebutuhan menambah penghasilan, ia kini sukses menjual aneka jajanan jadul khas Betawi dengan omzet jutaan rupiah per bulan.

Usaha yang dirintis sejak 2018 itu kemudian dipatenkan dengan nama Betawi Punya Gaye pada 2020. Perjalanan Aisah menunjukkan bahwa kegigihan, keberanian mengambil keputusan, dan kemauan beradaptasi menjadi kunci bertahannya pelaku UMKM di tengah perubahan pasar.

Awal usaha jajanan Betawi

Aisah memulai langkah bisnisnya saat masih bekerja sebagai karyawan pabrik pada 2018. Ia saat itu mencari pemasukan tambahan dengan berjualan camilan kecil-kecilan.

Produk pertama yang ia jual adalah keripik pedas. Barang dagangan itu ia bawa ke pabrik, ditawarkan kepada teman kerja, lalu dititipkan ke warung sekitar.

Dari penjualan awal tersebut, Aisah sempat meraup pendapatan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Meski belum besar, hasil itu menjadi modal penting untuk melanjutkan usaha.

Pilihan untuk berjualan makanan ringan muncul karena ia membutuhkan sumber pendapatan yang fleksibel. Cara itu juga memudahkannya memulai usaha tanpa modal yang terlalu besar.

Berhenti kerja demi usaha

Situasi berubah ketika penjualan keripik mulai melambat. Sejumlah warung tutup, sementara pandemi COVID-19 membuat permintaan ikut menurun.

Alih-alih berhenti, Aisah memilih mengubah arah usaha. Ia lalu beralih ke jajanan khas Betawi seperti kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang.

Keputusan itu menjadi titik balik yang menentukan perjalanan bisnisnya. Setelah menimbang masa depan usahanya, ia akhirnya mengundurkan diri dari pabrik setelah hampir 20 tahun bekerja.

Keputusan besar itu diambil agar ia bisa fokus penuh pada bisnis. Menurut Aisah, langkah tersebut lebih masuk akal dibanding terus membagi waktu antara pekerjaan utama dan usaha.

Brand Betawi Punya Gaye

Pada 2020, Aisah mulai serius mengembangkan usahanya dengan bergabung ke Jakpreneur. Ia juga memanfaatkan waktu luangnya untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan HAKI dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Awalnya, usaha itu memakai nama Camilan 19. Namun karena nama tersebut dinilai terlalu pasaran, ia diminta mencari identitas baru yang lebih kuat.

Dari proses itu lahirlah nama Betawi Punya Gaye, yang kini menjadi merek dagang usahanya. Nama tersebut sekaligus menegaskan karakter produk yang lekat dengan budaya Betawi.

Aisah kemudian mengembangkan resep secara autodidak agar rasa produknya konsisten. Pengalaman masa kecil saat membantu orang tua membuat kue turut menjadi bekal penting dalam meracik camilan yang ia jual sekarang.

Dukungan dan peluang tumbuh

Pelatihan dan pendampingan menjadi bagian penting dalam perjalanan Aisah membangun usahanya. Ia mendapatkan bekal tambahan dari berbagai program yang mendorong pelaku UMKM agar lebih siap bersaing.

Salah satu dukungan tersebut datang dari Rumah BUMN BRI. Kehadiran ruang pembinaan seperti ini membantu pelaku usaha memahami aspek produksi, pemasaran, hingga penguatan merek.

Bagi Aisah, keberhasilan tidak hanya datang dari produk yang enak, tetapi juga dari kemampuan membaca peluang. Ia memilih bertahan, berinovasi, dan memanfaatkan jaringan yang tersedia untuk mengembangkan bisnisnya.

Kisah Aisah menjadi contoh bahwa usaha kecil dapat naik kelas bila dikelola secara konsisten. Dari jajanan sederhana, ia berhasil membangun merek lokal yang punya identitas kuat dan nilai ekonomi yang terus tumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!