Airlangga Bantah DSI Jadi Penyebab Kejatuhan IHSG

Forex & Saham Kevin S. Pratama 31 Mei 2026 23:11 WIB 2
Airlangga Bantah DSI Jadi Penyebab Kejatuhan IHSG

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah anggapan bahwa pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi penyebab anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, pelemahan indeks lebih dipengaruhi sentimen global yang sedang menekan pasar keuangan. Airlangga menyampaikan hal itu di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Jumat (22/5/2026). Pada perdagangan pagi hari ini, IHSG disebut kembali bergerak di zona hijau.

Airlangga menjelaskan, koreksi IHSG juga berkaitan dengan rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ia menilai pergerakan tersebut merupakan bagian wajar dari dinamika pasar. Pada penutupan perdagangan terakhir, indeks bahkan sempat tertekan cukup dalam sebelum berbalik arah. Kondisi itu, menurutnya, tidak bisa langsung dikaitkan dengan keberadaan badan baru yang mengelola ekspor komoditas strategis.

IHSG dan Sentimen Pasar

Airlangga menegaskan bahwa pelemahan IHSG tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti kondisi pasar global. Ia menyebut koreksi yang terjadi pada saham emiten merupakan respons alami terhadap perubahan sentimen. Dalam pandangannya, pasar saham memang kerap bergerak cepat saat ada penyesuaian indeks internasional. Karena itu, penurunan yang terjadi tidak perlu dibaca sebagai tanda penolakan terhadap kebijakan pemerintah.

Ia juga menepis asumsi bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam langsung memicu aksi jual besar. Saat pernyataan itu disampaikan pada pukul 11.19 WIB, IHSG memang turun lebih dari 2 persen. Namun Airlangga menilai tekanan tersebut merupakan bagian dari gejolak pasar yang lebih luas. Faktor eksternal, kata dia, jauh lebih dominan dalam membentuk arah perdagangan saat itu.

Penjelasan Airlangga mengacu pada pola pergerakan indeks dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Rabu (20/5/2026), IHSG ditutup melemah 0,82 persen ke level 6.318,50. Keesokan harinya, indeks kembali turun dan berakhir di level 6.094 atau melemah sekitar 3,54 persen. Pergerakan itu kemudian diikuti pemantulan pada perdagangan berikutnya.

Meski sempat tertekan, IHSG menunjukkan tanda pemulihan pada sesi perdagangan terbaru. Airlangga menyebut indeks kembali bertengger di zona hijau pada pagi hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memiliki ruang untuk stabil kembali. Ia berharap pelaku pasar dapat melihat koreksi sebagai dinamika biasa, bukan sebagai kepanikan yang berlebihan.

DSI dan Respons Pengusaha

PT Danantara Sumberdaya Indonesia pertama kali diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR RI. Badan ini bertugas mengelola ekspor komoditas strategis agar tata kelolanya lebih terarah. Pemerintah menempatkannya sebagai bagian dari penguatan koordinasi sektor sumber daya alam. Namun, kehadirannya sempat dikaitkan dengan pelemahan pasar saham oleh sebagian pelaku pasar.

Airlangga menolak kaitan tersebut dan menilai persepsi itu tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan sosialisasi kepada para pelaku usaha. Setelah penjelasan diberikan, respons yang diterima cenderung positif. Menurutnya, para pengusaha memahami arah kebijakan yang sedang dibangun pemerintah.

Ia mengatakan hampir seluruh asosiasi, baik dari dalam maupun luar negeri, mengapresiasi langkah pemerintah. Para pelaku usaha juga disebut siap bekerja sama dengan badan yang dibentuk pemerintah tersebut. Dukungan itu, kata Airlangga, menjadi sinyal bahwa kebijakan baru tidak dipandang sebagai hambatan. Sebaliknya, DSI dinilai bisa menjadi instrumen yang memperkuat pengelolaan ekspor komoditas strategis.

Airlangga menambahkan, komunikasi dengan dunia usaha akan terus dijaga agar tidak menimbulkan salah persepsi. Pemerintah, menurutnya, berkepentingan menjaga kepercayaan pasar agar iklim investasi tetap kondusif. Karena itu, setiap kebijakan baru akan dijelaskan secara terbuka kepada asosiasi. Langkah ini diharapkan dapat meredam spekulasi yang berlebihan di pasar saham.

Tekanan Global ke Saham

Di tengah sorotan terhadap kebijakan domestik, pasar saham Indonesia juga menghadapi tekanan dari faktor eksternal. Rebalancing MSCI menjadi salah satu pemicu utama perubahan arus dana pada emiten tertentu. Saat indeks global menyesuaikan bobot, investor institusi biasanya ikut melakukan penataan portofolio. Kondisi ini dapat memicu volatilitas yang cukup tajam dalam waktu singkat.

Airlangga menilai gejolak tersebut bukan hal baru di pasar modal. Koreksi harga saham sering terjadi ketika pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kondisi global. Selain itu, sentimen eksternal seperti kebijakan moneter internasional juga turut memengaruhi arah perdagangan. Dalam situasi seperti ini, pergerakan indeks cenderung lebih sensitif terhadap kabar dari luar negeri.

Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG sempat mencatat tekanan yang cukup besar. Indeks ditutup di level 6.094 atau turun sekitar 233 poin. Penurunan itu setara dengan pelemahan 3,54 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Aksi jual yang terjadi memperlihatkan betapa cepatnya respons pasar terhadap berita dan sentimen yang berkembang.

Meski demikian, pelemahan tersebut tidak berlangsung terus-menerus. Pada sesi perdagangan berikutnya, indeks kembali bergerak naik dan menguat sekitar 1,1 persen. Kenaikan ini memberi sinyal bahwa pasar mulai menyerap tekanan yang muncul sebelumnya. Bagi pemerintah, pemulihan itu menjadi tanda bahwa kepercayaan investor masih terjaga.

Pemulihan IHSG Berlanjut

Penguatan IHSG pada perdagangan terbaru menjadi perhatian pelaku pasar setelah dua hari sebelumnya indeks berada di bawah tekanan. Airlangga menyebut pemulihan itu sebagai bukti bahwa pasar masih memiliki daya tahan. Ia menegaskan, koreksi yang terjadi tidak perlu dibesar-besarkan. Pasar saham, menurutnya, memang bergerak naik turun mengikuti banyak faktor sekaligus.

Pemerintah berharap sentimen positif dapat terus menguat seiring komunikasi kebijakan yang semakin jelas. Transparansi mengenai DSI dan pengelolaan ekspor komoditas strategis dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor. Dengan penjelasan yang terbuka, pelaku pasar diharapkan dapat menilai kebijakan berdasarkan substansi. Hal ini penting agar pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi rumor.

Airlangga juga menekankan bahwa dukungan pengusaha menjadi modal penting bagi stabilitas ekonomi. Ketika asosiasi bisnis memahami arah kebijakan, peluang kerja sama dapat terbuka lebih luas. Kondisi tersebut berpotensi memberi kepastian lebih besar bagi pasar modal. Dalam jangka menengah, kepastian kebijakan biasanya membantu meredam volatilitas berlebihan.

Dengan IHSG yang kembali menguat, pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan pemerintah dalam menjaga momentum. Sentimen global tetap menjadi variabel utama yang harus dicermati. Namun, respons positif dari dunia usaha memberi ruang optimisme baru. Jika komunikasi kebijakan tetap konsisten, pasar berpeluang bergerak lebih stabil dalam beberapa waktu ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!