Rupiah Terancam Tembus Rp18.000, Ini Pemicunya

Forex & Saham Gilang Nabaris 31 Mei 2026 23:08 WIB 2
Rupiah Terancam Tembus Rp18.000, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan melanjutkan tren pelemahan pada pekan depan. Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai mata uang Garuda berpeluang menembus level Rp18.000 per dolar AS, bahkan menuju Rp18.200 jika tekanan pasar tidak mereda.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah bukan hanya dipicu faktor teknikal atau kebijakan moneter Bank Indonesia, melainkan persoalan struktural yang membebani ekonomi nasional. Tekanan itu datang dari kebutuhan dolar untuk impor energi, pembayaran dividen asing, hingga sentimen negatif atas kebijakan pemerintah yang dinilai memicu ketidakpastian.

Tekanan Rupiah Makin Kuat

Ibrahim menilai rupiah sudah berada di dekat level psikologis penting yang bisa memicu pelemahan lanjutan. Ia menyebut Rp18.000 per dolar AS kini menjadi batas yang semakin dekat untuk ditembus. Jika level itu berhasil dilewati, pasar dinilai berisiko membawa rupiah bergerak lebih lemah lagi.

Dalam pandangannya, tekanan yang terjadi tidak berdiri sendiri, tetapi berlapis dari sisi fundamental ekonomi. Defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi menjadi salah satu faktor utama. Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar di dalam negeri terus meningkat.

Ia juga menyoroti harga minyak dunia yang lebih tinggi dari asumsi APBN, sehingga menambah beban fiskal pemerintah. Saat harga minyak bergerak di atas US$90 per barel, sementara asumsi anggaran berada di kisaran US$70, kebutuhan devisa untuk impor makin besar. Hal ini mempersempit ruang bagi rupiah untuk menguat.

Impor Energi Menambah Beban

Menurut Ibrahim, impor minyak mentah menjadi sumber tekanan yang signifikan karena sebagian besar hasilnya berhubungan dengan subsidi. Ia menyebut sekitar 85 persen dari impor tersebut berdampak pada beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Akibatnya, permintaan dolar di pasar domestik kian tinggi.

Situasi ini dinilai memperburuk kondisi neraca eksternal Indonesia dalam jangka pendek. Ketika kebutuhan valuta asing terus meningkat, sementara pasokan tidak bertambah seimbang, rupiah akan lebih mudah tertekan. Mekanisme pasar kemudian mendorong pelemahan mata uang Garuda secara berkelanjutan.

Di sisi lain, tekanan impor energi juga menimbulkan efek berantai terhadap persepsi pelaku pasar. Investor cenderung melihat adanya risiko fiskal yang lebih besar ketika biaya energi melonjak. Dalam kondisi seperti itu, minat terhadap aset berdenominasi rupiah bisa ikut melemah.

Dividen Asing Picu Permintaan Dolar

Selain impor energi, Ibrahim menilai pembayaran dividen oleh perusahaan asing di Indonesia turut menyerap banyak dolar. Saat perusahaan-perusahaan tercatat membagikan keuntungan kepada investor asing, permintaan valuta asing di dalam negeri otomatis meningkat. Kondisi tersebut membuat tekanan pada rupiah semakin besar.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan dolar untuk dividen sering muncul pada periode tertentu dan dapat memicu kegaduhan di pasar. Dalam situasi pasokan dolar yang terbatas, kebutuhan tambahan dari korporasi asing akan mempersempit ruang stabilisasi rupiah. Karena itu, pelemahan mata uang nasional menjadi lebih mudah terjadi.

Faktor ini juga memperlihatkan betapa kuatnya ketergantungan pasar domestik terhadap aliran dolar. Selama permintaan dari sektor korporasi dan impor belum seimbang dengan penerimaan devisa, rupiah akan rentan. Tekanan itu dinilai bisa terus berlanjut dalam jangka pendek.

Sentimen Kebijakan dan Emas

Bhima Yudhistira dari CELIOS menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen negatif investor terhadap kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI yang dinilai memunculkan ketidakpastian baru. Menurutnya, pasar membaca perubahan kebijakan yang terlalu cepat sebagai sinyal risiko.

Bhima menyebut kebijakan tersebut memang memiliki tujuan positif, terutama untuk menekan praktik transfer pricing dan under invoicing. Namun, karena diumumkan tanpa sosialisasi yang memadai, kebijakan itu justru memunculkan keraguan di kalangan pelaku usaha. Situasi ini berpotensi menahan minat investasi di Indonesia.

Ia juga menyoroti kekhawatiran terhadap defisit APBN yang berpotensi melebar karena beban subsidi energi dan program-program pemerintah yang dinilai besar. Dalam pandangannya, pasar akan mencermati apakah kebijakan fiskal mampu menjaga stabilitas ekonomi. Bila persepsi negatif terus mendominasi, rupiah berisiko bergerak lebih lemah hingga ke area Rp19.000 per dolar AS.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!