Keripik Singkong Difabel Sukabumi Tembus Pasar Brunei

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 04:47 WIB 6
Keripik Singkong Difabel Sukabumi Tembus Pasar Brunei

Produk camilan singkong buatan tangan dari pelaku usaha difabel asal Sukabumi resmi menembus pasar luar negeri melalui ekspor perdana ke Brunei Darussalam. Pengiriman produk keripik singkong Yammy Babeh milik PT Gemilang Agro Inovasi itu bernilai USD 18.000 atau sekitar Rp 288 juta untuk satu kontainer 20 kaki.

Ekspor perdana tersebut dilepas secara simbolis di Gedung Juang 45 Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa, dengan dihadiri Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, serta Bupati Sukabumi Ayep Zaki. Keberhasilan ini menjadi sorotan karena usaha tersebut dirintis oleh Ade Soelistyowati, penyandang disabilitas tuna rungu, yang kini menapaki pasar global bersama mitra asal Brunei, SP Setia SDN BHD.

Ekspor UMKM Sukabumi

Ekspor perdana Yammy Babeh menjadi tonggak penting bagi PT Gemilang Agro Inovasi dalam memperluas pasar. Produk berbahan dasar singkong lokal itu diolah secara higienis dan dikemas modern agar memenuhi standar internasional.

Ade Soelistyowati menyampaikan bahwa pencapaian ini lahir dari komitmen untuk membuktikan keterbatasan bukan penghalang. Ia menegaskan bahwa dukungan berbagai pihak membuat produk lokal memiliki peluang besar untuk naik kelas.

Selain keripik singkong, Ade juga mengembangkan produk turunan mangrove berupa kapsul, teh, dan bubuk. Produk-produk tersebut disebut mulai dipasarkan ke Korea Selatan, seiring upaya memperluas jangkauan usaha.

Dukungan Pemerintah dan Swasta

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengapresiasi capaian tersebut sebagai bukti kuatnya daya saing pelaku usaha mikro. Menurut dia, kolaborasi pemerintah, BUMN, dan sektor swasta menjadi kunci dalam memperkuat UMKM.

Maman juga menegaskan bahwa pemerintah akan memprioritaskan pelaku usaha disabilitas untuk memperoleh pembinaan, pelatihan, dan penguatan. Arahan itu disebut sejalan dengan dorongan Presiden Prabowo agar pelaku usaha difabel semakin berdaya saing di pasar global.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, turut menilai ekspor Yammy Babeh sejalan dengan upaya mendorong wirausaha lokal. Ia menyebut keberhasilan UMKM binaan menunjukkan semangat inklusivitas, inovasi, dan keberlanjutan dapat berjalan bersama.

Usaha Keluarga yang Bertahan

Usaha ini dijalankan Ade bersama suaminya yang tengah berjuang melawan penyakit stroke. Meski menghadapi keterbatasan, keduanya tetap mempertahankan usaha sambil membuka peluang kerja bagi warga sekitar.

Saat ini, PT Gemilang Agro Inovasi mempekerjakan 10 karyawan tetap dan 25 siswa magang dari SMA Hassina Sukabumi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan usaha turut memberi dampak sosial di lingkungan sekitar.

Ade menilai keberhasilan ekspor ini menjadi dorongan moral bagi dirinya dan keluarga. Ia berharap kerja keras yang dijalankan dapat menjadi bukti bahwa produk lokal mampu bersaing di pasar dunia.

Jejak Ekspor Berkelanjutan

Pertamina menyebut hingga Oktober 2025 sudah ada delapan UMKM yang berhasil menembus pasar ekspor secara berkelanjutan. Capaian itu menjadi bagian dari strategi memperkuat nilai tambah produk lokal di berbagai negara tujuan.

Fadjar menjelaskan bahwa sejak awal 2025, Pertamina telah mengantarkan delapan UMKM binaan melakukan ekspor berkelanjutan. Program tersebut dinilai memberi dampak ekonomi sekaligus memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat.

Dengan capaian ekspor ke Brunei, Yammy Babeh kini masuk jajaran UMKM yang membuktikan produk lokal bisa naik kelas. Keberhasilan ini juga mempertegas pentingnya pendampingan agar usaha kecil memiliki akses ke pasar internasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!