Kementan-Kadin Klarifikasi Investasi China di Peternakan Ayam

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 13 Mei 2026 06:20 WIB 8
Kementan-Kadin Klarifikasi Investasi China di Peternakan Ayam

Jakarta – Kementerian Pertanian menjelaskan langkah terkait investor asal China yang disebut ingin menanam modal di industri peternakan ayam petelur nasional. Pertemuan antara Kementan dan Kadin Indonesia hari ini membahas rencana investasi sekitar Rp 1,4 triliun untuk rantai hulu, termasuk breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur. Pertemuan berlangsung di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Kementerian menegaskan pemerintah tetap memprioritaskan peternak rakyat dalam pengembangan industri perunggasan nasional. Investasi yang mungkin masuk harus membawa manfaat nyata bagi peternak domestik, memperkuat produksi nasional, serta menciptakan lapangan kerja dan menjaga ketahanan pangan. Pemerintah menekankan bahwa pembangunan subsektor harus terukur melalui kemitraan nasional yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, dan BUMN bidang pangan.

Investasi China Peternakan

Agung Suganda, Direktur Jenderal PKH Kementan, menekankan bahwa pertemuan hari ini fokus pada klarifikasi atas berita terkait investasi China. Ia mengatakan pemerintah akan menilai rencana tersebut melalui kemitraan nasional. Penekanan utama adalah agar manfaat investasi dirasakan peternak rakyat.

Agung menegaskan investasi perunggasan harus memperkuat rantai pasok nasional dari hulu hingga hilir. Pemerintah membuka ruang investasi, namun tetap memprioritaskan kepentingan peternak dalam negeri. Model kemitraan melibatkan pelaku lokal, peternak rakyat, koperasi, serta BUMN sektor pangan.

Agung menambahkan bahwa rencana tersebut harus menyehatkan industri secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan industri harus sejalan dengan ketahanan pangan nasional. Pembangunan subsektor akan dilakukan dengan penguatan kemitraan nasional.

Cecep M Wahyudin menilai pemberitaan saat ini terlalu dini dan jauh dari kenyataan lapangan. Ia menjelaskan posisi Kadin sebagai pintu masuk investor dan pelaku usaha. Rencana investasi masih tahap sosialisasi dan belum ada langkah konkret.

Menurut Cecep, rencana tersebut masih berada pada tahap sosialisasi dan belum ada langkah teknis yang direncanakan. Ia menegaskan Kadin sebagai penghubung antara investor dan pelaku usaha di lapangan. Kadin memahami permintaan dan penawaran di pasar, namun realitas di lapangan tetap menjadi acuan.

Ia menjelaskan contoh kunjungan kerja ke Singapura untuk menjajaki ekspor telur. Selama ini Singapura mengimpor telur dari Malaysia dan beberapa negara Asia lainnya. Kadin bersama Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi terus menggenjot upaya memperbesar peran peternak rakyat.

Sebelumnya, Kadin Indonesia bersama Kadin Provinsi Aceh menerima kunjungan The China Egg Industry Chain Business Delegation pada 21 April 2026. Pertemuan tersebut membahas kerja sama bertajuk Strategic Orchestration of China's Agrotechnology Ecosystem for Strengthening the Supply Chain of MBG Sumatra Corridor. Rencana kerja sama menargetkan investasi sekitar Rp 1,4 triliun untuk pembangunan peternakan ayam petelur di Aceh, dengan menggandeng peternak mandiri/rakyat untuk membentuk ekosistem industri secara horizontal.

Cecep mengatakan pertemuan tersebut fokus pada investasi dan transfer teknologi di sektor ayam petelur, khususnya di Aceh. Ia memastikan perusahaan China yang melakukan audiensi tidak menjadi integrator vertikal dalam industri. Regulasi yang mengatur hal ini mencakup UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Kadin menjelaskan program ini mencakup transfer teknologi dan peningkatan efisiensi melalui konsep integrasi horizontal. Satgas Protein dibentuk melalui kerja sama antara Kementerian Koperasi, Kadin Indonesia, dan HKTI untuk memperkuat ketahanan pangan. Inisiatif ini diharapkan bisa direplikasi di daerah lain untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!