Industri satelit Indonesia dinilai memiliki prospek besar seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan yang luas. Peluang itu juga didorong pertumbuhan pasar Asia Pasifik yang terus melaju. Namun, ruang ekspansi tersebut kini berhadapan dengan masuknya pemain global berteknologi maju. Kondisi ini membuat isu kedaulatan digital dan penguasaan infrastruktur menjadi semakin penting.
Layanan satelit orbit rendah atau LEO menawarkan koneksi cepat, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah bagi pengguna akhir. Kehadiran model bisnis ini tidak hanya mengubah ekspektasi pasar, tetapi juga menekan posisi operator domestik berbasis satelit orbit geostasioner. Di sisi lain, Asosiasi Satelit Indonesia menilai Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar. Pemerintah diminta memperkuat aturan agar data, spektrum, dan orbit tetap berada dalam kendali nasional.
Kedaulatan Satelit Nasional
Isu kedaulatan satelit menjadi sorotan karena layanan global dapat beroperasi tanpa banyak bergantung pada infrastruktur dalam negeri. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran atas aliran data yang berpotensi keluar dari yurisdiksi nasional. Selain itu, kontrol atas spektrum frekuensi dan slot orbit juga menjadi faktor strategis. Jika tidak diatur dengan baik, Indonesia bisa kehilangan posisi tawar di pasar satelit.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia, Rusdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa perkembangan teknologi global tidak dapat dihentikan. Meski demikian, ia menilai Indonesia harus memiliki kendali atas data dan infrastruktur yang beroperasi di wilayahnya. Menurut dia, negara tidak boleh hanya menjadi konsumen layanan. Hal itu disampaikan dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Asosiasi Satelit Indonesia mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terhubung dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah itu dipandang penting untuk menjaga kedaulatan digital dan memastikan pengawasan nasional tetap berjalan. Kebijakan tersebut juga dinilai dapat memperkecil risiko kebocoran data strategis. Dalam konteks persaingan global, pengaturan yang tegas menjadi kebutuhan mendesak.
Tekanan Dari Pemain Global
Kehadiran operator global dengan teknologi LEO menghadirkan tantangan baru bagi industri satelit domestik. Mereka menawarkan layanan yang lebih cepat, efisien, dan langsung menyasar pengguna akhir. Keunggulan tersebut membuat ekspektasi pasar bergeser dengan cepat. Operator lokal pun dituntut beradaptasi agar tidak kehilangan pangsa pasar.
Masalah lain muncul pada perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit di tingkat internasional. Negara atau operator yang lebih dulu mengamankan sumber daya itu akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar. Karena itu, pengelolaan spektrum tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kebijakan yang selaras dengan kepentingan nasional dan persaingan global.
ASSI menilai pemerintah perlu memastikan adanya level playing field antara operator lokal dan global. Kesetaraan tersebut mencakup biaya spektrum, kewajiban operasional, dan kepatuhan terhadap aturan nasional. Tanpa perlakuan yang adil, operator domestik akan semakin tertekan. Dalam jangka panjang, kondisi itu berpotensi melemahkan industri satelit nasional.
Penguatan Kapasitas Nasional
Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi awal dalam pengembangan teknologi satelit. Badan Riset dan Inovasi Nasional telah ikut mendorong riset dan inovasi di bidang ini. Selain itu, operator domestik juga telah menjalankan layanan satelit untuk kebutuhan masyarakat. Modal awal ini dinilai penting sebagai pijakan menuju kemandirian yang lebih besar.
Meski demikian, kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. Salah satu kebutuhan yang mengemuka adalah fasilitas peluncuran di dalam negeri. Kehadiran infrastruktur tersebut akan memperkuat rantai pasok nasional. Dengan begitu, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar.
Penguatan kapasitas nasional juga penting untuk mendukung ekosistem industri yang berkelanjutan. Jika kemampuan teknis, regulasi, dan infrastrukturnya berkembang bersama, daya saing domestik akan meningkat. Pemerintah, industri, dan lembaga riset perlu bergerak dalam satu arah. Tanpa itu, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan teknologi satelit.
Menuju Era Terkoneksi
Tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial atau NTN menuju era 6G membuat satelit semakin relevan. Teknologi ini akan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem telekomunikasi nasional. Kebutuhan konektivitas yang merata di seluruh wilayah Indonesia juga akan semakin besar. Karena itu, satelit dipandang sebagai infrastruktur strategis masa depan.
ASSI menilai pemerintah perlu segera menyiapkan kebijakan yang menyesuaikan arah perkembangan tersebut. Orkestrasi nasional dibutuhkan agar konstelasi satelit tidak saling berbenturan dalam penggunaan frekuensi dan orbit. Koordinasi yang lemah dapat menimbulkan kerugian bagi operator dalam negeri. Sebaliknya, tata kelola yang rapi akan memperkuat posisi Indonesia di mata investor dan mitra global.
Rusdianto menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem nasional. Ia mengingatkan, tanpa langkah nyata, Indonesia hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri. Karena itu, kebijakan yang adil, kapasitas teknologi yang kuat, dan pengawasan data yang tegas menjadi kunci. Dengan strategi tersebut, industri satelit nasional memiliki peluang untuk tumbuh lebih berdaulat.
