Kainnesia Dorong UMKM Tenun Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 02 Juni 2026 11:27 WIB 2
Kainnesia Dorong UMKM Tenun Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kian mendapat tempat di pasar luar negeri, salah satunya lewat pesanan sarung tenun senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta dari Malaysia. Pesanan tersebut menjadi capaian penting bagi Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, yang berhasil mempertemukan ratusan penenun dari berbagai daerah dengan pasar internasional.

Keberhasilan itu tidak hanya memperluas penjualan, tetapi juga mendorong penyerapan tenaga kerja di jaringan UMKM binaan Kainnesia. Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyebut program Pertapreneur Aggregator memberi dampak yang meluas bagi usaha kecil yang mereka dampingi.

UMKM Tenun Menembus Pasar

Kainnesia berhasil membawa produk tenun nusantara tampil di pasar yang lebih luas melalui jaringan pemasaran yang terarah. Salah satu pencapaian yang menonjol datang dari pemesanan sarung tenun oleh buyer asal Malaysia.

Nilai pesanan itu mencapai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta, sehingga menjadi bukti bahwa produk UMKM Indonesia memiliki daya saing. Capaian tersebut juga menunjukkan bahwa produk berbasis budaya bisa masuk ke pasar ekspor jika dikelola dengan strategi yang tepat.

Nur Salam menilai keberhasilan ini tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses pembinaan yang konsisten. Ia menegaskan bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar tetap relevan.

Menurutnya, minat pasar luar negeri menjadi sinyal positif bagi pelaku UMKM yang ingin naik kelas. Dengan kualitas yang terjaga, tenun Indonesia berpeluang menjadi produk unggulan yang berkelanjutan.

Dampak Ekonomi Bagi Penenun

Program Pertapreneur Aggregator memberi efek langsung pada pertumbuhan usaha Kainnesia dan para mitranya. Saat ini, 37 UMKM binaan yang tergabung dalam jaringan tersebut melibatkan lebih dari 400 tenaga kerja.

Jumlah itu mencerminkan bahwa penguatan ekosistem UMKM dapat menciptakan manfaat yang luas. Pertumbuhan bisnis tidak berhenti pada perusahaan inti, tetapi juga menjalar ke para penenun dan pelaku usaha pendukung.

Nur Salam menyampaikan bahwa pengembangan usaha yang berkelanjutan menjadi tujuan utama dari kolaborasi ini. Ia menilai keberhasilan Kainnesia adalah hasil dari kerja bersama seluruh mitra dalam rantai produksi.

Dengan model seperti ini, UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki peluang berkembang lebih cepat. Dampaknya terasa pada pendapatan, kesempatan kerja, dan penguatan ekonomi lokal di daerah.

Peluang Dari Pameran

Produk Kainnesia juga tampil dalam sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Selain itu, partisipasi di Jogja Fashion Week 2025 dan Inacraft 2025 membuka ruang promosi yang lebih luas.

Dari berbagai pameran tersebut, Kainnesia mendapat kesempatan bertemu dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Pertemuan itu memperbesar peluang kerja sama komersial dan memperkuat akses pasar bagi produk tenun Indonesia.

Keikutsertaan dalam pameran menjadi salah satu jalur efektif untuk memperkenalkan kualitas produk kepada pasar global. Bagi UMKM, ajang seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai etalase, tetapi juga sebagai pintu masuk menuju kontrak bisnis baru.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa promosi yang tepat dapat mengubah produk lokal menjadi komoditas bernilai ekspor. Dalam konteks ini, tenun Indonesia tampil sebagai produk budaya yang memiliki potensi ekonomi tinggi.

Pertapreneur Dorong Naik Kelas

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut kehadiran Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Program ini dirancang untuk mendorong UMKM agar lebih siap bersaing di pasar yang lebih besar.

Sejak diluncurkan pada 2022, program tersebut telah melibatkan ratusan UMKM dari berbagai sektor. Para peserta memperoleh dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas untuk memperkuat skala usaha.

Rudi menegaskan bahwa semakin banyak UMKM aggregator, semakin banyak pula usaha kecil yang bisa naik kelas. Menurutnya, dampak yang dihasilkan tidak hanya berupa peningkatan omzet, tetapi juga penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah bagi ekonomi lokal.

Ia berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi penggerak ekonomi yang lebih besar di daerah. Dengan dukungan yang tepat, pelaku usaha kecil berpotensi menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!