Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Apa Itu Pola Makan Ini?

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 16:57 WIB 5
Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Apa Itu Pola Makan Ini?

Jungkook BTS mengungkapkan bahwa dirinya menjalani diet dengan pola makan satu kali sehari atau OMAD, dalam wawancara dengan Rolling Stone UK. Pengakuan itu memicu rasa penasaran publik, karena pola makan tersebut dikenal cukup ketat dan berbeda dari kebiasaan makan pada umumnya.

Dalam pernyataannya, personel termuda BTS itu juga mengatakan rutin berolahraga pada pagi dan sore hari. Diet OMAD sendiri kerap dikaitkan dengan upaya menurunkan berat badan, meski penerapannya tidak selalu cocok untuk semua orang.

Mengenal diet OMAD

Diet OMAD adalah singkatan dari One Meal A Day, yaitu pola makan yang membatasi asupan kalori hanya pada satu kali makan dalam sehari. Di luar waktu makan tersebut, pelaku diet biasanya menjalani puasa dengan tidak mengonsumsi makanan atau minuman berkalori. Pola ini termasuk dalam kategori puasa intermiten yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam praktiknya, waktu makan pada diet OMAD bisa dipilih sesuai preferensi pribadi, misalnya pagi, siang, atau malam. Namun, kebanyakan orang memilih satu waktu yang paling mudah dipertahankan dalam rutinitas harian. Durasi makan juga umumnya singkat, sekitar satu jam, agar periode puasa tetap konsisten.

Meski terlihat sederhana, OMAD menuntut kedisiplinan tinggi karena seluruh kebutuhan energi dan nutrisi harian harus dipenuhi dalam satu kali makan. Karena itu, pemilihan menu menjadi sangat penting agar tubuh tetap memperoleh protein, serat, vitamin, dan mineral yang cukup. Bila tidak direncanakan dengan baik, pola makan ini dapat membuat asupan gizi menjadi tidak seimbang.

Cara kerja dan tujuan OMAD

Prinsip utama diet OMAD adalah menciptakan defisit kalori, yaitu kondisi ketika kalori yang masuk lebih sedikit daripada yang dibakar tubuh. Saat defisit terjadi, tubuh akan menggunakan cadangan energi, termasuk lemak, sebagai sumber bahan bakar. Inilah alasan OMAD sering dipilih oleh orang yang ingin menurunkan berat badan.

Pada dasarnya, pembatasan waktu makan membuat seseorang cenderung mengonsumsi lebih sedikit kalori dibandingkan pola makan tiga kali sehari. Selain itu, sebagian orang merasa lebih mudah mengendalikan nafsu makan ketika hanya memiliki satu waktu makan utama. Namun, hasil yang diperoleh tetap bergantung pada kualitas makanan dan konsistensi pelaksanaannya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembatasan asupan dalam jangka waktu tertentu dapat membantu penurunan lemak tubuh. Salah satu studi yang dikutip dari Healthline menemukan bahwa pembatasan makan selama empat jam di malam hari memberi penurunan lemak yang lebih besar dibanding makan terpisah sepanjang hari. Meski demikian, hasil pada setiap orang bisa berbeda karena dipengaruhi kondisi tubuh, aktivitas, dan pola hidup.

Manfaat yang sering dicari

Salah satu alasan OMAD diminati adalah karena dianggap praktis dan membantu mengontrol porsi makan. Dengan hanya satu waktu makan, sebagian orang merasa lebih mudah menghindari camilan berlebihan sepanjang hari. Hal ini membuat total kalori harian lebih terkendali tanpa perlu menghitung secara rumit.

Selain penurunan berat badan, beberapa orang menjalani OMAD karena berharap mendapatkan manfaat kesehatan secara umum. Puasa intermiten disebut dapat membantu sebagian orang membentuk kebiasaan makan yang lebih teratur. Dalam jangka tertentu, pola ini juga dinilai mampu meningkatkan kesadaran terhadap jenis makanan yang dikonsumsi.

Meski begitu, manfaat OMAD tidak bisa dianggap sama bagi semua orang. Respons tubuh terhadap puasa dan pembatasan makan sangat dipengaruhi oleh usia, metabolisme, dan aktivitas harian. Karena itu, hasil yang dirasakan seseorang belum tentu identik dengan orang lain yang menjalani pola serupa.

Risiko dan perhatian penting

Di balik popularitasnya, diet OMAD juga memiliki risiko jika dijalankan tanpa perencanaan yang baik. Satu kali makan berpotensi membuat tubuh kekurangan energi, terutama bila aktivitas fisik cukup tinggi. Kondisi ini bisa memicu rasa lemas, sulit fokus, atau perubahan suasana hati pada sebagian orang.

Pola makan ekstrem juga dapat menyebabkan asupan protein dan serat menjadi tidak mencukupi. Jika berlangsung terus-menerus, tubuh berisiko kehilangan massa otot, bukan hanya lemak. Selain itu, orang dengan riwayat gangguan makan, diabetes, atau kondisi medis tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mencobanya.

OMAD tidak dapat dijadikan patokan universal untuk menurunkan berat badan secara cepat. Klaim bahwa diet ini bisa menurunkan beberapa kilogram dalam waktu singkat tetap harus dilihat secara hati-hati, karena hasilnya bergantung pada kondisi masing-masing individu. Pendekatan yang lebih aman tetap menekankan pola makan seimbang, olahraga teratur, dan pemantauan kesehatan yang konsisten.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!