Jungkook BTS mengungkapkan bahwa dirinya menjalani pola makan satu kali sehari atau OMAD, singkatan dari One Meal A Day. Pengakuan itu disampaikan dalam wawancara dengan Rolling Stone UK, saat ia menjelaskan rutinitas diet dan olahraganya yang dilakukan pagi serta sore hari. Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian publik karena datang dari salah satu anggota BTS yang memiliki pengaruh besar di dunia hiburan. Pola makan ini pun kembali menjadi sorotan karena diklaim dapat membantu menurunkan berat badan.
Dalam kesempatan itu, Jungkook mengatakan bahwa ia sangat menantikan waktu makan satu kali yang ia lakukan setiap hari. Ungkapan tersebut memunculkan rasa penasaran tentang apa sebenarnya diet OMAD, bagaimana cara kerjanya, serta apakah metode ini aman dijalankan. Di tengah meningkatnya minat terhadap pola hidup sehat, OMAD sering dibahas sebagai salah satu bentuk puasa intermiten. Meski terlihat sederhana, metode ini tetap memerlukan pemahaman yang tepat agar tidak berdampak buruk bagi tubuh.
Apa Itu OMAD
OMAD adalah pola makan yang membatasi asupan kalori hanya pada satu kali makan dalam sehari. Di luar waktu makan tersebut, seseorang berpuasa dan tidak mengonsumsi makanan atau minuman berkalori. Sebagian orang memilih makan malam sebagai satu-satunya waktu makan, sementara yang lain memilih sarapan atau makan siang. Durasi waktu makan biasanya singkat, sekitar satu jam.
Pola ini termasuk dalam kategori puasa intermiten, yaitu metode membatasi waktu makan dalam periode tertentu. Dalam praktiknya, OMAD membuat seseorang menghabiskan sebagian besar hari tanpa asupan kalori. Karena itu, tubuh akan berada lebih lama dalam kondisi puasa dibandingkan pola makan biasa. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa OMAD banyak dikaitkan dengan penurunan berat badan.
Meski tampak ekstrem, OMAD memiliki banyak variasi dalam penerapannya. Ada orang yang hanya makan sekali tanpa camilan, tetapi ada pula yang masih mengonsumsi satu atau dua camilan ringan. Namun, versi yang paling ketat tidak memperbolehkan asupan kalori sama sekali di luar waktu makan utama. Perbedaan ini membuat hasil dan dampaknya bisa bervariasi pada tiap individu.
Secara sederhana, OMAD bukan sekadar makan sedikit, melainkan mengatur waktu makan secara ketat. Karena durasi puasa yang panjang, pola ini menuntut disiplin tinggi dari pelakunya. Orang yang tertarik menjalankannya perlu memahami kebutuhan energi tubuh masing-masing. Tanpa perhitungan yang baik, metode ini bisa menjadi terlalu membebani.
Cara Kerja Diet
Prinsip utama OMAD adalah menciptakan defisit kalori melalui pembatasan waktu makan. Saat hanya makan sekali, jumlah kalori yang masuk cenderung lebih sedikit dibandingkan pola makan tiga kali sehari. Kondisi ini dapat memicu penurunan berat badan jika dijalankan secara konsisten. Namun, hasilnya tetap bergantung pada komposisi makanan yang dikonsumsi.
Dalam konteks puasa intermiten, tubuh memiliki jeda lebih panjang untuk mencerna makanan. Sebagian ahli menilai jeda ini dapat membantu tubuh menggunakan cadangan energi yang tersimpan. Meski demikian, setiap orang memiliki respons metabolisme yang berbeda terhadap pola makan tersebut. Karena itu, efek OMAD tidak selalu sama pada semua orang.
Penelitian yang dikutip dari Healthline menunjukkan bahwa pembatasan asupan kalori dalam jendela waktu tertentu dapat berdampak pada penurunan lemak tubuh. Studi tersebut dilakukan pada orang dewasa sehat yang makan dalam rentang empat jam di malam hari. Hasilnya menunjukkan hilangnya lemak tubuh yang lebih besar dibandingkan makan tiga kali terpisah sepanjang hari. Temuan ini kerap dijadikan dasar popularitas OMAD di kalangan pencari penurunan berat badan.
Walau begitu, penurunan berat badan tidak hanya ditentukan oleh jumlah waktu makan. Jenis makanan, kualitas nutrisi, dan kebiasaan olahraga juga memegang peran penting. Jungkook sendiri disebut rutin berolahraga dua kali sehari, yang kemungkinan turut mendukung pengendalian berat badan. Artinya, OMAD sering kali bekerja lebih baik bila dibarengi gaya hidup sehat secara menyeluruh.
Manfaat Yang Diklaim
Salah satu manfaat yang paling sering dikaitkan dengan OMAD adalah penurunan berat badan. Karena waktu makan dibatasi, banyak orang tanpa sadar mengurangi jumlah kalori harian mereka. Hal ini membuat tubuh lebih mudah berada dalam kondisi defisit kalori. Dalam jangka tertentu, defisit tersebut dapat berujung pada penurunan berat badan.
Selain itu, sebagian orang merasa pola ini lebih sederhana karena tidak perlu memikirkan banyak waktu makan. Bagi mereka, hanya ada satu momen makan yang perlu disiapkan setiap hari. Kondisi ini bisa mengurangi kebingungan saat memilih makanan. Namun, kesederhanaan tersebut tidak selalu cocok untuk semua orang.
OMAD juga sering dipandang sebagai metode yang membantu meningkatkan kontrol terhadap kebiasaan makan. Dengan jendela makan yang sempit, seseorang dapat lebih mudah membatasi makanan ringan berlebih. Beberapa orang menganggap hal ini membantu disiplin dan fokus terhadap target kesehatan. Meski demikian, manfaat tersebut tetap bergantung pada kedisiplinan dan kondisi tubuh masing-masing.
Di sisi lain, sejumlah orang mengaku merasa lebih ringan setelah menjalani puasa yang lebih panjang. Sensasi tersebut sering dikaitkan dengan berkurangnya asupan berlebih dan pola makan yang lebih teratur. Akan tetapi, klaim manfaat ini belum tentu muncul dengan cara yang sama pada setiap individu. Karena itu, OMAD sebaiknya tidak dipandang sebagai solusi instan.
Risiko Yang Perlu
Di balik popularitasnya, OMAD memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Makan hanya sekali sehari dapat membuat sebagian orang sulit memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Jika asupan protein, serat, vitamin, dan mineral tidak tercukupi, tubuh bisa kekurangan zat penting. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan.
Pola makan yang terlalu ketat juga dapat memicu rasa lapar berlebihan pada sebagian orang. Ketika waktu makan tiba, seseorang bisa makan terlalu banyak dalam satu kesempatan. Kebiasaan ini justru dapat membuat pola makan menjadi tidak seimbang. Pada akhirnya, tujuan penurunan berat badan bisa tidak tercapai secara optimal.
Selain itu, tidak semua orang cocok menjalani puasa panjang seperti OMAD. Mereka yang memiliki gangguan kesehatan tertentu, riwayat masalah pencernaan, atau kebutuhan energi tinggi perlu berhati-hati. Kondisi seperti itu dapat membuat pola makan sekali sehari menjadi kurang aman. Karena itu, penyesuaian dengan kondisi tubuh sangat penting sebelum mencobanya.
Para ahli umumnya menyarankan agar pola makan ekstrem dijalankan dengan pengawasan yang memadai. Pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menilai apakah metode ini sesuai. Jika timbul pusing, lemas, atau gangguan lain, pola tersebut perlu dievaluasi segera. Dengan pendekatan yang hati-hati, risiko dari OMAD bisa ditekan.
Siapa Yang Cocok
OMAD mungkin cocok bagi sebagian orang yang sudah terbiasa dengan puasa intermiten. Mereka biasanya memiliki kontrol makan yang baik dan memahami kebutuhan kalori tubuhnya. Selain itu, pelakunya perlu mampu menjaga kualitas makanan dalam satu kali makan utama. Tanpa perencanaan yang baik, metode ini bisa menjadi kurang efektif.
Pola ini juga cenderung lebih mudah dijalankan oleh orang dengan rutinitas yang stabil. Jadwal kerja, jam tidur, dan aktivitas harian yang teratur dapat membantu menjaga konsistensi. Sebaliknya, jadwal yang padat dan tidak menentu bisa membuat OMAD sulit dipertahankan. Karena itu, kecocokan gaya hidup menjadi faktor penting.
Bagi mereka yang ingin mencoba, keseimbangan tetap harus menjadi prioritas. Satu kali makan sebaiknya mengandung sumber protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta sayur dan buah. Asupan yang lengkap membantu tubuh tetap bertenaga meski hanya makan sekali. Dengan demikian, tujuan diet tidak mengorbankan kebutuhan gizi.
OMAD pada dasarnya bukan metode wajib untuk semua orang. Pola makan yang berhasil bagi satu individu belum tentu cocok bagi individu lain. Yang terpenting adalah memilih cara yang aman, realistis, dan berkelanjutan. Jika dijalankan dengan benar, penurunan berat badan dan kesehatan bisa lebih terjaga.
